SUARA USU
Uncategorized

Peran Pengasuh Dalam Perkembangan Perilaku Sosial Anak-Anak di Panti Asuhan Pelangi Kasih

Oleh: Jonatan Budiman Damanik

PENDAHULUAN

Masalah anak terlantar sudah tercantum dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 34 yang berbunyi “fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara”. Dipelihara disini bukan hanya barkaitan dengan bagaimana pemerintah memberikan papan, pangan, dan sandang tetapi juga bagaimana memberikan bekal ilmu dan keterampilan agar mereka mampu mandiri setelah mereka berada pada usia dewasa. Melalui panti asuhan anak dididik dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang dapat mengembangakan diri baik dari segi jasmani dan rohani seperti ilmu pengetahuan, sikap dan kreativitas.

Panti asuhan dapat membentuk pribadi anak menjadi anak yang mandiri dan membentuk sikap diri yang sempurna, panti asuhan memiliki sesuatu yang dapat membuat anak memperoleh konsep diri yang sempurna sesuai dengan ilmu pengetahuan dan ajaran agama sehingga menjadi anak yang mandiri dan memiliki masa depan yang lebih baik. Penelitian sebelumnya yang dilakukan Arseni (2012) mengungkapkan bahwa anak yang memiliki keluarga lengkap setidaknya merasakan peran dan fungsinya dari masing-masing unsur yang ada di keluarga, karena fungsi dasar keluarga adalah memberikan kasih sayang, memberikan motivasi belajar dan mengembangkan hubungan yang baik antara anggota keluarga.

Berbeda halnya dengan anak yang berada di panti asuhan, perhatian dari pengasuh sebagai pengganti orang tua masih belum cukup bagi perkembangan perilaku social anak hal ini dikarenakan banyaknya anak yang membutuhkan perhatian yang sama, oleh karena itu para pengasuh harus memiliki pengetahuan yang luas untuk menjalankan perannya sebagai pengganti orang tua anak di panti asuhan. Soekanto (1990) mengatakan bahwa peran sebagai perilaku yang penting bagi struktur social masyarakat. Jadi seseorang menduduki suatu posisi dalam masyarakat terhadap pemegang peran. Peran memiliki 4 bagian yang penting yaitu:

1.     Peran Prediksi adalah berperannya seseorang terhadap peran yang dimainkanya bagi sebagian besar warga masyarakat.

2.     Peran Posisi adalah kedudukan social yang sekaligus menjadikan status atau kedudukan dan berhubungan dengan tinggi atau rendahnya posisi seorang tersebut dalam struktur social tertentu.

3.     Peran Perilaku adalah cara seseorang memainkan peranannya.

4.     Peran Persepsi adalah bagaimana seseorang harus bertindak dan berbuat atas dasar pandangannya tersebut.

Dalam penjelasan di atas terlihat suatu gambaran bahwa yang dimaksud dengan peran merupakan kewajiban-kewajiban yang dilakukan seseorang karena kedudukannya di dalam status tertentu pada suatu masyarakat atau lingkungan. Dapat disimpulkan bahwa peran yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keikutsertaan, keaktifan, dan keterlibatan pihak-pihak panti asuhan dalam mendukung pembinaan perilaku social terhadap anak asuh. Harlock (1978: 261) berpendapat bahaw perilaku social menunjukan kemampuan untuk menjadi orang yang bermasyarakat.

Perilaku sosial adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku umum yang ditunjukan oleh individu dalam masyarakat, yang pada dasarnya sebagai respon terhadap apa yang dianggap dapat diterima atau tidak dapat diterima oleh kelompok sebaya seseorang. Perilaku tersebut ditunjukan dengan perasaan, tindakan, sikap,keyakinan, kenangan, atau rasa hormat terhadap orang lain. Perilaku social juga merupakan aktifitas fisik dan psikis seseorang terhadap orang lain atau sebaliknya dalam rangka memenuhi diri atau orang lain yang sesuai dengan tuntutan social.

