Home Opini Menjaga Ikon USU, Suara untuk Rusa yang Terabaikan 
Opini

Menjaga Ikon USU, Suara untuk Rusa yang Terabaikan 

Share
Dokumentasi: Suara USU

Oleh: Lucy Kezia Simarmata

Suara USU, Medan. Universitas Sumatera Utara (USU) tidak hanya dikenal sebagai institusi pendidikan ternama di Sumatera, tetapi juga memiliki daya tarik tersendiri lewat ikon yang menjadi ciri khasnya. Keberadaan rusa dalam area kampus telah menjadi ciri khas yang melekat dalam memori banyak mahasiswa dan masyarakat umum yang berkunjung. Namun, sayangnya kondisi terbaru dari rusa dan tempat tinggalnya menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan dan membutuhkan perhatian segera.

Dari pengamatan langsung terhadap kandang dan hewan yang ada di dalamnya, tampak jelas bahwa perawatan terhadap rusa tidak lagi menjadi prioritas. Beberapa rusa terlihat sehat dan ideal, namun sebagiannya lagi tampak kurus dengan kondisi tubuh yang kurang prima. Kulit beberapa ekor rusa juga tampak terkelupas, bisa jadi karena penyakit kulit, kurang gizi, atau akibat paparan cuaca yang ekstrem di Medan beberapa pekan ini, sementara perlindungan yang disediakan kurang memadai. Selain itu, tampilan fisik mereka pun tampak tidak seragam, ada yang tampak bersih dengan warna cokelat cerah, tetapi tak sedikit juga yang tampak kotor serta kusam.

Lingkungan kandang juga tampak kurang mendukung, sebab rumput yang menjadi sumber pakan utama bagi rusa tumbuh dengan kurang merata. Di beberapa bagian, rumput terlihat sudah menguning, gersang, bahkan sedikit berlumpur. Hal ini bukan hanya membuat kandang terlihat kurang terawat, tapi juga menyulitkan rusa untuk merumput dengan bebas. Tanah yang berlumpur dikhawatirkan dapat menjadi sarang bakteri dan berisiko menyebabkan luka atau infeksi pada kaki rusa.

Selain itu, di pekarangan kandang tampak tiga pohon yang masih berdiri dan menjadi tempat rusa untuk berlindung dari teriknya matahari yang kian menyengat. Satu pohon lainnya bahkan hampir tidak memiliki daun, tak heran sebab beberapa pekan belakangan cuaca di Medan terbilang ekstrem, di satu hari suhu Medan pernah menyentuh angka 32°C. Pohon-pohon yang seharusnya menjadi tempat berteduh dan berlindung bagi rusa menjadi kurang keefektifannya. Ketidakhadiran area teduh yang memadai tentu memengaruhi kondisi kenyamanan rusa-rusa yang ada di dalamnya.

Yang lebih mengherankan, terdapat struktur kandang atau pagar yang tampaknya terjatuh dan tertanam di beberapa meter kedalaman tanah dibiarkan begitu saja. Keberadaan benda tersebut seolah menjadi tanda kelalaian, apakah itu akibat proyek yang terbengkalai, atau semata-mata karena tidak ada tindak lanjut dari pengelola? Ketidakteraturan seperti ini seharusnya perlu diberikan perhatian lebih oleh pihak yang berwenang akan hal ini.

Muncul pertanyaan besar saat ini, bahwa apakah kita sudah melupakan peran dan keberadaan rusa ini? Hewan-hewan itu bukan hanya penghuni lingkungan kampus. Mereka adalah ikon, simbol dari kelestarian, keunikan, dan kebanggaan USU. Ketika mereka dibiarkan hidup dalam kondisi yang kurang sehat, itu mencerminkan bagaimana kita mencerminkan sisi kemanusiaan dan bagaimana kita memperlakukan simbol kampus kita sendiri.

Agar keberadaan rusa sebagai ikon USU tetap terjaga dan layak huni, beberapa kebijakan dan langkah konkret sangat perlu dipertimbangkan oleh pengelola kampus, seperti: Libatkan dokter hewan secara rutin untuk memastikan kondisi fisik rusa terpantau dengan baik dan memberikan perawatan jika diperlukan, lakukan peremajaan kandang seperti menanam ulang rumput, memperbaiki sistem drainase agar tidak berlumpur, serta menanam pohon-pohon rindang untuk memberi keteduhan yang memadai. Selain itu, kampus perlu membuka data anggaran pemeliharaan kandang rusa. Apakah anggaran tersedia, dan jika ada, apakah sudah digunakan dengan cukup efektif? Transparansi ini penting agar publik kampus juga dapat turut mengawasi dan berpartisipasi. Selanjutnya, langkah simbolis namun penting adalah menetapkan rusa sebagai “warisan hidup” kampus yang wajib dilestarikan. Ini akan memberi landasan hukum dan moral bagi perawatan mereka secara jangka panjang.

Rusa bukan sekadar makhluk hidup yang kebetulan tinggal di lingkungan kampus. Mereka ada di dalam area kampus tentunya karena perencanaan yang sebelumnya sudah dipikirkan secara matang, maka menjaga dan melestarikan mereka merupakan sebuah kewajiban. Mereka adalah bagian dari lanskap sosial dan budaya. Banyak mahasiswa menjadikan mereka sebagai titik temu, objek fotografi, atau bahkan teman visual yang menenangkan di tengah padatnya aktivitas kuliah. Maka, membiarkan mereka dalam kondisi mengenaskan sama saja membiarkan citra kampus ini perlahan memburuk.

USU seharusnya menjadi contoh dalam hal keberlanjutan dan kepedulian terhadap makhluk hidup. Jika kampus ini mampu mencetak lulusan yang peduli pada bangsa, mengapa tidak bisa dimulai dari hal sederhana seperti merawat rusa, ikon kita sendiri?

Perubahan bisa dimulai hari ini. Tidak dengan janji besar, tetapi dengan tindakan kecil yang konsisten. Karena pada akhirnya, ikon kampus bukan sekadar simbol, mereka adalah tanggung jawab.

Redaktur: Merry Agnus Dei Gultom

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.