
Oleh: Naila Ariyati
Suara USU, Medan. Industri film Indonesia Tahun 2025 kembali menghadirkan karya luar biasa. Salah satunya adalah Pengepungan di Bukit Duri, film garapan Joko Anwar yang resmi rilis pada tanggal 17 April 2025 di bioskop seluruh Indonesia. Film ini membawa penonton ke masa depan kelam Indonesia, menggambarkan konflik sosial, krisis nilai, hingga rasisme yang bengis, dengan latar utama di SMA Bukit Duri, Jakarta.
Dengan durasi 118 menit, film ini terinspirasi dari pengalaman pribadi sang penulis serta situasi Indonesia pada 1998, saat krisis moneter dan kerusuhan besar terjadi. Visual yang memanjakan mata, akting yang kuat, serta sinematografi yang keren menjadikan film ini penuh makna dan emosional.
Film produksi Come and See Pictures ini juga berhasil menjalin kerja sama dengan Amazon MGM Studios untuk penayangan internasional dengan judul The Siege at Thorn High.
Joko Anwar mengungkapkan bahwa proses penggarapan film ini memakan waktu 17 tahun, sejak penulisan skenario. Ia ingin menyampaikan pesan moral secara matang dan menyentuh, terutama soal rendahnya prioritas pendidikan di Indonesia. “Kegelisahan saya muncul dari kenyataan bahwa pendidikan belum menjadi prioritas utama, padahal dampaknya sangat besar bagi seluruh sendi kehidupan bangsa.” ujarnya.
Ia juga mengangkat isu budaya kekerasan dan rasisme di Indonesia tahun 2027, beberapa adegannya terinspirasi dari pengalaman pribadinya semasa SMA.
Film ini diperankan oleh para aktor profesional dan amati, seperti Morgan Oey yang berperan sebagai Edwin, guru seni pengganti yang mencari keponakannya yang hilang. Ia dibantu oleh Bu Dian (Hana Pitrashata), serta dua siswa, Khristo (Endy Arfiah) dan Rangga (Fatih Unru). Tokoh antagonis Jefri, Siswa psikopat yang brutal, diperankan oleh Omara Esteghlal. “Budaya kekerasan di masyarakat kita adalah akibat dari kegagalan sistem dalam menyediakan cara yang lebih sehat untuk mengelola kekecewaan,” Ucap Joko.
Cerita bermula ketika Edwin mencari keponakannya yang hilang dan berujung di SMA Bukit Duri. Di sana, ia bertemu jefri yang merasa dihina oleh Edwin dan merencanakan balas dendam. Ketegangan memuncak hingga terungkap sebuah rahasia di akhir film.
Adegan-adegan aksi dalam film ini menggambarkan perjuangan bertahan hidup di tengah kekacauan, bukan aksi bela diri heroik. Film ini dipenuhi dengan emosi, tekanan sosial, serta kerusuhan dan penjarahan sebagai cerminan “kelaparan” masyarakat.
Pengepungan di Bukit Duri menjadi gambaran suram Indonesia jika pendidikan terus diabaikan dan permasalahan sosial dibiarkan. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat belajar berubah menjadi pusat perencanaan kekacauan. Kenakalan remaja tak terkendali, rasisme meningkat, dan hukum kehilangan wibawa.
Film ini menyampaikan pesan bahwa jika situasi ini terus berlangsung, generasi muda akan menjadi pemberontak yang tak takut hukum. Mereka yang cerdas justru tertindas oleh kelompok yang haus perhatian melalui kekerasan.
Judul Pengepungan di Bukit Duri memuat makna simbolis. Kata “duri” mencerminkan sesuatu yang bisa menjadi pelindung sekaligus membahayakan. Joko Anwar mengajak penonton untuk merenungkan, apakah remaja dalam film ini adalah pelindung bangsa, atau justru ancaman bagi masyarakat?
Redaktur: Nisya Augia
Leave a comment