Sumber: PinterestOleh: Rifatul Suaidah
Suara USU, Medan. Seberapa sering kamu bertemu dengan orang yang baru mengetahui sesuatu tapi merasa paling tahu? Orang-orang seperti ini cenderung mendominasi obrolan dan selalu ingin menunjukkan wawasannya yang luas. Fenomena “Si Paling Tahu” sering kali mewarnai dinamika interaksi mahasiswa di lingkungan kampus. Mereka gemar memamerkan “wawasan” yang sebenarnya dangkal dan mengabaikan pendapat orang lain yang lebih berpengalaman. Akibatnya, diskusi yang seharusnya menjadi ajang pertukaran ide yang konstruktif pun berubah menjadi panggung untuk memamerkan diri. Fenomena ini diperkuat oleh hasil penelitian Khalid (2016) yang menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung melebih-lebihkan kemampuan dan keterampilan mereka. Dalam psikologi, fenomena “Si Paling Tahu” ini lebih dikenal sebagai Dunning-Kruger Effect.
Lalu, apa sebenarnya Dunning-Kruger Effect itu? Dunning-Kruger Effect pertama kali diperkenalkan oleh psikolog David Dunning dan Justin Kruger dari Universitas Cornell pada tahun 1999. Mereka menggambarkan bagaimana seseorang keliru dalam menilai kemampuannya sendiri. Individu-individu ini merasa lebih pintar, lebih hebat, dan lebih superior daripada orang lain, padahal realitasnya tidak demikian. Hal ini diperkuat oleh penjelasan Kementerian Sosial (2022) yang menyatakan bahwa individu yang mengalami efek ini cenderung menganggap pendapat orang lain bodoh, tidak berdasar, dan sepenuhnya salah. Mereka yakin bahwa mereka adalah yang paling benar, dan orang lain tidak lebih pintar dari mereka. Dunning-Kruger Effect membuat seseorang dengan kemampuan rendah merasa sangat percaya diri dan meremehkan kemampuan orang lain, sehingga dapat berdampak negatif pada lingkungan sosial, akademik, dan profesional.
Dan ternyata fenomena ini tidak hanya terjadi di lingkungan kampus, tetapi juga muncul di berbagai aspek kehidupan. Di dunia kerja, misalnya, karyawan yang terlalu percaya diri sering kali membuat keputusan berisiko tanpa konsultasi, sehingga berpotensi merugikan perusahaan. Kesalahan strategi, pengambilan keputusan yang ceroboh, hingga kegagalan proyek adalah konsekuensi yang sering muncul akibat ketidakseimbangan antara kepercayaan diri dan kompetensi.
Di bidang kesehatan, dampaknya bisa lebih fatal. Misalnya, pada masa pandemi COVID-19, banyak individu menolak vaksin berdasarkan informasi keliru dari sumber tidak kredibel. Mereka memiliki keyakinan berlebih terhadap pengetahuan diri sendiri meskipun minim pemahaman medis, yang pada akhirnya mempercepat penyebaran penyakit dan menyebabkan hilangnya banyak nyawa. Fenomena ini menegaskan bahwa kepercayaan diri yang tidak didukung oleh kompetensi dapat berbahaya, bukan hanya bagi individu tersebut tetapi juga bagi masyarakat luas.
Dampak serupa juga terlihat di dunia politik. Fenomena buzzer politik menjadi contoh nyata bagaimana individu dengan pemahaman politik dangkal mampu membentuk opini publik melalui kepercayaan diri berlebih. Mereka menyebarkan narasi yang tidak akurat, memanipulasi informasi, dan menciptakan polarisasi sosial. Konsekuensi dari berbagai fenomena ini adalah penyebaran misinformasi yang masif, yang berujung pada pengambilan keputusan yang tidak rasional dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Maraknya Dunning-Kruger Effect dipengaruhi oleh beberapa faktor utama. Salah satunya adalah bias kognitif, di mana individu cenderung menilai dirinya sendiri secara berlebihan. Bias seperti “self-serving bias” membuat seseorang lebih mudah menyalahkan faktor eksternal atas kegagalannya dan mengambil kredit atas keberhasilannya. Sementara itu, “confirmation bias” mendorong seseorang hanya mencari dan mempercayai informasi yang mendukung pandangan mereka, tanpa mempertimbangkan perspektif lain yang mungkin lebih objektif.
