Oleh: Tania Renata Panjaitan
Teh hangat di atas tenun sederhana
Aromanya menggaungkan damai
Hangatnya mengiringi sunyi yang ramah
Remah kasih yang dinanti ayah di bawah langit biru
Lintang dan rembulan melukis kilau
Detik-detik sunyi kesukaan ibu
Lelahnya berteduh sejenak
Remah kasih yang senantiasa menjaga nyala ibu
Swastamita hadir
Merajut semburat jingga hingga ke ufuk nabastala
Dengan semilir angin yang terbang menemani
Remah kasih yang memekarkan tenang dalam gundah adik
Insan hidup dengan serpih yang menahannya tinggal
Lantunan berderap dari radio usang
Dialog yang tak sempat diucap,
aroma kertas yang menua bersama tuannya
Kita namakan ia remah kasih
Remah kasih…
Si pemeluk hari yang hampir runtuh
Remah kasih untuk tetap hidup
Redaktur: Fatimah Roudatul Jannah
Leave a comment