SUARA USU
Buku Entertaiment

Selamat Tinggal, Sebuah Buku tentang Curahan Seorang Penulis dan Sindiran terhadap Pembajak

Penulis: Tsabitah Syafanaura

Suara USU, Medan. “Selamat Tinggal” adalah salah satu novel karya Tere Liye yang telah diterbitkan pada tahun 2020 yang lalu oleh Gramedia Pustaka Utama. Hal yang menjadi menarik dalam novel “Selamat Tinggal” adalah novel ini juga berisikan tentang curahan seorang penulis dalam kesehariannya. Novel ini juga berisikan tentang sindiran terhadap para pembajak dengan buku bajakan sebagai poin utama pokok bahasan dalam novel “Selamat Tinggal” ini.

Berkisah tentang seorang mahasiswa abadi bernama Sintong yang berasal dari Pulau Sumatera. Ia dijuluki demikian karena tak kunjung menyelesaikan skripsinya. Padahal, Sintong adalah salah satu mahasiswa yang berprestasi di sebuah universitas ternama di Pulau Jawa.

Sintong merupakan mahasiswa yang berprestasi pada awal semesternya. Ia yang memiliki hobi membaca dan menulis kerap kali tulisannya dimuat pada koran-koran nasional. Ia juga merupakan mahasiswa aktif dalam berorganisasi bahkan menjadi salah satu pengurus organisasi jurnalistik di kampusnya.

Akan tetapi, semua prestasi cemerlang Sintong dalam kepenulisan bak hilang ditelan bumi. Ia mendadak berhenti dalam dunia kepenulisan dan juga dalam kuliahnya, sehingga ia tak dapat lulus tepat waktu bersama teman-teman seangkatannya. Selama kuliah ia menjaga sebuah toko buku milik pamannya sebagai balasan pamannya yang telah membiayai kuliahnya. Dibalut dengan kisah romansa antara Sintong dan cinta pertamanya ketika menduduki bangku SMA, Sintong dan kisahnya sebagai mahasiswa abadi, memberikan banyak pembelajaran bagi Sintong terutama ketika menyusun skripsinya, sebuah pelajaran dan keinginan untuk berubah meninggalkan hal yang buruk dan menjadi lebih baik.

Selain menyajikan kisah kecil Sintong dalam menghadapi hari harinya sebagai mahasiswa abadi, banyak pesan yang dapat diambil dari novel ini, terutama terkait pembajakan buku dan karya lainnya hingga kritikan terhadap penerbit.

Novel ini banyak mengungkapkan keresahan seorang penulis. Tak hanya itu, juga terdapat keresahan dalam dunia seni seperti pembajakan terhadap film, buku, musik, dituangkan dalam novel setebal 360 halaman ini. Pada novel ini juga ini menggambarkan orang-orang yang berkarya yang telah dirugikan oleh orang-orang yang membajak. Bagaimana seorang penulis buku tidak mendapatkan keuntungan apapun jika bukunya telah dibajak, sementara pada sisi lainnya yaitu para pembajaknya beralasan ingin menyediakan versi murah agar dapat membantu pembeli dalam memperoleh barang dengan harga yang terjangkau.

“Kamu merasa lebih mulia. Penulis-penulis itu lebih baik? Alaa, penulis-penulis itu juga penjahat, mereka menulis juga mengambil ide orang lain. Plagiat, penjiplak. Mengetik dengan software bajakan. Mereka juga pasti pernah menikmati benda bajakan. Sama saja. Lagi pula, ilmu pengetahuan itu milik Tuhan, bukan milik penulis. Siapapun bisa menjual buku mereka.” –kutipan dalam novel “Selamat Tinggal”

Novel “Selamat Tinggal” ini juga menyuarakan dan memberi kritikan terhadap penerbit yang hanya mementingkan keuntungan. Pandangan penulis terhadap penerbit diharapkan agar lebih memperhatikan dalam mengembangkan dunia literasi, tak hanya sekedar menerbitkan naskah yang kira-kira akan laris dibeli orang. Maka demikian, tidak ada bedanya antara penerbit buku dan para pembajak buku, yaitu mencari naskah buku yang sekiranya akan laris dibeli orang lalu menerbitkannya untuk dijual dengan harga murah akan tetapi tanpa membayar royalti kepada penulisnya.

Tak dapat dipungkiri, fenomena pembajakan masih berlangsung hingga era saat ini. Terlebih saat ini banyak terjadi pembajakan dalam dunia industri kreatif, baik itu dalam bentuk karya bahkan juga terjadi pembajakan perangkat lunak. Novel ini juga memberi pandangan terhadap pembaca serta ajakan untuk berhenti melakukan pembajakan karya dan menggunakan hasil bajakan.

Redaktur: Grace Silva


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Perjuangan dan Kehilangan dalam Laut Bercerita

redaksi

Lagu “Asmalibrasi” Dipertanyakan, Apakah Lirik Lagu Harus Sesuai Logika?

redaksi

Chicken Soup For the Soul: Waktunya Berkembang, Ramuan Kisah Untuk Refleksi Diri

redaksi