Home Film Suara Tak Pernah Mati, Reformasi 1998 dalam Lintas Waktu melalui Sinema Aum!
Film

Suara Tak Pernah Mati, Reformasi 1998 dalam Lintas Waktu melalui Sinema Aum!

Share
Sumber: IMDb.com

Oleh: Zahra Zaina Rusty

Suara USU, Medan. Apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran saat mendengar kata reformasi? Apakah langsung dibawa ke tahun 1998, atau mengimajinasikan soal aksi demonstrasi yang kemudian menghilangkan banyak mahasiswa? Atau justru soal betapa bobroknya negara ini pada era itu? Ketika berbicara soal reformasi, kita tidak hanya harus membayangkan soal aksi demonstrasi, ada bentuk penyiaran lain yang bisa kita lakukan untuk membawa perubahan, apalagi di zaman yang sudah serba modern dan individual ini. Ada banyak upaya yang dapat kita lakukan, bahkan ketika kita tidak cukup berani bersuara langsung ke gedung-gedung eksekutif. Lantas dengan cara apa?

Dalam film Aum! diperlihatkan upaya penyampaian suara melalui pendekatan yang lebih halus. Film Aum! yang dirilis pada tahun 2021 membawa penonton kembali ke masa-masa kelam menjelang Reformasi 1998, di mana kebebasan berpendapat dan demokrasi diperjuangkan dengan risiko tinggi. Disutradarai oleh Bambang “Ipoenk” Kuntara Mukti, Aum! bukan hanya sekadar drama politik, melainkan sebuah perjalanan sinematik yang merangkum semangat reformasi dan perjuangan generasi muda kala itu. Dibintangi oleh aktor-aktor kenamaan seperti Jefri Nichol, Chicco Jerikho, Aksara Dena, dan Agnes Natasya Tjie, Aum! mengisahkan cerita fiktif yang sangat dekat dengan kenyataan sejarah.

Di tengah suasana represif Orde Baru, para karakter film ini mencerminkan semangat perjuangan rakyat yang hidup di bawah tekanan militer dan pemerintah. Satriya (diperankan oleh Jefri Nichol), seorang mahasiswa cerdas yang berjuang untuk reformasi, ditemani oleh kakaknya Adam (Aksara Dena), seorang militer yang pada akhirnya membelot dan ikut mendukung perjuangan adiknya. Namun, di balik cerita heroik ini, Aum! menawarkan sesuatu yang lebih. Film ini adalah sebuah mockumentary. Tidak hanya menceritakan perjuangan Satriya dan Adam, film ini juga menggambarkan bagaimana sebuah film tentang Reformasi dibuat dalam suasana yang penuh risiko.

Bagian kedua dari film ini, Perjalanan yang menampilkan dokumentasi pembuatan film yang dirintis oleh Linda (Agnes Natasya Tjie), seorang produser idealis, dan Panca (Chicco Jerikho), sutradara ambisius yang harus berhadapan dengan tantangan produksi di bawah pengawasan pemerintah. Aum! berhasil membangun jembatan antara masa lalu dan masa kini. Pada bagian pertama, Pertunjukan penonton dibawa ke masa-masa krisis Reformasi, di mana mahasiswa dan rakyat Indonesia bergulat dengan sistem yang menindas. Melalui karakter Satriya, penonton dapat merasakan bagaimana aspirasi kebebasan begitu kuat bergaung di tengah ancaman penangkapan oleh pemerintah.

Namun, bagian kedua, Perjalanan yang membuka lapisan baru dalam narasi film ini. Dalam format mockumentary, film ini menyoroti kesulitan para pembuat film dalam memproduksi cerita tentang Reformasi. Linda dan Panca, dengan segala idealisme mereka, berusaha menyuarakan semangat perjuangan tersebut melalui sinema. Dengan segala keterbatasan, mereka berusaha membuat film yang menggambarkan betapa pentingnya Reformasi bagi rakyat Indonesia. Dalam bagian ini, kita juga diajak melihat bagaimana peran media dan film dapat menjadi alat perjuangan yang sama kuatnya dengan demonstrasi di jalanan.

Bagi sutradara Bambang “Ipoenk” Kuntara Mukti, Aum! adalah sebuah cara untuk menggugah kembali semangat Reformasi 1998 bagi generasi muda saat ini. Di tengah kemajuan teknologi dan kemudahan akses informasi, pertanyaan yang muncul adalah: apakah kita masih mempertahankan semangat perjuangan itu? Apakah kebebasan yang dulu diperjuangkan sudah sepenuhnya kita nikmati? Melalui Aum!, sutradara ingin mengingatkan bahwa perjuangan untuk demokrasi dan kebebasan berpendapat tidak pernah selesai. Setiap generasi memiliki tantangannya sendiri dalam mempertahankan hak-hak yang diperoleh dari jerih payah pendahulunya.

Film ini juga membawa pesan penting bagi para sineas muda. Dalam suasana yang lebih bebas, sinema tetap memiliki peran besar sebagai media untuk menyuarakan aspirasi dan kritik sosial. Seperti yang terlihat dalam perjuangan Linda dan Panca di Aum!, pembuatan film bukan hanya soal menciptakan karya seni, tetapi juga menyampaikan pesan dan semangat zaman. Reformasi 1998 adalah tonggak penting dalam sejarah Indonesia, yang mengakhiri era Orde Baru dan membawa perubahan besar dalam sistem pemerintahan dan kehidupan sosial politik bangsa. Melalui film Aum!, peristiwa bersejarah ini kembali diangkat ke permukaan dengan cara yang unik. Tidak hanya melalui kisah fiktif yang dramatis, tetapi juga melalui narasi di balik layar pembuatan film yang penuh risiko.

Generasi muda, yang mungkin hanya mendengar tentang Reformasi dari buku-buku sejarah, kini bisa merasakan betapa penting dan sulitnya perjuangan itu. Film Aum! bukan hanya sebuah hiburan, tetapi juga pengingat bahwa kebebasan berpendapat dan demokrasi yang kita nikmati hari ini adalah hasil dari perjuangan panjang yang penuh pengorbanan. Film ini, dengan segala nuansa dramanya, menyampaikan pesan bahwa perjuangan belum usai. Setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melanjutkan semangat reformasi.

Melalui film Aum! kita diingatkan bahwa sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dijaga dan diperjuangkan agar terus relevan dalam kehidupan kita hari ini. Perjuangan kita tidak pernah selesai; ibaratnya, setiap masa ada orangnya. Pada masa 1998, para mahasiswa berjuang melawan tirani rakus kekuasaan, dan di setiap eranya, kita pasti memiliki tantangan sendiri. Menjadikan kesejahteraan bersama sebagai tanggung jawab yang wajib dipikul sama rata adalah kehormatan tanpa imbalan nyata yang wajib kita perjuangkan.

Redaktur: Alicia Reylina

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.