PEMBAHASAN DAN ISI

Menurut Sarlito ini menyatakan bahwa perilaku social merupakan salah satu aspek yang sangat penting untuk dikembangkan karena sangat mempengaruhi proses tumbuh kembang anak khususnya anak usia remaja. Pengembangan perilaku social pada anak usia remaja merupakan salah satu aspek yang sangat mendukung perkembangan anak khususnya perkembangan social.

Panti Asuhan Pelangi Kasih, sebagai salah satu lembaga pengasuhan alternatif di Indonesia, memiliki tanggung jawab besar dalam memenuhi kebutuhan dan mendukung perkembangan anak-anak yang berada di bawah asuhannya. Dalam konteks ini, peran pengasuh menjadi sangat krusial, terutama dalam memfasilitasi perkembangan perilaku sosial anak-anak. Penelitian ini mengungkapkan bahwa pengasuh di Panti Asuhan Pelangi Kasih memainkan peran multifaset yang mencakup pemberian dukungan emosional, bimbingan perilaku, dan pemenuhan kebutuhan dasar anak-anak asuh.

Pemberian dukungan emosional merupakan salah satu aspek terpenting dari peran pengasuh. Observasi menunjukkan bahwa pengasuh di Panti Asuhan Pelangi Kasih secara konsisten terlibat dalam interaksi yang hangat dan responsif dengan anak-anak asuh. Mereka sering terlihat mendengarkan dengan penuh perhatian ketika anak-anak mengungkapkan perasaan atau kekhawatiran mereka, memberikan kata-kata penyemangat saat anak-anak menghadapi kesulitan, dan menunjukkan kasih sayang melalui kontak fisik yang tepat seperti pelukan atau tepukan di bahu. Pendekatan ini sejalan dengan teori attachment yang dikemukakan oleh Bowlby (1969), yang menekankan pentingnya ikatan emosional yang aman antara anak dan pengasuh utama untuk perkembangan sosial-emosional yang sehat.

Meskipun pengasuh di panti asuhan bukan orang tua biologis, penelitian ini menunjukkan bahwa mereka mampu menjadi figur kelekatan yang penting bagi anak-anak yang telah kehilangan orang tua atau terpisah dari keluarga. Hal ini terlihat dari kecenderungan anak-anak untuk mencari pengasuh saat mereka merasa takut, cemas, atau membutuhkan dukungan. Kemampuan pengasuh untuk menyediakan ‘safe haven’ ini memiliki implikasi positif terhadap perkembangan rasa aman dan kepercayaan diri anak-anak, yang pada gilirannya mempengaruhi kemampuan mereka untuk membentuk hubungan sosial yang sehat di masa depan.

Aspek kedua dari peran pengasuh yang terungkap dalam penelitian ini adalah pemberian bimbingan perilaku. Pengasuh di Panti Asuhan Pelangi Kasih secara aktif terlibat dalam mengajarkan dan memodelkan keterampilan sosial yang tepat kepada anak-anak asuh. Mereka memberikan instruksi langsung tentang cara berinteraksi dengan orang lain, mengelola konflik, dan menunjukkan empati. Misalnya, pengasuh sering terlihat mengajarkan anak-anak bagaimana meminta maaf ketika melakukan kesalahan, bagaimana berbagi dengan teman, atau bagaimana mengekspresikan perasaan mereka secara tepat.

Pendekatan bimbingan perilaku ini konsisten dengan teori pembelajaran sosial yang dikemukakan oleh Bandura (2017). Teori ini menekankan pentingnya pembelajaran melalui observasi dan imitasi. Anak-anak di Panti Asuhan Pelangi Kasih belajar perilaku sosial yang tepat dengan mengamati dan meniru perilaku pengasuh mereka. Penelitian ini menemukan bahwa pengasuh yang konsisten dalam menunjukkan perilaku prososial, seperti berbagi, membantu, dan menunjukkan empati, cenderung memiliki anak asuh yang juga menunjukkan perilaku serupa dalam interaksi mereka dengan teman sebaya. Selain itu, pengasuh juga berperan penting dalam manajemen perilaku anak-anak. Mereka menerapkan sistem aturan dan konsekuensi yang jelas, memberikan pujian dan penguatan positif untuk perilaku yang diinginkan, dan menggunakan strategi disiplin positif ketika anak-anak menunjukkan perilaku yang tidak tepat. Pendekatan ini membantu anak-anak memahami batasan sosial dan mengembangkan kontrol diri, yang merupakan komponen penting dari perkembangan perilaku sosial.

