
Oleh: Nisyarisha, Aulia A., Rasa M., Ita A. B. Gultom, Viola M. Faiza, Laura A. Situmorang, Asryanita S.
Suara USU, Medan. Di tengah derasnya arus media sosial, cara mahasiswa dalam mengonsumsi informasi mengalami pergeseran besar. Jika dulu sumber utama mereka adalah buku, televisi, atau radio, kini telinga dan gawai menjadi jendela baru menuju pengetahuan. Podcast merupakan media berbasis audio yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja, muncul sebagai simbol perubahan gaya belajar generasi muda.
Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas Sumatera Utara menemukan bahwa fenomena podcast tidak sekadar tren hiburan, melainkan cerminan transformasi perilaku informasi di kalangan mahasiswa Kota Medan. Media ini menawarkan kemudahan, personalisasi, dan kedekatan emosional yang jarang ditemukan dalam format media lain.
Dari Radio ke Layar
Podcast sejatinya adalah bentuk evolusi dari radio. Namun, berbeda dari radio konvensional yang bersifat linier dan bergantung pada jadwal siaran, podcast menghadirkan kebebasan memilih waktu, topik, dan pembicara. Menurut Berry (2016), kekuatan podcast terletak pada sifatnya yang fleksibel dan on-demand, menjadikan pendengar aktif dalam menentukan pengalaman mendengar mereka. Dalam survei terhadap 30 mahasiswa di berbagai universitas Medan, lebih dari separuh responden (54,8%) menyebut media sosial sebagai sumber utama informasi sebelum mengenal podcast. Setelahnya, mayoritas (74,2%) menganggap podcast sebagai media yang cukup membantu, bahkan 22,6% menilai sangat terbantu dalam memperoleh informasi akademik maupun umum. Mahasiswa kini tidak lagi menunggu berita atau pelajaran disajikan oleh media arus utama. Mereka menyeleksi, mengunduh, dan menyimak sendiri topik yang dirasa relevan. Inilah perwujudan teori uses and gratifications yang dikemukakan McQuail (2011): audiens aktif mencari media yang paling memenuhi kebutuhan dan kepuasan mereka.
Antara Edukasi dan Hiburan
Menariknya, podcast yang paling banyak didengarkan bukanlah yang bersifat akademik. Sekitar 51,6% responden memilih genre hiburan dan komedi, diikuti oleh pengembangan diri (30%), sedangkan topik edukatif hanya 9,7%. Walau demikian, para mahasiswa tetap mengaku mendapatkan wawasan baru dari konten ringan yang dikemas dengan cara santai. Salah satu responden menulis, “Podcast sebaiknya menghadirkan materi yang ringan, menarik, dan mudah dipahami agar lebih efektif dan disukai.” Komentar ini menggambarkan kebutuhan akan format pembelajaran yang tidak kaku dan lebih sesuai dengan pola komunikasi generasi digital yang cepat, ringkas, dan interaktif. Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara, Drs. Syafruddin Pohan, M.Si., Ph.D., menilai podcast sebagai bentuk adaptasi terhadap tantangan akses bacaan. “Harga buku yang tinggi dan keterbatasan bahan bacaan membuat mahasiswa beralih ke podcast sebagai alternatif gratis dan praktis,” ujarnya. Meski begitu, ia menekankan bahwa budaya membaca tetap perlu dijaga. “Podcast bagus, tapi jangan sampai membuat mahasiswa melupakan bacaan,” tambahnya.
Podcast dan Literasi Digital
Podcast kini memainkan peran penting dalam meningkatkan literasi digital mahasiswa. Menurut standar Information Literacy dari ALA (2000), literasi informasi mencakup kemampuan mencari, memahami, mengevaluasi, dan menggunakan informasi secara efektif. Melalui podcast, mahasiswa belajar menilai kualitas sumber, memahami konteks, dan mengembangkan kebiasaan berpikir kritis terhadap isi yang mereka dengarkan. Lebih dari sekadar media hiburan, podcast juga dapat menjadi ruang pendidikan kewarganegaraan digital. Winataputra dan Budimansyah (2012) menjelaskan bahwa mahasiswa sebagai warga digital perlu memiliki kesadaran kritis terhadap isu sosial, hukum, dan politik di ruang daring. Podcast yang membahas isu-isu publik dengan pendekatan populer berpotensi menumbuhkan literasi kewarganegaraan dan partisipasi sosial di kalangan mahasiswa.
Antara Mendengar dan Membaca
Meski podcast memberi banyak manfaat, hasil penelitian ini mengingatkan agar mahasiswa tidak sepenuhnya bergantung pada media audio. Mendengarkan memang cepat dan mudah, tetapi membaca tetap tak tergantikan untuk membangun kemampuan analisis yang mendalam. Idealnya, podcast menjadi pintu masuk menuju pengetahuan yang lebih luas. Episode singkat dapat memantik rasa ingin tahu, mendorong pendengar untuk membaca lebih jauh dan berdiskusi secara kritis. Di titik inilah keseimbangan antara mendengar dan membaca menjadi penting, bukan sekadar konsumsi pasif, melainkan praktik belajar reflektif di era digital.
Sebagai penutup, podcast telah menjadi bagian penting dari kehidupan informasi mahasiswa di Kota Medan. Ia merepresentasikan semangat generasi muda yang ingin belajar secara fleksibel dan relevan dengan dunia mereka. Namun, di balik kemudahan itu, tantangan literasi tetap besar: bagaimana menjadikan podcast bukan hanya hiburan yang lewat di telinga, melainkan media pembentuk cara berpikir yang cerdas dan kritis.
Artikel ini merupakan publikasi tugas Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dengan Dosen Pengampu Bapak Onan Marakali Siregar, S.Sos., M.Si
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment