
Oleh: Naila Ariyati
Suara USU, Medan. Sudah genap 80 tahun Indonesia merdeka dengan segala perjuangan para pahlawan mengusir penjajah dari tanah air ini. Namun, apakah kemerdekaan dalam arti “kebebasan” benar-benar sudah menyelimuti hak perempuan di Indonesia?
Masih banyak perempuan yang bersuara menuntut hak justru berakhir dengan bungkam, bahkan kematian. Penculikan, pemerkosaan, dan pembunuhan kerap terjadi hanya karena ia “perempuan”. Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) karya Mouly Surya menghadirkan potret cara seorang perempuan melawan, menuntut secercah keadilan atas perampasan yang ia alami.
Film berlatar Sumba ini memadukan lanskap tandus perbukitan dan asrinya pesisir Timur Indonesia dengan sinematografi tenang. Posisi kamera jarang bergerak, namun pergerakan para pemeranlah yang menghidupkan cerita. Marlina, diperankan Marsha Timothy, digambarkan sebagai janda tangguh berusia pertengahan 40-an yang hidup sendirian, ditemani mumi suaminya yang belum lama meninggal.
Suatu sore, rumah Marlina yang terpencil disatroni tujuh perampok bersenjata golok. Mereka menjarah, lalu berencana merebut kehormatan Marlina. “Malam ini, kau akan jadi perempuan paling beruntung,” ujar Markus, sang pemimpin. “Sa perempuan paling sial malam ini,” jawab Marlina dengan tatapan kosong menyindir stigma masyarakat terhadap janda yang dianggap haus kasih sayang.
Setelah diperkosa Markus, Marlina memenggal kepalanya. Lima perampok lainnya tewas di tangannya. Dengan kepala Markus di genggaman, ia berjalan menuju kantor polisi, dikejar sisa anggota perampok. Di perjalanan, Marlina bertemu perempuan hamil bernama Novi di dalam bus, simbol dukungan dan empati sesama perempuan atas luka yang tak terucap.
Namun, di kantor polisi, Marlina justru tak diprioritaskan. Ia harus menunggu petugas selesai bermain tenis meja, dan saat memberi keterangan, ia dihadapkan pertanyaan yang menyalahkan korban. Film ini memotret ironi nasib perempuan yang tak hanya dirampas kehormatannya, tetapi juga dibebani stigma, diskriminasi, dan lambannya keadilan di tengah cengkraman patriarki.
Redaktur: Nisya Augia
Leave a comment