
Oleh: Rifatul Suaidah
Suara USU, Medan. Falcon Pictures resmi merilis trailer dan poster resmi film terbaru berjudul Rumah untuk Alie pada Senin (10/3/2025) di Kuningan, Jakarta Selatan. Karya sutradara Herwin Novianto ini mengangkat kisah getir kekerasan domestik dan perundungan yang dialami seorang anak perempuan, menantang pandangan umum tentang makna “rumah” sebagai tempat aman dan penuh cinta.
Film yang diadaptasi dari novel laris karya Lenn Liu ini berpusat pada Alie (Anantya Kirana), anak bungsu dari lima bersaudara yang menjadi satu-satunya perempuan dalam keluarga patriarkal yang keras. Sejak kematian ibunya, Alie kehilangan pelindung dan menjadi sasaran kekerasan fisik serta emosional dari ayah (Rizky Hanggono) dan kakak-kakaknya (salah satunya diperankan Dito Darmawan). Di sekolah, ia juga menghadapi perundungan dari teman-temannya. Meski demikian, ia tetap menyimpan harapan sederhana: diterima dan dicintai oleh keluarganya.
Sutradara Herwin Novianto menolak jalur aman dengan memberikan resolusi klise. Ia memilih menyajikan trauma secara jujur, membiarkan penonton merasakan kompleksitas emosi Alie. Pendekatan ini menjadikan film terasa lebih realistis dan menggugah, karena luka dalam kehidupan nyata jarang sembuh secara sederhana.
Penampilan Anantya Kirana mendapat sorotan khusus. Sebagai pendatang baru, ia sukses menghadirkan kedalaman emosi tanpa jatuh pada melodrama berlebihan. Sementara itu, Rizky Hanggono dan Dito Darmawan menampilkan karakter dengan nuansa abu-abu, tidak sekadar antagonis satu dimensi, sehingga penonton diajak memahami akar persoalan kekerasan domestik yang lebih kompleks.
Secara teknis, sinematografi dan tata suara film ini efektif membangun atmosfer rumah tangga yang mencekam, kontras dengan konsep rumah sebagai tempat perlindungan. Penyutradaraan Herwin menjaga ritme cerita agar tetap intens tanpa melelahkan penonton.
Produser Falcon Pictures, Frederica, menyatakan bahwa Rumah untuk Alie penuh makna dan relevan dengan kehidupan banyak orang. “Kami berharap film ini dapat menginspirasi dan membuka mata masyarakat tentang realitas yang dihadapi sebagian anak di dunia nyata,” ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Herwin Novianto menegaskan bahwa ia tidak ingin film ini hanya menyajikan kesedihan, melainkan juga memberikan refleksi dan empati. Penulis novel, Lenn Liu atau Lotta, mengungkapkan kebahagiaannya melihat kisah Alie diangkat ke layar lebar. Ia berharap pesan universal tentang hak setiap orang untuk mendapatkan cinta dan penerimaan, bahkan dari orang terdekat, dapat tersampaikan dengan baik serta meningkatkan kepedulian terhadap korban perundungan.
Rumah untuk Alie bukan sekadar drama keluarga, melainkan sebuah panggilan sosial. Film ini mengajak penonton untuk tidak lagi menutup mata terhadap kekerasan domestik dan perundungan yang kerap tersembunyi di balik dinding rumah, sekaligus membuktikan bahwa sinema Indonesia mampu menjadi agen perubahan sosial.
Redaktur: Merry Agnus Dei Gultom
Leave a comment