Home Sosok Rosita Istiawan, Sang Pionir Perubahan Lingkungan
Sosok

Rosita Istiawan, Sang Pionir Perubahan Lingkungan

Share

Reporter : Siti Aisyah

Di tengah derasnya arus pembangunan yang sering kali mengabaikan kelestarian alam, nama Rosita Istiawan muncul sebagai figur yang memilih berdiri di sisi yang berlawanan. Ketika banyak pihak melihat lahan kosong sebagai peluang untuk memperluas bangunan atau memperbesar keuntungan, Rosita justru melihat ancaman bagi ekosistem, bagi keberlangsungan ruang hidup, dan bagi masa depan generasi yang akan datang. Dari kepedulian itulah langkahnya dimulai, menjadikannya salah satu sosok paling berpengaruh dalam upaya menghijaukan kembali kawasan Megamendung, Bogor.

Kisah perjuangan Rosita bermula dari keprihatinan melihat lahan di Megamendung yang semakin tergerus. Wilayah yang semestinya berfungsi sebagai resapan air dan penyangga ekologis justru kian dipadatkan dengan bangunan. Pohon ditebang, bukit diratakan, dan ruang hijau perlahan menghilang. Bagi sebagian orang, kondisi ini dianggap sebagai “konsekuensi pembangunan”. Namun bagi Rosita, ini bukan sekadar perubahan lanskap semata melainkan tanda bahaya. Ia memahami bahwa hilangnya fungsi ekologis dapat memunculkan kerentanan baru seperti banjir, erosi, hingga rusaknya kualitas air. Ia tahu bahwa sekali lahan kritis dibiarkan, maka kerusakan berikutnya hanya tinggal menunggu waktu.

Berangkat dari kesadaran tersebut, Rosita memilih untuk tidak hanya mengeluhkan keadaan. Ia bergerak. Ia merancang program pemulihan ekologis yang tidak sekadar menanam pohon sebagai simbol, tetapi memulihkan fungsi ekologis kawasan secara menyeluruh. Dalam proses itu, Rosita menunjukkan kepemimpinan yang tidak banyak orang miliki yaitu sebuah keberanian. Ia berdiri di tengah-tengah pro dan kontra, di antara orang-orang yang ingin mempertahankan ruang hijau dan pihak-pihak yang ingin memanfaatkan lahan secara berlebihan.

Reforestasi Megamendung menjadi bagian penting dalam perjalanan keterlibatan Rosita di bidang lingkungan. Rosita memulai dari hal paling mendasar dengan mengidentifikasi jenis tanaman yang cocok, memahami kondisi tanah, memetakan area yang paling membutuhkan intervensi, sekaligus memastikan bahwa proses penanaman tidak berhenti pada kegiatan seremonial tahunan. Bersama komunitas, relawan, serta warga sekitar, ia menanam kembali ratusan hingga ribuan pohon dengan sistem perawatan yang berkelanjutan. Ia menghidupkan kembali apa yang sebelumnya dianggap tidak terselamatkan.

Namun hal yang membuat kiprahnya semakin menonjol bukan hanya jumlah pohon yang ia tanam, melainkan cara ia melibatkan masyarakat. Rosita memahami bahwa pelestarian alam tidak akan berhasil jika hanya dikerjakan segelintir orang. Oleh karena itu, ia membangun kesadaran, mengajak warga untuk ikut serta, memberikan edukasi, dan menegaskan bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama. Langkah ini menjadikan reforestasi Megamendung sebagai gerakan kolektif, bukan proyek individual.

Dalam setiap prosesnya, Rosita menunjukkan kualitas kepemimpinan yang tegas namun penuh empati. Ia mendengarkan kekhawatiran warga, berhadapan langsung dengan pihak-pihak yang tidak sependapat, dan tetap menjalankan prinsip ekologis meski mendapat tekanan. Keberaniannya mempertahankan ruang hijau membuat banyak orang menaruh hormat. Ia menjadi sosok yang tidak hanya bicara tentang lingkungan, tetapi melakukannya dengan konsisten dan nyata.

Kini, kawasan Megamendung yang ia perjuangkan menunjukkan perubahan. Area yang dulu tandus mulai kembali hijau. Burung kembali datang, tanaman tumbuh stabil, dan fungsi ekologis perlahan pulih. Tidak sedikit warga yang merasakan manfaatnya udara lebih sejuk, erosi berkurang, dan ruang hidup menjadi lebih nyaman. Semua itu tidak terjadi dalam semalam, tetapi berlangsung berkat upaya panjang yang Rosita jalani.

Kontribusinya membuatnya pantas disebut sebagai pionir lingkungan. Ia hadir bukan sebagai aktivis yang sekadar menyuarakan kekhawatiran, tetapi sebagai sosok yang mengeksekusi solusi. Dalam bayang-bayang pembangunan yang kadang mengabaikan kelestarian, Rosita menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus selalu berarti mengorbankan alam. Bahwa ruang hijau bukan hambatan, tetapi fondasi bagi kehidupan yang berkelanjutan.

Di tengah banyaknya orang yang berlomba memanfaatkan alam, Rosita memilih jalan berbeda yaitu jalan yang melindungi, merawat, dan menghidupkan kembali. Dan dari pilihan itulah ia menjadi sosok yang layak diingat sebagai penjaga hijau yang berdiri tegak ketika yang lain memilih abai. 

Kegigihan Rosita dalam memperjuangkan pemulihan Megamendung juga membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah sederhana. Ia tidak datang dengan slogan besar atau program bertaraf nasional. Yang ia bawa hanyalah keyakinan bahwa satu kawasan hijau yang terselamatkan dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih luas. Dan keyakinan itulah yang kini terlihat hasilnya yakni hamparan hijau yang tumbuh kembali, masyarakat yang lebih sadar lingkungan, serta ekosistem yang mendapatkan kesempatan untuk pulih.

Redaktur: Katrin Alina

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.