SUARA USU
Buku

Membangun Ketekunan Melalui Buku “Grit: The Power of Passion and Perseverance”

Oleh: Jesika Yusnita Laoly

Suara USU, Medan. “Grit: The Power of Passion and Perseverance” merupakan sebuah buku yang ditulis oleh Angela Duckworth, seorang psikolog yang juga merupakan profesor di Universitas Pennsylvania. Buku ini adalah sebuah karya yang menginspirasi dan memotivasi para pembaca untuk menyadari betapa pentingnya passion dan kebahagiaan dalam kehidupan. Melalui buku ini, Duckworth membawa pembacanya untuk melihat perjalanan penelitiannya secara luas dan mendalam tentang apa yang membuat seseorang mencapai kesuksesan.

Konsep grit atau keteguhan hati yang dibahas dalam buku ini merupakan kombinasi antara gairah (passion) dan ketekunan (perseverance). Konsep tersebut didemonstrasikan melalui berbagai penelitian ilmiah dan studi kasus. Duckworth menunjukkan bahwa setiap individu yang memiliki tingkat grit yang tinggi cenderung lebih mampu bertahan dalam menghadapi tantangan, memperbaiki diri mereka setelah kegagalan, dan tetap fokus pada tujuan jangka panjang.

Duckworth menunjukkan bahwa bakat alami bukanlah satu-satunya faktor yang menentukan kesuksesan. Hal yang lebih penting adalah kemauan dan konsistensi seseorang untuk terus bekerja keras meskipun menghadapi rintangan atau bahkan kegagalan. Duckworth juga menekankan bahwa ketekunan bukanlah faktor bawaan, tetapi dapat dikembangkan melalui latihan, keyakinan, serta komitmen yang kuat terhadap tujuan.

Selain itu, buku ini membahas bagaimana kita dapat mengembangkan grit dalam diri sendiri dan orang lain. Duckworth menyoroti pentingnya membangun gairah yang kuat serta memotivasi diri terhadap tujuan. Tentu saja kita boleh menetapkan tujuan yang menantang, dengan mempraktikkan ketekunan dan kuat menghadapi segala rintangan. Maka, pada akhirnya tujuan yang dirasa sulit tetap bisa dicapai. Penulis juga menunjukkan bahwa lingkungan dan dukungan sosial dapat memainkan peran penting dalam membantu kita mengembangkan dan mempertahankan grit.

Menariknya, Duckworth juga menyajikan wawasan yang didukung oleh data dan penelitian ilmiah. Duckworth menyertakan studi kasus tentang beberapa individu yang mencapai kesuksesan melalui ketekunan dan tekad mereka. Ia memberikan contoh dari berbagai bidang kehidupan yang menunjukkan seseorang dengan grit yang tinggi sering kali lebih mampu mencapai tujuan jangka panjang dibandingkan seseorang yang hanya mengandalkan bakat alamiah semata. Dia juga memperkuat argumennya dengan penelitian ilmiah yang menunjukkan bahwa tingkat grit lebih baik dalam memprediksi kesuksesan daripada faktor-faktor seperti IQ atau kondisi ekonomi.

Secara keseluruhan, “Grit: The Power of Passion and Perseverance” merupakan buku yang sangat menginspirasi pembaca untuk mampu menggali potensi diri dan mencapai tujuan hidup melalui tekad dan ketekunan yang kuat. Isi dan pembagian setiap bab juga terstruktur dengan baik, mulai dari penjelasan umum tentang definisi grit, hingga penguraian secara khusus tentang bagaimana membangun grit di dalam kehidupan sehari-hari. Penekanan dan penyampaian narasi yang lugas, ramah, dan tepat juga menjadi salah satu kelebihan dari buku ini sehingga dapat dinikmati oleh pembaca dari berbagai latar belakang.

Namun, ternyata buku ini juga tidak lepas dari kritikan. Beberapa pembaca merasa bahwa konsep grit terlalu disederhanakan atau terlalu umum sehingga sulit untuk diterapkan dalam kehidupan nyata tanpa strategi yang lebih konkret. Sementara beberapa penelitian yang disajikan oleh Duckworth juga telah menjadi subjek perdebatan di antara para ilmuwan.

Meskipun demikian, buku “Grit: The Power of Passion and Perseverance” tetap menjadi bacaan yang bernilai bagi siapa pun yang tertarik untuk memahami lebih dalam tentang faktor-faktor penentu kesuksesan jangka panjang dan bagaimana mengembangkan sifat grit di dalam diri sendiri.  Jadi, untuk Sobat Suara USU yang ingin memperkuat mentalitas dan keterampilan untuk meraih kesuksesan di berbagai bidang kehidupan, buku ini sangat direkomendasikan untuk kalian baca.

Redaktur: Duwi Cahya

Related posts

Edisi Pertama Buletin Imahara, Partisipatoris!

redaksi

Ting!: Kehilangan Arah Bukan Akhir dari Segalanya

redaksi

Belajar Mengendalikan Amarah Melalui Buku Laa TaghDhab: Jangan Marah

redaksi