Reporter: Christy Cherina Br ginting
Papua adalah salah satu wilayah yang kaya akan warisan budaya di Indonesia, kekayaan itu tidak hanya terlihat dari tarian atau adat istiadatnya, melainkan juga dari kuliner. Salah satunya adalah warisan kuliner yang penuh cita rasa, yaitu Udang Selingkuh. Udang Selingkuh adalah hidangan ikonik seperti lobster air tawar yang kaya akan cita rasa dan protein yang sangat tinggi. Kuliner khas ini merupakan ciri khas dari Papua karena habitat aslinya ada di sungai-sungai dataran tinggi di Papua pada ketinggian 1.650-1750 meter di atas permukaan laut. Keberadaannya yang terbatas membuatnya menjadi salah satu kuliner yang sangat khas dan bernilai budaya tinggi.
Udang Selingkuh bukan seperti udang pada umumnya tetapi merupakan hewan air tawar yang bentuknya seperti gabungan dari udang dan kepiting. Penduduk lokal percaya bahwa bentuk yang unik dari udang ini merupakan hasil perselingkuhan antara udang dan kepiting, sehingga disebut sebagai udang selingkuh. Bentuknya menyerupai udang berukuran besar dan mempunyai capit seperti kepiting, sehingga banyak warga lokal yang menyebutnya juga sebagai lobster air tawar.
Udang Selingkuh hanya hidup di tempat tertentu, seperti sungai-sungai di pegunungan tengah Papua seperti Sungai Baliem, Danau Tage, dan Danau Tigi yang sangat bersih dan dingin. Selain itu, dalam proses menangkapnya juga sulit dilakukan karena masyarakat lokal masih menggunakan alat tradisional, arus sungai yang tidak dapat dikendalikan, juga strategi penangkapan yang harus bijak agar ekosistem tidak terganggu, hal-hal inilah yang menyebabkan sulitnya memperoleh kuliner ini. Hingga saat ini belum banyak masyarakat di sekitar Wamena yang sanggup membudidayakan udang selingkuh dan lebih memilih menangkapnya di alam bebas.
Keberadaannya yang terbatas membuat harga Udang Selingkuh tergolong cukup tinggi. Warga biasanya menjual hasil tangkapannya ke pasar-pasar tradisional. Kemudian restoran membeli secara langsung untuk diolah menjadi hidangan khas. Pada musim tertentu, kelangkaan dapat membuat harganya mencapai Rp1.000.000. per plastik, bahkan di daerah asalnya sendiri.
Demi mencegah semakin berkurangnya populasi Udang Selingkuh di habitatnya, Balai Perikanan Budi Daya Air Tawar Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan Perikanan membuat terobosan. Mereka mengembangkan teknologi budi daya lobster air tawar ini secara terpadu di Tatelu, Sulawesi Utara. Upaya ini diharapkan dapat menjaga populasi Udang Selingkuh sekaligus mendukung ketahanan pangan lokal.
Dalam budaya Papua, terutama di Wamena, Udang Selingkuh memiliki tempat khusus. Wisatawan yang datang kerap disambut dengan hidangan ini sebagai simbol kebanggaan masyarakat setempat. Rasanya yang manis, gurih, dan bertekstur tebal menjadikannya hidangan yang wajib dicoba ketika mengunjungi Papua. Dagingnya yang padat dan lembut tetap terasa lezat meskipun dimasak dengan bumbu yang sederhana. Biasanya kuliner ini disajikan dalam berbagai olahan seperti udang selingkuh bakar, goreng, atau saus pedas, dan ditemani dengan tumis kangkung sebagai pelengkap.
Selain rasanya yang khas, Udang Selingkuh juga memiliki kandungan gizi yang sangat baik. Kuliner ini dikenal tinggi protein, kalsium, serta mineral seperti selenium, fosfor, magnesium, sodium, dan zinc. Kandungan kalorinya pun rendah, sehingga menjadi pilihan makanan laut yang sehat dan bergizi.
Dengan cita rasa yang istimewa, keunikan bentuk, dan nilai budaya yang melekat kuat, Udang Selingkuh tidak sekadar kuliner lezat, tetapi juga bagian dari warisan budaya kuliner Papua yang patut dijaga dan dikenalkan lebih luas kepada masyarakat Indonesia maupun dunia. Untuk merasakan cita rasa khas yang tak terlupakan, pastikan untuk mencoba Udang Selingkuh saat berkunjung ke Papua.
Redaktur: Nurur Rahmah
Leave a comment