Home Opini Pasca Pemilu 2024: Apakah Selanjutnya Politik akan Tetap Menarik untuk Anak Muda?
Opini

Pasca Pemilu 2024: Apakah Selanjutnya Politik akan Tetap Menarik untuk Anak Muda?

Share

Reporter : Reinhard Halomoan

Suara USU, Medan. Fenomena dan kontroversi pra dan pasca pemilu menarik minat anak muda yang awalnya apatis dengan politik menjadi penasaran dengan hal tersebut. Namun, setelah pemilu 2024, apakah politik akan sama menariknya bagi anak muda? Dan apakah anak muda akan tetap berpartisipasi dalam rangka mengawasi jalannya pemerintahan yang dipilihnya/tidak dipilihnya?

Berbicara tentang pemilih, faktanya adalah 52% pemilih tahun ini merupakan pemilih baru. Ya, mereka berasal dari kalangan Gen Z dengan umur 23 tahun kebawah. Kelompok ini terdiri dari kalangan mahasiswa dan pelajar. Dan melalui pemilu tahun ini, mereka mendapatkan kesempatan untuk belajar mengenai perpolitikan di Indonesia untuk menentukan siapa yang mereka pilih. Dalam sekejap, politik menjadi sedemikian menarik untuk anak muda. Banyaknya informasi yang berseliweran di media sosial semakin membuat mereka penasaran tentang perpolitikan di Indonesia. Dalam sekejap pula, banyak forum diskusi, seminar, dan acara kemahasiswaan yang dibuat dengan bertemakan politik dan segala macamnya. Semua dibuat oleh karena adanya kesadaran bahwa tahun politik benar-benar berpengaruh bagi anak muda.

Melihat realitas tersebut, para kontestan dalam pemilu tahun 2024 tidak tinggal diam. Berbagai cara kampanye dilakukan untuk menarik minat pemilih baru ini. Strategi kampanye melalui media sosial menjadi lebih efektif dibandingkan kampanye konvensional dengan menggunakan baliho, iklan, dan yang sejenisnya. Segala macam isu yang berkaitan dengan anak muda dikemas menjadi materi kampanye agar dapat lebih memikat hati para pemilih baru. Mulai dari isu pendidikan, teknologi, kewirausahaan dan isu-isu lain yang strategis bagi anak muda tidak lupa disinggung. Semua berbicara dan bertindak seolah-olah paling paham dan paling mengerti soal masalah dan aspirasi anak muda.

Namun, generasi muda hari ini tentu berbeda dengan generasi muda dua puluh tahun yang lalu. Mereka adalah generasi yang tidak mudah percaya dan cenderung kritis terhadap informasi. Rekam jejak digital setiap orang yang berkontestasi dalam pemilu 2024 dapat dengan mudah dicari, sehingga hal tersebutlah yang menjadi gambaran anak muda dalam menentukan pilihannya. Sehingga, tidak mudah bagi para calon pemimpin untuk mendapatkan kepercayaan dari anak muda.

Pada intinya, fenomena tersebut menjelaskan bahwa peran anak muda dalam pemilu tahun 2024 sangat kompleks. Kehadiran mereka membuat para kontestan pemilu memutar otak untuk menggaet suara sesuai target mereka. Jika strategi yang digunakan masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya tanpa ada adaptasi, maka kemungkinan besar segala investasi yang sudah dicurahkan dalam pemilu ini tidak ada gunanya.

Namun, jika kita berbicara soal kontribusi politik, Apakah kontribusi politik anak muda hanya sampai situ? Lucunya, ketertarikan anak muda terhadap Pemilu seketika muncul dari kondisi dimana politik tidak menjadi sesuatu yang sama sekali tidak menarik bagi anak muda. Artinya, kontribusi politik anak muda masih bersifat seasonal, hanya terlihat ketik ada momen-momen penting saja. Padahal, esensi dari politik sendiri adalah sistem yang baik untuk mencapai tujuan kemaslahatan bersama. Bahkan menurut Aristoteles, manusia tidak dapat terlepas dari politik. Tujuan tersebut bukan hanya satu kelompok masyarakat, melainkan untuk kepentingan semua kelompok masyarakat termasuk anak muda.

Sayangnya, masih banyak praktik politik yang menyeleweng dan tidak sesuai dengan tujuan awalnya. Mulai dari praktik KKN, etika para politisi, sampai pada kasus yang baru-baru ini terjadi, terdegradasinya demokrasi di Indonesia. Hal-hal inilah yang menurunkan simpati anak muda terhadap kondisi perpolitikan di Indonesia, sehingga mereka memilih untuk tidak mengambil bagian di dalamnya. Padahal, segala kebijakan pemerintah sangat berkaitan dengan proses politik di dalamnya. Yang perlu di garis bawahi adalah semua kebijakan pemerintah yang baik harus diawali dengan proses politik yang bersih dan tepat. Dan untuk meraih semua itu, diperlukan pengawasan yang kritis dari setiap elemen masyarakat, yang mana dalam hal ini, anak muda dengan pendidikan, pengetahuan, dan informasi yang dimilikinya tentu bertanggung jawab atas jalannya pemerintahan dari pemimpin yang dipilih maupun tidak dipilihnya.

Maka dari itu, melalui segala macam platform dan media yang ada, seharusnya anak muda aktif melakukan pengawasan terhadap jalannya pemerintahan. Negara ini tidak bisa dijalankan oleh satu orang eksekutif dan seratus orang legislatif. Dengan segala ilmu pengetahuan yang dimiliki dan akses informasi yang sedemikian luas, tak ada alasan bagi generasi muda untuk mengawasi pemerintahan demi mewujudkan penyelenggaraan negara yang tidak hanya mementingkan keuntungan suatu kelompok semata.

Redaktur : Khalda Mahirah Panggabean

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.