Home Kabar Kampus Sikap Apatisme Mahasiswa Jadi Pembahasan dalam Debat Pemira USU 2026
Kabar Kampus

Sikap Apatisme Mahasiswa Jadi Pembahasan dalam Debat Pemira USU 2026

Share

Oleh: Dhita Luna, Dinda Sajidah, dan Suci Lestari

Suara USU, Medan. Sikap apatisme mahasiswa dalam organisasi kampus menjadi pembahasan utama dalam kegiatan debat pasangan calon (paslon) Pemilihan Raya (Pemira) Universitas Sumatera Utara (USU) 2026 yang digelar pada Selasa (14/4) di Gedung Student Center USU. Debat Pemira tahun ini mengangkat tema “Meningkatkan Partisipasi Mahasiswa dalam Organisasi: Tantangan dan Solusi di Era Apatisme”.

Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa dari berbagai fakultas, perwakilan Direktorat Kemahasiswaan dan Kealumnian (Ditmawalumni) USU dan berbagai organisasi kampus. Debat berlangsung dalam lima segmen, yaitu penyampaian visi-misi, tanya jawab panelis, debat antar kandidat, diskusi terbuka dengan audiens dan closing statement dari masing-masing kandidat. 

Segmen tanya jawab dibuka dengan pertanyaan dari seorang panelis mengenai cara menyeimbangkan nilai akademik dan keaktifan dalam berorganisasi. Menanggapi hal tersebut, masing-masing pasangan calon (paslon) menyampaikan pandangannya.

Paslon nomor urut satu menyatakan bahwa kegiatan organisasi dan prestasi akademik dapat berjalan beriringan. “Prestasi dan organisasi bisa berjalan bersamaan, karena organisasi juga dapat mendukung prestasi akademik mahasiswa,” ungkapnya. Sementara itu, paslon nomor urut dua menilai bahwa organisasi menjadi wadah untuk menyalurkan minat dan bakat mahasiswa. Terkait manajemen waktu, ia menekankan pentingnya kemampuan mahasiswa dalam menentukan prioritas utama.

Di sisi lain, paslon nomor urut tiga berpendapat bahwa tanggung jawab mahasiswa tidak hanya terbatas pada bidang akademik, tetapi juga mencakup keaktifan dalam berorganisasi yang dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa maupun masyarakat luas.

Berbagai persoalan mendasar yang belum terselesaikan dibahas dalam debat ini, seperti rendahnya kepercayaan mahasiswa terhadap organisasi kampus. Hal ini disampaikan oleh salah satu audiens dalam sesi diskusi yang mempertanyakan integritas serta komitmen para paslon. Ia menilai bahwa lemahnya tanggung jawab dan transparansi menjadi salah satu penyebab munculnya sikap apatis di kalangan mahasiswa. “Jika organisasi mudah keluar masuk tanpa komitmen yang jelas, wajar jika mahasiswa kehilangan kepercayaan,” ujarnya.

Menanggapi hal tersebut, paslon nomor urut satu mengungkapkan bahwa keputusan untuk maju dalam kontestasi telah melalui pertimbangan bersama tim. Mereka menegaskan komitmen untuk memperkuat integritas organisasi dan meningkatkan keterlibatan mahasiswa melalui program kerja yang inklusif.

Sementara itu, paslon nomor urut tiga menawarkan pendekatan berbasis data dengan menghimpun aspirasi dari 16 fakultas. Mereka menilai bahwa rendahnya partisipasi mahasiswa tidak hanya disebabkan oleh apatisme, tetapi juga minimnya akses dan ruang representasi yang inklusif.

Selain isu partisipasi, debat juga menyoroti kelemahan dalam sistem kelembagaan organisasi kampus. Salah satu audiens mempertanyakan mengenai penerapan trias politika, terutama terkait fungsi pengawasan oleh lembaga legislatif mahasiswa dan peran lembaga yudikatif yang dinilai belum berjalan efektif pada periode sebelumnya. Kondisi tersebut dinilai berdampak pada lemahnya akuntabilitas organisasi. Menjawab pernyataan tersebut, para calon menyampaikan komitmen untuk membangun komunikasi dan hubungan yang terus berjalan dengan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) dan Mahkamah Mahasiswa (MM).

Kegiatan ini diselenggarakan tidak hanya sebagai bagian dari rangkaian Pemira USU, tetapi sekaligus menjadi ruang edukasi politik kampus bagi civitas kampus. Bambang Riyanto S. S., M. Si, selaku Ketua Pusat Prestasi Mahasiswa (Puspresma) menyampaikan bahwa tingginya antusiasme mahasiswa yang hadir menunjukkan semangat demokrasi di lingkungan kampus masih berjalan dengan baik.

Ia menilai forum debat ini menjadi sarana pembelajaran penting bagi mahasiswa untuk memahami proses demokrasi secara langsung. “Debat ini bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi bagaimana mahasiswa belajar berproses, menyampaikan gagasan, dan membangun kapasitas diri dalam organisasi,” ujarnya.

Dengan berlangsungnya debat ini, mahasiswa tidak hanya menjadi penonton melainkan dapat terlibat dalam proses demokrasi yang dinilai penting sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Redaktur: Muhassanah Nasution

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.