Reporter: Reinhard Halomoan dan Filemon Saing
Suara USU, Medan. Sebanyak sekitar 950 warga terdampak banjir di Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, mengungsi di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Langkat pada minggu pertama pascabanjir. Lokasi pengungsian tersebut dibuka atas inisiatif dan swadaya masyarakat karena menjadi satu-satunya area yang masih memiliki daratan saat banjir merendam hampir seluruh wilayah Tanjung Pura.
Hujan deras yang mengguyur Pulau Sumatra pada akhir November hingga awal Desember lalu menyebabkan banjir besar di sejumlah wilayah Sumatra Utara, termasuk Kecamatan Tanjung Pura. Sejumlah warga menyebutkan bahwa ketinggian air sempat melebihi atap rumah, sehingga memaksa mereka menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.
MAN 1 Langkat kemudian menjadi tempat berlindung bagi warga dari berbagai desa. Para pengungsi menempati ruang-ruang kelas dengan penerangan terbatas dan ketersediaan logistik yang belum menentu. Meski demikian, bantuan dari relawan terus berdatangan sehingga kebutuhan dasar pengungsi tetap dapat terpenuhi. Selain itu, dapur umum telah didirikan di lokasi pengungsian untuk menyediakan makanan dan minuman bagi para pengungsi.
Koordinator Pengungsian MAN 1 Langkat, Januar Nasution, mengatakan bahwa lokasi pengungsian tersebut dibuka melalui kesepakatan antara masyarakat dan pihak madrasah, tanpa inisiatif awal dari pemerintah.
“Ini memang hasil kesepakatan dan inisiatif kami dengan pihak madrasah, dan mereka merespons dengan rasa kemanusiaan. Mereka mendukung kami,” ujar Januar.
Meski demikian, bantuan dari pemerintah telah mulai diterima. Bantuan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah daerah (Pemda), pemerintah kabupaten (Pemkab), dan jajarannya.
“Sudah ada Starlink untuk menghubungi keluarga, begitu juga dengan akses air bersih,” katanya.
Kendala utama yang masih dihadapi pengungsi adalah keterbatasan logistik, baik dari sisi jumlah maupun distribusinya di lokasi pengungsian. Januar menjelaskan bahwa bantuan yang datang belum mencukupi kebutuhan seluruh pengungsi dan tidak diterima secara rutin.
“Walaupun sedikit, tetap kami bagi rata. Dalam satu ruangan kadang ada sebelas kepala keluarga, jadi pembagiannya cukup sulit,” ungkapnya.
Hal serupa disampaikan Fauziah, salah seorang pengungsi, yang menilai pembagian logistik di lokasi belum merata.
“Pembagiannya tidak merata, banyak yang dibagikan saat sebagian masyarakat sedang pulang,” ujarnya.
Menurut keterangan Januar, jumlah pengungsi yang awalnya sekitar 900 orang kini berkurang menjadi sekitar 600 orang. Hingga saat ini, arus bantuan logistik masih terus mengalir ke lokasi pengungsian.
Berdasarkan pengamatan, kehidupan pengungsi di MAN 1 Langkat tergolong cukup layak dengan adanya dapur umum, posko pelayanan terpadu, serta ruang kelas yang memadai. Namun, keterbatasan logistik masih menjadi persoalan, di tengah fakta bahwa lokasi pengungsian ini dibuka atas swadaya masyarakat, bukan inisiatif awal pemerintah.
Redaktur: Jesika Yusnita Laoly
Leave a comment