Aspek ketiga dari peran pengasuh adalah pemenuhan kebutuhan dasar anak-anak. Pengasuh di Panti Asuhan Pelangi Kasih bertanggung jawab untuk memastikan bahwa anak-anak mendapatkan makanan yang cukup dan bergizi, pakaian yang layak, tempat tinggal yang aman dan nyaman, serta akses ke pendidikan dan perawatan kesehatan. Pemenuhan kebutuhan dasar ini menjadi landasan penting bagi perkembangan psikososial yang sehat. Hal ini sejalan dengan hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Maslow (2013), yang menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan fisiologis dan keamanan adalah prasyarat untuk perkembangan psikologis dan sosial yang lebih tinggi.

Penelitian ini menemukan bahwa ketika kebutuhan dasar anak-anak terpenuhi dengan baik, mereka cenderung merasa lebih aman dan lebih mampu fokus pada pengembangan keterampilan sosial dan emosional mereka. Misalnya, anak-anak yang mendapatkan nutrisi yang cukup dan tidur yang berkualitas cenderung memiliki regulasi emosi yang lebih baik dan lebih mampu berinteraksi secara positif dengan teman sebaya mereka. Meskipun pengasuh di Panti Asuhan Pelangi Kasih memainkan peran yang sangat penting dalam mendukung perkembangan perilaku sosial anak-anak, penelitian ini juga mengungkapkan beberapa tantangan signifikan yang mereka hadapi. Tantangan utama yang teridentifikasi adalah keterbatasan sumber daya, baik dalam hal finansial maupun sumber daya manusia. Panti asuhan sering menghadapi kendala anggaran yang membatasi kemampuan mereka untuk menyediakan berbagai program dan fasilitas yang dapat mendukung perkembangan optimal anak-anak. Selain itu, jumlah pengasuh yang terbatas dibandingkan dengan jumlah anak asuh menyebabkan rasio pengasuh-anak yang tinggi.

Rasio pengasuh-anak yang tinggi ini memiliki implikasi serius terhadap kualitas pengasuhan. Pengasuh sering merasa kewalahan dengan tanggung jawab mereka dan kesulitan untuk memberikan perhatian individual yang memadai kepada setiap anak. Akibatnya, beberapa anak mungkin tidak mendapatkan dukungan emosional atau bimbingan perilaku yang mereka butuhkan. Situasi ini dapat berdampak negatif pada perkembangan perilaku sosial anak-anak, terutama bagi mereka yang memiliki kebutuhan khusus atau riwayat trauma.

Tantangan kedua yang diidentifikasi adalah beban kerja yang tinggi yang dihadapi oleh pengasuh. Mereka harus menangani berbagai tugas, mulai dari perawatan fisik hingga dukungan emosional dan pendidikan, untuk sejumlah besar anak. Beban kerja yang berlebihan ini dapat menyebabkan kelelahan dan stres pada pengasuh, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi kualitas pengasuhan yang mereka berikan. Pengasuh yang merasa lelah atau stres mungkin kurang sabar dalam menghadapi perilaku menantang anak-anak atau kurang konsisten dalam penerapan strategi pengasuhan positif.

Tantangan ketiga berkaitan dengan kompleksitas kebutuhan anak-anak di panti asuhan. Anak-anak yang berada di Panti Asuhan Pelangi Kasih seringkali memiliki latar belakang dan pengalaman yang beragam, termasuk riwayat trauma, kehilangan, atau pengabaian. Beberapa anak mungkin menunjukkan masalah perilaku atau emosional yang kompleks sebagai akibat dari pengalaman mereka sebelumnya. Pengasuh harus mampu menangani berbagai kebutuhan ini secara efektif, yang membutuhkan tingkat keterampilan dan pengetahuan yang tinggi.

