Oleh: Abdullah Umar Al Faruk
Suara USU, Medan. Yang Telah Lama Pergi merupakan sebuah novel karya Tere Liye yang diterbitkan oleh PT Sabak Grup Nusantara pada tahun 2023. Mengambil latar petualangan pada abad ke-13, buku ini menyoroti kisah seorang kartografer ulung yang dijuluki sebagai Al Baghdadi. Tokoh utamanya, Al Mas’ud, adalah pria asal Baghdad yang sejak kecil telah terbiasa melintasi samudra dan lautan luas mengikuti jejak sang ayah. Pengalaman masa kecil inilah yang membentuk jiwanya menjadi seorang petualang sejati yang sulit dihentikan oleh siapa pun.
Hasrat Al Mas’ud untuk melakukan perjalanan panjang mencapai puncaknya bahkan saat sang istri tengah mengandung anak pertama. Ia memutuskan untuk meninggalkan keluarga kecilnya demi menuntaskan wasiat terakhir sang ayah, yakni menyelesaikan pembuatan peta Swarnadwipa atau Sumatra. Ketika matahari terbit menyinari Kota Baghdad, Mas’ud berangkat dengan segala logistik dan peralatan kartografi yang lengkap di atas kapalnya. Ia mengira tantangan terbesarnya hanyalah deburan ombak dan badai laut, tetapi kenyataan di lapangan ternyata jauh lebih berbahaya dari sekadar amarah alam.
Malapetaka bermula saat kapalnya disergap oleh sekelompok perompak ketika memasuki Selat Malaka. Seluruh barang bawaan, alat pembuat peta, hingga logistik habis dijarah tanpa sisa. Berbekal perasaan nekat untuk merebut kembali miliknya, Mas’ud menyusup ke salah satu kapal terbesar di sarang perompak tersebut, tetapi naas ia justru tertangkap basah. Karena dianggap sebagai mata-mata, ia dikurung dan disiksa dengan kejam. Beruntung, tepat saat pedang nyaris menikam lehernya, seorang sosok bijak bernama Biksu Tsing datang menyelamatkannya.
Biksu Tsing adalah pengelana yang sedang menjalani misi mencari kitab suci dan menerjemahkan sutra di berbagai belahan dunia. Hubungan uniknya dengan Remasut, sang Raja Perompak, menjadi penyelamat bagi Mas’ud. Biksu Tsing sangat disegani di kalangan perompak karena ia dan sang Raja memiliki kesamaan visi, yaitu menyimpan dendam mendalam terhadap para pejabat korup di lingkungan Kerajaan Sriwijaya. Aliansi tak terduga inilah yang kemudian membawa Mas’ud masuk ke dalam pusaran konflik yang jauh lebih luas dari sekadar pencarian peta.
Meskipun menggunakan latar masa kejayaan Sriwijaya, pembaca akan menyadari bahwa kisah ini bukanlah fiksi sejarah belaka. Sebagaimana ciri khas karya Tere Liye, terdapat kritik sosial tajam yang menyelinap secara halus di balik narasinya. Para pejabat kerajaan digambarkan sibuk memperkaya diri sementara rakyat menderita di bawah ketidakadilan. Intrik politik, kehadiran penjilat yang licik, serta pengkhianatan demi kepentingan pribadi terasa sangat relevan dengan kondisi sosiopolitik saat ini. Hal inilah yang kerap membuat pembaca merasa bahwa cerita ini adalah cerminan dari realitas yang ada di sekitar kita.
Selain muatan kritiknya, Yang Telah Lama Pergi juga mengingatkan kita bahwa kenangan buruk tidak seharusnya dihapus secara paksa. Melalui perjalanan Mas’ud, novel ini menekankan bahwa dengan memeluk sakit hati dan dendam masa lalu, manusia justru bisa belajar untuk berdamai dan menemukan kebahagiaan baru. Buku ini sangat direkomendasikan bagi pembaca berusia di atas 16 tahun, khususnya mahasiswa. Tema pencarian jati diri, rekonsiliasi masa lalu, serta konflik batin yang dialami tokoh-tokohnya menuntut kematangan emosional dan intelektual agar maknanya dapat tersampaikan dengan utuh.
Salah satu keunggulan novel ini terletak pada kedalaman karakter Mas’ud dan Remasut. Mas’ud, dengan segala kesabaran dan keteguhan pendiriannya, menjadi jangkar emosional yang mengajak pembaca merefleksikan perjalanan hidup mereka sendiri. Begitu pula dengan Remasut yang digambarkan sebagai simbol pencarian makna di balik kehilangan. Kedua karakter ini mengalir dengan natural, memberikan dimensi spiritual yang kuat pada alur cerita. Tere Liye sangat mahir menyampaikan tema-tema besar melalui diksi yang puitis tetapi mudah dipahami, sehingga setiap detail perasaan tersampaikan dengan sangat mendalam.
Pengembangan cerita yang rapi juga menjadi nilai tambah, karena penulis berhasil menjaga keseimbangan antara konflik batin dan kemajuan alur cerrita. Plot yang berkembang perlahan memungkinkan pembaca untuk mengikuti transformasi karakter tanpa merasa kebingungan. Namun, tempo cerita yang cenderung lambat di beberapa bagian mungkin akan terasa menjemukan bagi sebagian orang. Bagi pembaca yang menyukai dinamika peristiwa yang memicu adrenalin, perjalanan batin yang panjang dalam buku ini mungkin akan terasa sedikit berat.
Novel ini juga menyimpan banyak pesan mendalam yang terselip dalam dialog antar tokohnya. Salah satu kutipan yang paling berkesan terdapat pada halaman 384: “Hidup ini bagai sungai yang mengalir, Samurai Buta. Maka mengalirlah seperti sungai yang jernih, bermanfaat bagi sekitar…” Pesan tersebut menjadi pengingat berharga bahwa di tengah berbagai dinamika dan kehilangan yang kita alami, esensi kehidupan sesungguhnya adalah tentang bagaimana kita harus terus melangkah maju sambil tetap menebarkan kebaikan bagi sesama.
Bagi Sobat Suara USU yang sedang mencari bacaan dengan perpaduan apik antara petualangan sejarah dan kedalaman emosional, Yang Telah Lama Pergi adalah pilihan yang sangat tepat. Novel ini tidak menjadi sekadar hiburan, melainkan sebuah perjalanan untuk menemukan kembali jati diri yang mungkin sempat hilang. Jadi, pastikan buku ini masuk ke dalam daftar bacaan wajib kamu!
Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.
Leave a comment