Penulis: Alda Dita Khairani/Nur Asia Aji Siambaton/Ummaina Rahma/Nurmailiza/Andini Septia/Septi/Paulina Purba/Indri Prasetia Ningsih/Sondang Elfrida/Yuda Prayoga Surbakti/Yesaya Andrianto Simanullang/Muhammad Aulia Rifki Nst
Suara USU, Medan. Di tengah hiruk-pikuk Kota Medan, berdiri sebuah tempat yang menyimpan sejarah panjang industri perkebunan Indonesia: Museum Perkebunan Indonesia. Berlokasi strategis di Jl. Brigjend Katamso No. 53, museum ini menjadi destinasi wisata edukatif yang cocok untuk pengunjung dari berbagai kalangan.
Museum Perkebunan Indonesia didirikan pada 10 Desember 2016 atas inisiatif Soedjai Kartasasmita, tokoh perkebunan Indonesia. Tujuan utama museum ini adalah melestarikan sejarah industri perkebunan, seperti kelapa sawit, karet, dan tembakau, yang menjadi tulang punggung ekonomi Sumatera Utara sejak masa kolonial. Museum ini tidak hanya menjadi tempat untuk memamerkan artefak, dokumen, dan alat-alat perkebunan, tetapi juga ruang interaktif yang mengajak pengunjung memahami perkembangan industri ini dari masa ke masa.
Museum ini memiliki berbagai daya tarik, termasuk:
- Pesawat Piper Pawnee, yang pernah digunakan untuk menyemprot hama tembakau selama hampir 50 tahun.
- Lokomotif Ducro & Brauns, produksi tahun 1940 yang pernah dioperasikan PTPN.
- Ruang imersif dengan konten audiovisual yang menarik, terutama bagi anak-anak.
- Beberapa yang masih mempertahankan keaslian kayu sejak pembangunannya, lengkap dengan lonceng dan sepeda ontel peninggalan masa lalu.
- Selain itu, terdapat ruang dengan konsep unik yang menyajikan hidangan berbahan dasar kelapa sawit untuk menambah pengetahuan pengunjung.
Seperti banyak museum lainnya, Museum Perkebunan menghadapi tantangan, seperti minat pengunjung yang rendah, khususnya dari generasi muda. Namun, dengan inovasi seperti tur virtual, augmented reality (AR), dan acara komunitas bertema budaya, museum ini memiliki potensi besar untuk menarik lebih banyak pengunjung.
Museum juga sedang mengembangkan strategi pemasaran berbasis digital melalui media sosial seperti Instagram dan TikTok, serta bekerja sama dengan komunitas lokal untuk mengadakan acara seperti Dendang Deli, yang mempromosikan budaya Melayu.
Museum ini buka setiap hari pukul 09:00–15:00 WIB. Tiket masuk dibanderol Rp25.000 untuk pengunjung lokal dan Rp35.000 untuk wisatawan asing. Museum Perkebunan Indonesia adalah tempat yang sempurna untuk mengenal lebih dekat sejarah industri perkebunan dan peran strategisnya dalam pembangunan Indonesia. Dengan berbagai koleksi unik dan aktivitas interaktif, museum ini menawarkan pengalaman edukatif sekaligus menyenangkan bagi pengunjung lokal maupun internasional.
Ayo, jadikan Museum Perkebunan Indonesia sebagai tujuan berikutnya dalam agenda liburanmu!
Artikel ini merupakan bentuk publikasi untuk tugas mata kuliah: Tourism and Hospitality Management dengan Dosen Pengampu: Feronica Simanjorang, S.Sos., M.AB dan Hafiza Adlina S.AB, M.AB
Redaktur: Balqis Aurora
Leave a comment