SUARA USU
Film

Menapaki Keindahan Budaya Dan Pesan Kemanusiaan Dalam Film “Raya and The Last Dragon”

Reporter : Alifah Salsabila

Suara USU, Medan. Film animasi Disney “Raya and The Last Dragon” telah mengguncang dunia industri dengan keindahan visualnya. Film ini dirilis pada tahun 2021 dan berhasil memikat penonton dari berbagai kalangan. Ditarik dari budaya Asia Tenggara,” Raya and The Last Dragon” dibuka dengan legenda Kumandra, sebuah kerajaan di dunia fiksi yang dibagi menjadi lima wilayah. Masing-masing dihuni oleh suku yang berbeda dan setiap wilayah memiliki ciri khasnya sendiri serta mewakili aspek yang berbeda dari keberagaman Kumandra.

Wilayah pusat dinamakan dengan Heart dan dikenal juga sebagai hati Kumandra. Heart melambangkan keberanian dan kekuatan. Wilayah kedua dijuluki dengan Fang yang melambangkan kekuatan dan keberanian, tetapi juga diartikan sebagai taringnya kerajaan Kumandra. Wilayah ketiga adalah Spine yang melambangkan kekokohan dan ketahanan, wilayah keempat yaitu Talon yang melambangkan kecerdikan dan kecermatan. Selanjutnya wilayah yang terakhir adalah wilayah Tail yang berarti ekornya kerajaan Kumandra, melambangkan kelincahan dan kebebasan.

Pada masa lalu, para suku diberbagai wilayah hidup berdampingan dengan harmonis. Dipimpin oleh naga-naga yang menjaga ketenangan dan kemakmuran. Namun, ambisi manusia menyebabkan konflik, memecah para naga menjadi batu dan membebaskan kekuatan jahat yang dikenal sebagai Druun berkeliaran menghabisi setiap jiwa di Kumandra. Kita diperkenalkan oleh pemeran utama bernama Raya, seorang putri pemberani dari suku Heart yang bertekad untuk menyelamatkan dunia Kumandra dari kegelapan Druun.

Raya telah dilatih seumur hidupnya untuk menjadi pejuang yang tangguh oleh ayahnya, Chief Benja, yang juga dipercayakan kepadanya sebuah batu yang berisi kekuatan naga. Peran Raya tidak hanya seputar ketangguhan dan mengandalkan kekuatan fisiknya, tetapi juga kebijaksanaan dan keberanian untuk menghadapi tantangan. Disamping Raya, karakter-karakter perempuan lainnya dalam film ini juga menampilkan kekuatan dan kecerdasan mereka yang membuktikan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam membangun dan melindungi masyarakat.

Mengikuti perjalanan Raya untuk menemukan naga terakhir yang diyakini dapat menyelamatkan dunia Kumandra dari kegelapan Druun yang mengancam. Setelah peristiwa hancurnya Kumandra dan hilangnya jiwa manusia yang diserap oleh kegelapan. Akhirnya, Raya mengetahui bahwa naga terakhir yang bernama Sisu masih hidup. Dia berangkat dalam pencarian selama bertahun-tahun hingga ia dewasa untuk menemukan Sisu. Melewati berbagai rintangan dan bertemu dengan berbagai karakter di sepanjang jalan termasuk Tuk-Tuk, sahabat sejatinya.

Selama pencariannya, Raya bertemu dengan Naamari seorang pejuang dari suku Fang yang memiliki niat baik tetapi juga memiliki agenda rahasia. Meskipun awalnya Raya dan Naamari berteman, ketegangan tumbuh di antara keduanya karena perbedaan pendekatan mereka terhadap penyelesaian konflik. Ketika Raya berhasil menemukan naga terakhir yaitu Sisu dan mereka telah mendekati tujuan untuk menyelamatkann Kumandra, mereka dihadapkan dengan penkhianatan yang menghancurkan batu naga. Hancurnya batu naga menyebabkan keputusasaan dan berencana untuk mengehentikan visi mereka yaitu menyelamatkan Kumandra.

Namun, dengan keberanian dan kepercayaan satu sama lain, Raya, Sisu dan teman-temannya berhasil mengatasi rintangan yang luar biasa mencekam. Dalam pertempuran terakhir, Raya dan teman-temannya juga berhasil mengalahkan Druun serta mengembalikan perdamaian kepada Kumandra. Peristiwa tersebut memperkuat pesan tentang pentingnya persatuan dan saling memaafkan dalam mengatasi konflik.

Dibalik keindahan visual dan alur filmnya yang menarik “Raya and The Last Dragon” juga mengandung pesan-pesan kemanusiaan yang mendalam. Film ini menekankan persatuan dan kerjasama dalam menghadapi tantangan. Meskipun suku-suku Kumandra terbagi, hanya dengan bersatu mereka dapat mengalahkan musuh bersama dan mendapatkan kembali kedamaian. Pesan tentang memaafkan dan memberikan kesempatan juga sangat kuat dalam film ini. Telah terjadinya penkhianatan dan konflik, karakter-karakter dalam film ini belajar untuk memaafkan satu sama lain dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan bersama.

Pentingnya keberanian dan ketabahan dalam menghadapi masalah juga disajikan dalam film ini. Terus maju meskipun menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan. Pesan terhadap pentingnya menjaga keseimbangan dan harmoni antara manusia dan alam juga tersirat dalam film ini. Ketika manusia melanggar alam dan saling berkonflik, dampaknya bisa sangat merusak seperti yang terjadi dengan pecahnya naga dan munculnya Druun. Hal lain yang membuat film “Raya and The Last Dragon” sangat menarik adalah representasinya yang kuat terhadap budaya Asia Tenggara. Dari desain karakter, simbol-simbol tradisional pada film ini sangat menampilkan keberagaman berbudaya.

Redaktur : Khalda Mahirah Panggabean

 

 


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Akiyoshi Rikako, Ratu Novel Misteri dari Jepang

redaksi

Little Forest, Comfort Movie untuk Rehat Sejenak

redaksi

The Glory Sajikan Aksi Balas Dendam Bagi Pelaku Perundungan

redaksi