Home Opini Nutri Level di Indonesia, Solusi Gizi atau Sekadar Gimik
Opini

Nutri Level di Indonesia, Solusi Gizi atau Sekadar Gimik

Share
Ilustrator: Aliza Darma

Oleh: Beby Cahya

Suara USU, Medan. Nutri Level diperkenalkan sebagai sistem penilaian gizi pada kemasan produk pangan olahan untuk membantu konsumen dalam memilih makanan yang lebih sehat. Dengan skema warna atau huruf yang menilai kualitas gizi suatu produk, sistem ini diklaim sebagai solusi dalam meningkatkan kesadaran gizi masyarakat dan mengurangi risiko penyakit tidak menular (PTM). Namun, apakah Nutri Level benar-benar efektif dalam mencapai tujuannya, atau hanya menjadi alat pemasaran yang dapat dimanipulasi oleh produsen?

Nutri Level merupakan sistem pelabelan yang dirancang untuk memberikan informasi mengenai kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) pada produk pangan olahan dan siap saji. Tujuan utamanya adalah menyederhanakan informasi gizi agar lebih mudah dipahami oleh konsumen. Sistem ini terbagi atas empat tingkatan, yakni Level A, B, C, dan D. Level A menunjukkan produk dengan kandungan GGL paling rendah, sementara Level D menunjukkan kandungan GGL paling tinggi. Dengan adanya pengkategorian ini, konsumen diharapkan dapat dengan mudah mengidentifikasi produk yang sesuai dengan kebutuhan gizi mereka.

Menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), kebijakan ini merupakan bagian dari strategi nasional dalam menekan angka PTM seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas, yang semakin meningkat di Indonesia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi obesitas pada orang dewasa di Indonesia mencapai 35,4%, meningkat dari 28,9% pada 2013. Fakta ini menunjukkan urgensi sistem pelabelan gizi yang lebih transparan dan mudah dipahami. Dengan memberikan gambaran singkat mengenai kadar gizi suatu produk, diharapkan masyarakat semakin sadar akan pola konsumsi harian mereka.

Selain membantu konsumen, Nutri Level juga bertujuan mendorong produsen menciptakan produk yang lebih sehat. Dengan adanya sistem tingkatan ini, produk dengan kualitas gizi lebih baik akan lebih mudah dikenali dan lebih diminati konsumen. Dalam jangka panjang, produsen mungkin terdorong untuk mengurangi kadar gula, garam, dan lemak berlebih dalam produk mereka demi mendapatkan peringkat Nutri Level yang lebih baik. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada seberapa besar kesadaran konsumen dalam memahami label ini.

Meskipun memiliki tujuan baik, keberhasilan Nutri Level bergantung pada tingkat pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap label gizi. Studi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menunjukkan bahwa 88,9% konsumen di Indonesia tidak membaca label informasi gizi sebelum membeli produk. Artinya, meskipun Nutri Level diterapkan, jika kebiasaan membaca label tidak meningkat, dampaknya terhadap pola konsumsi masyarakat akan tetap minim.

Salah satu tantangan terbesar dalam penerapan Nutri Level adalah kemungkinan manipulasi oleh industri pangan. Produsen memiliki insentif besar untuk memastikan produk mereka mendapat peringkat lebih baik demi menarik lebih banyak konsumen. Tanpa regulasi ketat, produsen dapat “mengakali” sistem ini dengan menyesuaikan komposisi produk tanpa benar-benar meningkatkan nilai gizinya.

Sebagai contoh, sebuah produk dapat diberi label “rendah lemak” untuk menarik konsumen yang ingin mengurangi asupan lemak. Namun, dalam prosesnya, produsen bisa saja menambahkan lebih banyak gula guna mempertahankan rasa yang disukai konsumen. Strategi serupa pernah terjadi di beberapa negara yang menerapkan sistem pelabelan gizi, di mana produsen mengganti kandungan lemak dengan karbohidrat sederhana yang tetap berdampak buruk bagi kesehatan.

Selain itu, produsen juga dapat menggunakan istilah yang membingungkan di kemasan guna menyamarkan kandungan sebenarnya. Misalnya, penggunaan frasa seperti “tanpa tambahan gula” bisa menyesatkan konsumen, karena produk tersebut mungkin masih mengandung pemanis alami dalam jumlah tinggi. Jika tidak ada mekanisme pengawasan yang ketat, Nutri Level bisa menjadi alat branding semata tanpa dampak nyata terhadap kesehatan masyarakat.

Sistem Nutri Level sebenarnya sudah diterapka diberbagai negara dengan hasil yang bervariasi. Singapura, misalnya, menggunakan Nutri-Grade pada minuman kemasan. Hasil studi di sana menunjukkan bahwa kebijakan ini memang meningkatkan kesadaran masyarakat akan kandungan gula dalam minuman dan mendorong pergeseran ke produk yang lebih sehat.

Namun, studi tersebut juga mengungkapkan bahwa dampaknya lebih signifikan pada kelompok masyarakat yang sudah memiliki kesadaran tinggi terhadap pola makan sehat, sementara kelompok lainnya tetap memilih produk tinggi gula meskipun label peringatannya jelas. Meskipun memastikan produsen tidak memanipulasi sistem demi kepentingan bisnis mereka masih menjadi tantangan. Indonesia harus belajar dari pengalaman negara yang telah berhasil menerapkan sistem Nutri Level dan dapat lebih bijak dalam mengimplementasikan Nutri Level agar benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Karena Nutri Level berpotensi menjadi alat yang efektif dalam meningkatkan kesadaran gizi masyarakat dan mendorong produsen menciptakan produk pangan yang lebih sehat. Namun, tanpa regulasi yang ketat dan edukasi konsumen yang masif, sistem ini berisiko hanya menjadi label tanpa dampak nyata. Jika hanya digunakan sebagai alat pemasaran tanpa pengawasan, Nutri Level justru bisa menyesatkan konsumen alih-alih membantu mereka membuat keputusan yang lebih baik.

Dan supaya Nutri Level benar-benar berfungsi sebagai alat edukasi gizi dan bukan sekadar gimik, diperlukan regulasi dan pengawasan yang ketat. BPOM dan Kementerian Kesehatan memiliki peran besar dalam memastikan bahwa informasi yang disampaikan melalui Nutri Level benar-benar akurat dan tidak menyesatkan. Regulasi ini harus mencakup validasi peringkat Nutri Level agar produsen tidak bisa sembarangan mencantumkan klaim tanpa dasar yang kuat. Dengan begitu Nutri Level berpotensi menjadi alat yang membantu masyarakat dalam memilih makanan lebih sehat.

Tentunya, keberhasilan Nutri Level sangat bergantung pada peran aktif pemerintah dalam memastikan sistem ini diterapkan dengan transparansi, konsistensi, dan tanpa celah manipulasi. Selain itu, edukasi masyarakat harus menjadi prioritas agar label gizi yang tersedia benar-benar digunakan sebagai panduan dalam memilih makanan yang lebih sehat. Jika semua pihak, termasuk konsumen, produsen, dan regulator, berkontribusi dengan baik, Nutri Level dapat menjadi solusi nyata dalam menghadapi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia.

Redaktur: Jesika Yusnita Laoly

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.