Namun, penelitian ini menemukan bahwa banyak pengasuh merasa kurang dipersiapkan untuk menangani kompleksitas kebutuhan ini. Mereka sering merasa kekurangan pelatihan khusus dalam menangani trauma anak, manajemen perilaku untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus, atau strategi untuk mendukung perkembangan sosial-emosional anak-anak yang telah mengalami pengabaian atau pelecehan. Kurangnya persiapan ini dapat membatasi efektivitas pengasuh dalam mendukung perkembangan perilaku sosial anak-anak yang memiliki kebutuhan kompleks.

Terlepas dari tantangan-tantangan ini, penelitian juga mengungkapkan beberapa praktik positif yang dilakukan oleh pengasuh di Panti Asuhan Pelangi Kasih dalam mendukung perkembangan perilaku sosial anak-anak. Salah satu praktik yang menonjol adalah upaya pengasuh untuk menciptakan lingkungan yang stabil dan terstruktur. Mereka menetapkan rutinitas harian yang konsisten, yang membantu anak-anak merasa aman dan dapat memprediksi lingkungan mereka. Rutinitas ini mencakup waktu makan bersama, waktu belajar, waktu bermain, dan waktu tidur yang teratur. Struktur dan konsistensi ini membantu anak-anak mengembangkan rasa aman dan kepercayaan, yang merupakan dasar penting untuk perkembangan sosial yang sehat.

Pengasuh juga berupaya untuk menciptakan “keluarga” di dalam panti asuhan. Mereka mendorong ikatan antara anak-anak, mempromosikan rasa persaudaraan dan dukungan timbal balik. Misalnya, anak-anak yang lebih tua sering didorong untuk membantu yang lebih muda, dan pengasuh memfasilitasi kegiatan kelompok yang mempromosikan kerja sama dan empati. Pendekatan ini membantu anak-anak mengembangkan keterampilan sosial penting dan rasa memiliki, yang dapat membantu mengimbangi beberapa dampak negatif dari tidak memiliki keluarga biologis. Selain itu, pengasuh di Panti Asuhan Pelangi Kasih juga berusaha untuk melibatkan anak-anak dalam komunitas yang lebih luas. Mereka mengorganisir kunjungan ke tempat-tempat di masyarakat, mendorong partisipasi anak-anak dalam kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, dan mengundang relawan dari masyarakat untuk berinteraksi dengan anak-anak. Upaya ini membantu anak-anak mengembangkan keterampilan sosial dalam berbagai konteks dan mempersiapkan mereka untuk integrasi yang lebih baik ke dalam masyarakat di masa depan.

Metode Pekerja Sosial

Pendekatan yang digunakan adalah Case Work dari Zastrow.

Tahapan dan Kegiatan:

1.     Dalam tahap engagement, intake, dan kontrak, pekerja sosial memulai proses dengan membangun hubungan yang hangat dan terpercaya dengan D, seorang anak berusia 10 tahun di Panti Asuhan Pelangi Kasih. Pekerja sosial mengadakan pertemuan awal yang ramah di lingkungan yang nyaman, memperkenalkan diri dan menjelaskan perannya dengan bahasa yang sesuai usia D. Selama proses intake, pekerja sosial mengumpulkan informasi dasar tentang D, termasuk latar belakang keluarga dan alasan dia berada di panti asuhan, menggunakan metode yang menyenangkan dan tidak mengintimidasi. Mereka kemudian membuat kontrak sederhana atau “perjanjian pertemanan” dengan D, menjelaskan bagaimana mereka akan bekerja sama dan memastikan D memahami tujuan pertemuan mereka serta hak-haknya selama proses ini.

2.     Proses assessment melibatkan evaluasi menyeluruh terhadap situasi D. Pekerja sosial melakukan observasi perilaku D di panti asuhan dan, jika memungkinkan, di sekolah. Mereka melakukan wawancara bermain dengan D untuk memahami perasaan, pikiran, dan pengalamannya, menggunakan alat assessment yang sesuai usia seperti gambar atau boneka untuk membantu D mengekspresikan diri. Pekerja sosial juga berkonsultasi dengan pengasuh panti, guru D, dan profesional lain yang terlibat dalam perawatan D. Mereka meninjau catatan medis dan pendidikan D jika tersedia untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif tentang kebutuhan dan situasi D.