Selain itu, lingkungan yang menolak kritik juga memperparah kondisi ini. Budaya yang mengutamakan perasaan positif dan menghindari konfrontasi menciptakan suasana di mana umpan balik yang jujur menjadi langka. Individu tidak mendapatkan koreksi yang diperlukan untuk memperbaiki pemahamannya, sehingga terus berada dalam ilusi superioritas. Faktor lain yang berperan adalah algoritma media sosial yang dirancang untuk menampilkan konten yang sejalan dengan preferensi dan keyakinan pengguna. Hal ini menciptakan “echo chamber”, di mana seseorang hanya terpapar informasi yang memperkuat pandangan mereka yang sudah ada, semakin mengukuhkan keyakinan mereka bahwa pendapatnya benar.
Dunning-Kruger Effect sering kali menjangkiti mereka yang berada di tahap awal pembelajaran, atau dalam istilah jurnal Leiwakabessy et al. (2023), tahap ignorant. Mereka seolah enggan untuk mendalami suatu bidang, merasa sudah cukup ahli padahal pemahaman mereka masih sangat dangkal. Fenomena ini dapat digambarkan melalui grafik Dunning-Kruger Effect. Pada tahap awal, kepercayaan diri melonjak drastis, mencapai “Puncak Kebodohan”. Seperti kata pepatah “Tong Kosong Nyaring Bunyinya”, mereka yang sedikit tahu justru paling vokal. Namun, seiring bertambahnya pengetahuan, mereka terperosok ke “Lembah Keputusasaan”, menyadari betapa luasnya jurang ketidaktahuan. Hanya mereka yang gigih yang mampu mendaki “Lereng Pencerahan”, hingga akhirnya mencapai “Dataran Pengetahuan”, di mana kepercayaan diri dan kompetensi berjalan seiring. Grafik ini secara visual menggambarkan perjalanan kognitif seseorang, dari keyakinan yang tidak berdasar hingga pemahaman yang lebih seimbang.
Untuk menghindari jebakan Dunning-Kruger Effect, seseorang perlu mengembangkan kebiasaan belajar yang berkelanjutan. Kesadaran bahwa pengetahuan itu luas dan terus berkembang dapat menjadi langkah awal dalam mengatasi ilusi superioritas. Bahkan para ahli pun terus memperdalam ilmunya. Seperti kata Socrates: “Satu-satunya hal yang saya tahu adalah bahwa saya tidak tahu apa-apa.” Selain itu, penting untuk terbuka terhadap kritik dan umpan balik dari orang yang lebih berpengalaman. Kritik bukanlah serangan pribadi, melainkan peluang untuk berkembang.
Keterampilan metakognitif juga perlu dilatih, yaitu kemampuan untuk merefleksikan proses berpikir sendiri. Seseorang perlu mempertanyakan sejauh mana pemahamannya, dari mana sumber informasinya, serta apakah ada perspektif lain yang belum dipertimbangkan. Lebih jauh, membiasakan diri untuk melakukan riset mendalam dan mencari sumber informasi yang kredibel dapat membantu seseorang membangun pemahaman yang lebih objektif.
Sebagai generasi penerus bangsa, kita memiliki tanggung jawab untuk menghindari Dunning-Kruger Effect melalui sikap proaktif dalam pengembangan diri. Hal ini dapat dilakukan dengan terus belajar tanpa merasa tahu segalanya, secara berkala meminta evaluasi dan masukan dari orang lain untuk memahami kemampuan yang sebenarnya, serta mencari informasi dari berbagai perspektif. Dengan demikian, kita dapat mengembangkan pola pikir kritis, terbuka, dan rendah hati yang memungkinkan kita tumbuh secara intelektual dan personal. Jika kita mampu membangun kesadaran diri dan terus mengasah kompetensi, maka kita tidak hanya terhindar dari ilusi superioritas, tetapi juga mampu memberikan kontribusi yang lebih berarti bagi masyarakat.
Redaktur: Jesika Yusnita Laoly
Leave a comment