Home Tulisan Simbol Kekuasaan dan Penindasan dalam Cerpen “Pispot” oleh Hamsad Rangkuti
Tulisan

Simbol Kekuasaan dan Penindasan dalam Cerpen “Pispot” oleh Hamsad Rangkuti

Share
Sumber: Kompasiana

Oleh: Febrina Dwiputri Sigalingging, Erika Br Nababan, Leli Zaluhu, Rejeki Sinaga 

Suara USU, Medan. “Tradegi terakhir bukanlah penindasan dan kekejaman oleh orang-orang jahat, tetapi kebungkaman atas itu oleh orang-orang baik” (Martin Luther King Jr.).

Hamsad Rangkuti adalah seorang sastrawan yang menulis cerita pendek terkenal. Salah satu judul cerpen yang ia tulis adalah cerpen “Pispot”. Cerpen ini menggambarkan bagaimana pispot sebagai simbol dan penindasan, yang merupakan salah satu karya sastra yang menyajikan kritik sosial dengan kuat. Namun, seperti yang kita tahu bahwa pispot adalah alat yang berfungsi sebagai wadah bagi urin atau tinja seseorang yang tidak dapat menggunakan toilet. Tetapi berbeda arti dalam cerita ini, Rangkuti mengatakan bahwa pispot bukan hanya sekadar benda fungsional, tetapi memiliki makna simbolis dalam cerpen ini.

Dalam cerpen “Pispot”, ini digunakan sebagai alat dominasi oleh mereka yang berkuasa sekaligus menjadi simbol penderitaan bagi mereka yang tertindas. Seperti yang dialami lelaki yang menjadi tersangka dalam cerpen. Melalui interaksi tokoh-tokoh, seperti cerpen ini menggambarkan bagaimana kekuasaan dapat digunakan untuk merendahkan dan mengontrol orang lain. Si tersangka tidak berdaya untuk menahan aniaya yang dialaminya saat ia diperlakukan seperti layaknya binatang oleh polisi. Ia dituduh mengambil barang berharga seperti kalung yang dimiliki seorang wanita (perempuan). Ada beberapa kutipan yang menunjukkan penindasan serta kekerasan, yang menunjukkan:

  1. “Suruh dia minum obat pencahar! Apa itu? Garam Inggris?”

  2. “Betul, Pak,” kata bawahannya.

  3. “Bagus, dan tampung!”

Mereka pun mulai memaksa lelaki itu untuk menelan obat pencahar. Tetapi lelaki itu tidak mau meminumnya. Dia tidak mau membuka mulut. Mereka mulai keras. Gelas yang berisi larutan garam Inggris itu mereka sodokkan ke mulutnya seperti orang yang menggigit. Kemudian dia terlempar lagi dari kursi.

  1. “Minum! Apakah kau tidak bisa minum!?” Dia bertelekan sudut meja untuk bisa bangkit dari tempat dia tersungkur.

  2. “Kupas pepaya itu! Dan kasih dimakan!”

Dalam dialog di atas, dari dialog yang [1] sampai [5], terlihat bahwa tersangka mengalami penindasan oleh para polisi karena tersangka diduga mencuri sebuah perhiasan yang beratnya lima belas gram. Dari dialog di atas dapat kita lihat bahwa ini menunjukkan adanya kekuasaan, seperti polisi yang memiliki kekuasaan sehingga melakukan hal apa pun itu dengan sesuka hati tanpa menerapkan rasa kemanusiaan dan aturan sosial terhadap tersangka. Selain itu, polisi juga melakukan kekerasan fisik seperti membanting dan melempar tersangka, sehingga tersangka mengalami luka dan mengeluarkan darah dari bibirnya. Ini menggambarkan secara tajam tentang realitas sosial yang penuh ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan.

Dapat kita lihat, pispot juga menjadi simbol penindasan bagi mereka yang berada dalam posisi lemah. Seperti yang dialami si tersangka secara tertindas, ia dipaksa menerima perlakuan buruk tanpa memiliki kekuatan untuk melawan. Hal ini mencerminkan bagaimana dalam kehidupan nyata, mereka yang tidak memiliki kekuasaan sering kali terjebak dalam sistem yang menindas dan sulit untuk keluar darinya. Seperti yang dijelaskan oleh Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed (1970), kelompok tertindas cenderung kehilangan kesadaran kritis mereka karena telah lama hidup dalam kondisi yang tidak adil. Dalam cerpen ini, pispot menjadi simbol dari keadaan di mana penindasan dianggap sebagai sesuatu yang wajar dan tak terelakkan.

Sebagai simbol kekuasaan, pispot dalam cerita ini digunakan oleh “Aku” dan polisi yang berkuasa untuk menunjukkan dominasi mereka. Kekuasaan yang digambarkan ada juga dalam bentuk kekerasan fisik, melalui simbol-simbol yang mempermalukan dan menanamkan rasa takut. Discipline and Punish (1977) menjelaskan bahwa kekuasaan sering kali bekerja melalui simbol dan aturan sosial yang membuat orang lain tunduk. Pispot dalam cerpen ini menjadi alat penghinaan yang mengukuhkan hierarki sosial yang timpang.

Melalui Pispot, Rangkuti berhasil menyampaikan kritik tajam terhadap ketimpangan sosial. Pispot dalam cerita ini bukan hanya sekadar benda biasa, tetapi juga alat yang merepresentasikan bagaimana kekuasaan bisa digunakan untuk menindas orang lain. Cerpen ini mengajak kita sebagai pembaca untuk merenungkan bagaimana hierarki sosial dan penyalahgunaan kekuasaan masih menjadi masalah dalam kehidupan sehari-hari. Dengan simbolisme yang kuat, Pispot menjadi karya sastra yang relevan dalam memahami dinamika kekuasaan dan penindasan dalam masyarakat.

Artikel ini adalah publikasi tugas Mata Kuliah Apresiasi dan Kritik Sastra dengan Dosen Pengampu Bapak Jakaria, S.S., M.A

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.