Home Opini Mengenali Silent Call Sebagai Modus Kejahatan Digital Baru dalam Masyarakat
Opini

Mengenali Silent Call Sebagai Modus Kejahatan Digital Baru dalam Masyarakat

Share

Oleh: Anastasyia Sitinjak

Suara USU, Medan. Era digital yang berkembang pesat tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga memicu munculnya jenis kejahatan dan gangguan baru yang dilakukan secara daring. Salah satu femomena yang kini marak terjadi adalah fenomena silent call atau panggilan tanpa suara. Gangguan ini perlahan mulai menjadi bagian dari keseharian masyarakat yang kehadirannya tentu tidak diinginkan. Telepon yang seharusnya berfungsi sebagai alat komunikasi justru menghadirkan keresahan dan tanda tanya besar bagi penggunanya.

Sekilas, masyarakat awam menganggap bahwa silent call merupakan suatu kesalahan teknis semata. Namun, di balik keheningan tersebut, tersimpan praktik kejahatan yang kompleks dan sangat mengkhawatirkan. Data dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menunjukkan bahwa 60% pengguna seluler di Indonesia menerima spam call setidaknya sekali dalam seminggu. Angka ini membuktikan bahwa silent call bukanlah kejadian yang acak, melainkan masalah sistemik yang telah dialami oleh banyak orang.

Chairman Communication & Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha, menjelaskan bahwa jika telepon dari nomor asing datang berulang kali dalam waktu singkat, hal itu dapat menjadi indikasi bahwa nomor seseorang telah masuk ke dalam basis data pelaku. Senada dengan hal tersebut, Dosen Ilmu Komputer IPB University, Dr. Eng Heru Sukoco, S.Si, MT, menyebutkan bahwa panggilan hening ini merupakan bagian dari skema penipuan berbasis telepon. Modus ini termasuk dalam praktik social engineering yang memanfaatkan kelengahan dari para korbannya.

Terdapat beragam tujuan dari panggilan ini, mulai dari sekadar memverifikasi apakah sebuah nomor masih aktif, memancing korban untuk menelepon kembali (call back), hingga mengumpulkan data untuk serangan lanjutan. Risiko yang mengintai pun tidak dapat dianggap sepele. Nomor korban berpotensi diarahkan pada skema penipuan seperti pencurian One-Time Password (OTP), phishing, hingga terhubung ke nomor premium berbiaya tinggi jika korban melakukan panggilan balik. Bahkan, jika korban terlanjur mengangkat telepon, disarankan untuk tidak langsung mengucapkan “halo” karena rekaman suara tersebut dapat disalahgunakan oleh pelaku.

Secara teknis, pelaku umumnya memanfaatkan teknologi Voice over Internet Protocol (VoIP) untuk menyamarkan aksinya. Teknologi ini memungkinkan nomor telepon dimanipulasi sedemikian rupa sehingga sulit untuk dilacak, mudah berubah dalam waktu singkat, dan efektif untuk mengecoh korban. Laporan dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) juga memperkuat fakta bahwa modus panggilan misterius ini kerap digunakan sebagai tahap awal verifikasi nomor sebelum melancarkan penipuan digital yang lebih berat.

Meskipun demikian, kita harus tetap objektif bahwa tidak semua silent call memiliki tujuan yang buruk. Ada kemungkinan panggilan tersebut berasal dari nomor penting yang tidak dikenal atau murni karena terjadinya gangguan jaringan. Namun, potensi risiko yang menyertainya jauh lebih besar untuk diabaikan begitu saja.

Fenomena ini membawa dampak signifikan bagi masyarakat, terutama dari sisi psikologis. Panggilan tanpa suara yang terjadi berulang kali dapat menimbulkan rasa cemas karena ketidaktahuan mengenai identitas dan tujuan si penelepon. Kondisi ini membuat masyarakat menjadi lebih waspada, bahkan cenderung curiga terhadap setiap panggilan dari nomor asing.

Dampak sosialnya, kepercayaan masyarakat terhadap teknologi komunikasi juga semakin menurun. Sarana yang seharusnya mempermudah interaksi justru berubah menjadi sumber gangguan. Akibatnya, banyak orang memilih untuk mengabaikan semua panggilan dari nomor tidak dikenal. Perubahan perilaku ini menunjukkan bahwa gangguan digital secara nyata telah memengaruhi pola komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Lantas, bagaimana cara mencegahnya? Langkah pertama adalah tetap tenang dan tidak panik. Masyarakat dapat memaksimalkan fitur yang tersedia pada perangkat masing-masing, seperti label spam otomatis yang membantu mengidentifikasi panggilan mencurigakan. Selain itu, aplikasi pihak ketiga seperti Truecaller atau Hiya dapat menjadi alternatif untuk melacak dan memfilter nomor yang terindikasi sebagai spam. Mengaktifkan fitur pemblokiran panggilan pada ponsel juga dapat menjadi langkah preventif yang krusial.

Silent call bukanlah sekadar gangguan kecil yang dapat diabaikan. Fenomena ini adalah gejala dari permasalahan yang lebih kompleks dalam ekosistem digital saat ini. Perhatian kolektif, mulai dari ketegasan pemerintah, pengawasan penyedia layanan, hingga kesadaran diri masyarakat sangat dibutuhkan untuk mencegah dampak yang lebih buruk. Hal ini penting dilakukan agar ruang digital tetap menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siapa saja untuk berkomunikasi.

Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.