Reporter: Suci Rahmawati Siregar, Nisa Rosanti
Suara USU, Medan. Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Sumatera Utara (USU), berhasil terpilih mengikuti program International Internship hasil kolaborasi Deakin University (Australia) dan USU (Indonesia). Program yang berlangsung selama kurang lebih empat minggu, mulai 13 Januari hingga 6 Februari 2026, ini berfokus pada pengembangan literasi dan pertukaran budaya di Kota Medan.
Kegiatan ini diinisiasi oleh International Internships sebagai penyelenggara utama, yang mempertemukan Deakin University sebagai pengirim mahasiswa dan USU sebagai mitra lokal. Selain itu, program ini juga melibatkan relawan, guru, serta komunitas lokal yang berperan aktif dalam mendukung kelancaran kegiatan dan interaksi dengan masyarakat. Pelaksanaan program dipusatkan di Perpustakaan Yayasan Cinta Baca yang berlokasi di Jalan Sunggal, Medan.
Dalam pelaksanaannya, terdapat enam peserta yang terlibat, terdiri atas empat mahasiswa Deakin University dan dua mahasiswa USU. Para peserta kemudian dibagi ke dalam dua kelompok kerja, yaitu tim Yayasan Cinta Baca dan tim WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia).
Kevin Matthew Nababan, salah satu dari dua mahasiswa USU yang mengikuti program ini, menjelaskan bahwa proses pendaftaran dimulai dari pengumpulan CV. “Proses pendaftaran saya dimulai dari pengumpulan CV kepada pihak penyelenggara, kemudian dilanjutkan dengan sesi interview bersama International Internships. Setelah melalui tahapan tersebut, saya terpilih sebagai salah satu dari dua mahasiswa USU yang mengikuti program ini,” ujarnya dalam wawancara dengan Suara USU (27/04/2026).
Kevin mengungkapkan bahwa motivasinya mengikuti program ini adalah untuk mengembangkan kemampuan komunikasi lintas budaya, keterampilan mengajar, serta memperoleh pengalaman internasional yang relevan dengan bidang studinya. Selama program berlangsung, peserta mengikuti berbagai kegiatan, seperti storytelling, pengembangan kreativitas, culture exchange, menerjemahkan buku berbahasa asing di perpustakaan, mengikuti English Club, serta menyusun buku cerita anak sebagai proyek akhir.
Menurut Kevin, pengalaman yang paling berkesan adalah saat mengenalkan budaya Indonesia kepada mahasiswa asal Australia, mulai dari adat istiadat hingga kekayaan alam. Proses tersebut dilakukan melalui berbagai aktivitas, seperti pertemuan rutin mingguan (weekly catch up), berkeliling Kota Medan dengan mengunjungi sejumlah bangunan bersejarah, serta kegiatan liburan bersama ke kawasan Taman Nasional Gunung Leuser.
Namun, terdapat sejumlah tantangan yang dihadapi selama program berlangsung. “Tantangan yang saya hadapi, khususnya saat mengajar dan berinteraksi, adalah perbedaan bahasa dan cara komunikasi. Saya juga berperan sebagai perantara antara mahasiswa Australia dan pihak Yayasan Cinta Baca. Untuk mengatasinya, saya menggunakan bahasa yang lebih sederhana, memastikan komunikasi dua arah berjalan dengan baik, serta sering melakukan konfirmasi ulang,” ucapnya.
Ia juga menambahkan bahwa tantangan terbesar secara keseluruhan adalah proses adaptasi. “Tantangan terbesar yang saya rasakan adalah beradaptasi dengan lingkungan internasional, baik dari segi budaya, cara kerja, maupun pola komunikasi yang berbeda,” ujarnya.
Kevin menilai pengalaman tersebut turut memengaruhi cara pandangnya dalam menyikapi perbedaan budaya. Ia melihat keberagaman bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai hal yang dapat memperkaya wawasan dan pengalaman. Selain itu, ia juga merasakan dampak positif dari program tersebut. “Dampak yang paling saya rasakan setelah mengikuti program ini adalah meningkatnya kepercayaan diri, kemampuan komunikasi lintas budaya, serta pemahaman yang lebih luas tentang pentingnya literasi dalam masyarakat,” katanya.
Selain itu, Kevin juga mendorong mahasiswa lain untuk berani mencoba mengikuti program serupa. “Program ini mengajarkan bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali, dan seringkali yang membedakan adalah keberanian untuk mencoba,” tutupnya.
Redaktur: Lucy Kezia Simarmata
Leave a comment