Oleh: Suci Rahmawati Siregar
Pernah, kau dan aku terseok di lorong gelap yang pekat
langkah enggan menapak pada tanah yang kian retak
jatuh dan bangun demi sekadar berdiri tegak
hingga pecah suaramu, lantang membelah sekat
menggumamkan kesetaraan bagai angin ribut yang lekat
Pernah, kami dicap pabrik peranakan semata
hanya layak di depan tungku, dilarang menimba cita-cita
menelan caci berbuih, dihujani hina dan nista
begitu bejat sematan yang mengikat sayap sang jelita
Bangkit! Bangkit! Bangkit!
bersahutan antara amarah dan tangis yang membukit
bak gemuruh badai, suara kami kian melangit
membelah batu, tak lagi bersemayam di balik tungku yang sempit
kini kami berdiri gagah, mengagungkan kekuatan yang kian melejit
Sebab perempuan bukan sekadar panggilan yang singkat,
kami tak akan lagi mampu kau ikat,
kami tak akan redam, melintasi zaman dengan martabat,
bersemi abadi, hingga akhir hayat.
Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.
Leave a comment