3.     Dalam proses perencanaan, pekerja sosial mengembangkan rencana intervensi berdasarkan hasil assessment. Mereka melibatkan D dalam proses ini sesuai dengan tingkat pemahamannya, menjelaskan temuan assessment dengan cara yang dapat ia pahami. Bersama-sama, mereka mengidentifikasi tujuan yang sesuai untuk D, seperti “belajar cara baru untuk mengatasi rasa marah” atau “membuat lebih banyak teman”. Pekerja sosial merencanakan kegiatan dan strategi yang menarik dan sesuai usia untuk mencapai tujuan tersebut, memastikan rencana tersebut realistis dan dapat dicapai oleh D.

4.     Proses intervensi melibatkan penerapan rencana yang telah disusun melalui sesi reguler dengan D. Pekerja sosial mungkin menggunakan terapi bermain untuk membantu D mengekspresikan dan mengelola emosi, mengajarkan keterampilan sosial melalui permainan peran dan aktivitas interaktif. Mereka juga bisa menggunakan teknik modifikasi perilaku yang sesuai usia, seperti sistem reward sederhana. Pekerja sosial melibatkan D dalam kegiatan kelompok dengan anak-anak lain di panti asuhan, berkoordinasi dengan pengasuh panti dan guru untuk mendukung perkembangan D, serta melakukan sesi konseling individual yang disesuaikan dengan usia D.

5.     Dalam proses evaluasi, pekerja sosial secara berkala menilai kemajuan D menggunakan metode yang ramah anak, seperti skala wajah untuk mengukur perasaan atau grafik stiker untuk melacak pencapaian. Mereka meminta umpan balik langsung dari D tentang perubahan yang dia rasakan, mengamati perubahan perilaku D di panti asuhan dan sekolah, serta berkonsultasi dengan pengasuh panti dan guru tentang kemajuan D. Berdasarkan evaluasi ini, pekerja sosial meninjau dan menyesuaikan rencana intervensi. Juga merayakan keberhasilan D, sekecil apapun, untuk memotivasi kemajuan lebih lanjut. Seluruh proses ini dilakukan dengan cara yang sensitif terhadap usia dan pengalaman D, menjaga komunikasi terbuka dan selalu memprioritaskan kesejahteraan dan keamanan D.

KESIMPULAN

Peran pengasuh dalam mendukung perkembangan perilaku sosial anak-anak di Panti Asuhan Pelangi Kasih sangat penting dan kompleks. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, pengasuh memainkan peran krusial dalam memfasilitasi perkembangan psikososial anak melalui pemberian dukungan emosional, bimbingan perilaku, dan pemenuhan kebutuhan dasar. Namun, untuk mengoptimalkan peran ini, diperlukan upaya sistematis untuk mengatasi tantangan yang ada, meningkatkan kapasitas pengasuh, dan meningkatkan sumber daya panti asuhan. Dengan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan, Panti Asuhan Pelangi Kasih dapat lebih efektif dalam mempersiapkan anak-anak asuh menjadi individu yang mandiri dan berkontribusi positif bagi masyarakat.

Artikel ini adalah publikasi tugas Praktek Kerja Lapangan dengan Dosen Pengampu Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos.

Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean 


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Peran Perpustakaan Sebagai Navigasi Pengetahuan di Era Teknologi untuk Mahasiswa

redaksi

Cerita Kampus Mengajar Mitra USU: Dina Khatrin Br Hasibuan Mahasiswi jurusan Kesejahteraan Sosial, Tingkatkan Minat Membaca, Menulis, dan Berhitung di SD Negeri 060889 Medan Baru

redaksi

Mengikuti Program Kampus Merdeka, Mahasiswa Kesejahteraan Sosial FISIP USU bergabung dalam Dinas Sosial Kota Medan

redaksi