SUARA USU
Opini

Sikap Perfeksionis dapat Mengganggu Kesehatan Mental?

Sikap Perfeksionis dapat Mengganggu Kesehatan Mental? – Suara USU
Sikap Perfeksionis dapat Mengganggu Kesehatan Mental? – Suara USU

Oleh: Nurur Rahmah

Suara USU, Medan. Apa itu perfeksionis? Sobat Suara USU pasti sudah tidak asing dengan kata ini. Jika mendengar kata perfeksionis, mungkin orang-orang akan memikirkan kata ‘sempurna’. Mengapa begitu?

Hal ini dikarenakan perfeksionis merupakan sebuah pandangan dan tipe kepribadian yang dimana seseorang tersebut memiliki keinginan agar segala sesuatu yang dikerjakan akan berjalan dengan sempurna.

Sebenarnya tidak ada yang salah mengenai sikap perfeksionis yang dimiliki seseorang. Bahkan orang-orang dengan sikap perfeksionis cenderung memiliki kelebihan yang salah satunya yaitu lebih giat dalam bekerja untuk mencapai hasil yang diinginkan. Namun, sikap perfeksionis yang terlalu berlebihan nyatanya juga menimbulkan dampak negatif bagi seseorang tersebut maupun orang-orang yang di sekitarnya.

Orang-orang dengan sikap perfeksionis menginginkan segala sesuatu terjadi sesuai dengan standar yang mereka inginkan ataupun lebih. Bukan hanya itu, orang-orang dengan sikap tersebut biasanya memiliki tingkat kecemasan yang tinggi terhadap sesuatu yang sedang mereka lakukan. Hal ini dikarenakan mereka takut dikritik ataupun hasil kerja mereka tidak diterima oleh orang lain dan mereka akan lebih cemas jika hasil yang mereka peroleh tidak sesuai dengan standar yang mereka buat.

Rasa cemas yang terus menerus timbul akan membuat mereka stres dan tidak pernah puas dengan hasil kerja keras mereka, padahal sebenarnya hasil kerja yang dicapai sudah cukup baik. Oleh karena itu, orang-orang dengan sikap ini cenderung tidak bahagia dan bekerja terlalu keras yang menimbulkan kelelahan fisik. Perfeksionis yang terlalu berlebihan juga dapat mengganggu kesehatan mental.

Ada beberapa cara dalam mencegah sikap perfeksionis yang berlebihan yaitu dengan membuat standar yang masih masuk akal dan bisa dicapai, melawan rasa takut akan kegagalan, menerapkan pola pikir bahwa yang penting adalah prosesnya dan abaikan hasil akhirnya. Apabila kecemasan telah berlebihan dan mengganggu aktivitas sehari-hari, seseorang tersebut juga bisa berkonsultasi secara langsung dengan psikolog.

Redaktur: Grace Silva


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Misteri Bangku Depan Kelas Mahasiswa: Mengapa Banyak yang Kosong?

redaksi

Ujian Tengah Semester Pertama: Tantangan dan Pembelajaran Baru Bagi Mahasiswa Baru 2023

redaksi

Kebebasan Miras, Untung atau Rugi?

redaksi