Home Tulisan Tak Ingin Punya Anak, Bukan Berarti Trauma
Tulisan

Tak Ingin Punya Anak, Bukan Berarti Trauma

Share
Sumber foto: Antara News

Oleh: Jihan Marwa Alya

Suara USU, Medan. Fenomena childfree, yakni keputusan untuk tak memiliki anak, menjadi isu yang sering diperdebatkan dalam masyarakat Indonesia di era kontemporer ini. Sementara itu, childfree sendiri diartikan sebagai keputusan yang dipilih secara sadar oleh individu atau pasangan karena berbagai alasan, seperti kebebasan, karier, kesehatan mental, atau pandangan hidup tertentu. Fenomena ini mencerminkan perubahan signifikan dalam pandangan terhadap pernikahan di Indonesia. Hal ini semakin populer dikarenakan opini yang disampaikan oleh salah satu YouTuber, Gita Savitri Devi, mengenai childfree. Menurutnya, kebahagiaan rumah tangga tidak harus diukur hanya dari kehadiran anak, melainkan juga dari kualitas hubungan dan kesepakatan antar pasangan.

Awalnya, banyak masyarakat yang kontra terhadap pernyataan Gita. Ia bahkan sempat menerima hujatan dan komentar negatif di negara yang masih memegang nilai-nilai konservatif ini. Di Indonesia sendiri, keputusan untuk childfree masih sering menghadapi stigma sosial dan tekanan keluarga karena dianggap tidak mengikuti norma budaya yang ada. Masyarakat tradisional masih menganggap bahwa memiliki anak adalah kewajiban dalam pernikahan, simbol keberhasilan, serta bentuk pengabdian pada orang tua dan agama. Pilihan untuk tidak memiliki anak sering dipersepsikan sebagai egois atau menolak kodrat sebagai perempuan yang nantinya diharapkan menjadi ibu.

Namun, seiring berjalannya waktu, sebagian masyarakat mulai memahami bahwa keputusan childfree merupakan hak personal tiap individu yang tidak dapat dipaksakan oleh norma sosial. Dukungan muncul dari kalangan muda dan urban yang lebih terbuka terhadap pilihan hidup alternatif. Melansir dari cnnindonesia.com, sebanyak 71 ribu perempuan Indonesia berusia 15-49 tahun tidak ingin memiliki anak atau memilih childfree. Temuan ini didapat dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 berjudul “Menelusuri Jejak Childfree di Indonesia”. Hasilnya, ditemukan bahwa 8 persen atau sekitar 71 ribu perempuan memilih childfree.

Dalam kajian sosiologi keluarga, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi keputusan seseorang memilih untuk childfree. Berikut merupakan penjelasan singkatnya:

  1. Faktor Lingkungan
    Lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk pandangan dan keputusan seseorang terkait memiliki anak. Di wilayah perkotaan, misalnya, masyarakat cenderung lebih individualistik dan berorientasi pada karier. Gaya hidup yang serba cepat dan penuh tekanan membuat banyak orang merasa tidak memiliki cukup waktu atau energi untuk membesarkan anak. Dalam kondisi ini, keputusan untuk childfree menjadi salah satu cara untuk menjaga keseimbangan hidup.

  2. Kontak dengan Orang Lain
    Kontak sosial yang dilakukan oleh keluarga, seperti berdiskusi, melihat, atau mengalami interaksi dengan keluarga lain yang memiliki anak, dapat memunculkan persepsi tertentu terhadap kehidupan berkeluarga. Jika kontak tersebut menunjukkan dampak negatif dari memiliki anak—misalnya konflik rumah tangga, kelelahan pengasuhan, tekanan ekonomi, atau keretakan hubungan suami-istri—maka keluarga tersebut dapat menginternalisasi nilai bahwa memiliki anak bukanlah hal yang wajib atau ideal.

  3. Faktor Pendidikan
    Banyak masyarakat yang semakin sadar akan pentingnya pendidikan yang lebih tinggi di era kontemporer ini. Pendidikan yang lebih tinggi cenderung membuat seseorang memiliki kesadaran kritis terhadap norma-norma tradisional, termasuk norma yang menyatakan bahwa setiap orang harus menikah dan memiliki anak. Melalui pendidikan, seseorang belajar mengenai isu-isu seperti kesetaraan gender, hak atas tubuh, perencanaan hidup, dan kebebasan memilih.

  4. Keadaan Ekonomi
    Keadaan ekonomi yang tidak stabil, biaya hidup yang tinggi, serta melonjaknya biaya pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar lainnya membuat sebagian individu atau pasangan merasa tidak siap secara finansial untuk membesarkan anak. Mereka mempertimbangkan bahwa memiliki anak memerlukan tanggung jawab jangka panjang secara materi, dan dalam situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian, keputusan untuk childfree dianggap lebih realistis dan rasional.

  5. Pengaruh Modernisasi dan Globalisasi
    Dalam masyarakat modern dan global, muncul pula nilai-nilai baru seperti kesetaraan gender, kebebasan memilih, perencanaan hidup yang fleksibel, serta penghargaan terhadap kebebasan individu. Nilai-nilai ini berkontribusi terhadap tumbuhnya kesadaran bahwa memiliki anak bukan satu-satunya jalan untuk meraih makna hidup. Individu yang tumbuh dalam konteks modern dan global cenderung lebih rasional dan terbuka dalam mengambil keputusan yang sesuai dengan tujuan hidupnya, termasuk keputusan untuk tidak memiliki anak.

  6. Perkembangan IPTEK
    Kemajuan IPTEK memungkinkan seseorang mendapatkan akses lebih luas terhadap informasi tentang gaya hidup childfree, termasuk diskusi-diskusi ilmiah, forum digital, konten media sosial, dan berbagai sumber referensi global. Melalui teknologi informasi, seseorang bisa mempelajari konsekuensi psikologis, sosial, ekonomi, serta kesehatan dari memiliki anak, serta mengenal pandangan-pandangan alternatif tentang kebahagiaan dan kesuksesan hidup. Akses ini membuat individu menjadi lebih sadar dan rasional dalam mengambil keputusan hidup, termasuk pilihan untuk tidak memiliki anak.

Fenomena childfree merupakan bagian dari realitas sosial di era kontemporer yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Memang benar adanya jika setiap individu memiliki hak personal untuk menentukan jalan hidupnya, termasuk dalam hal memiliki keturunan. Namun, meningkatnya keputusan memilih childfree juga dapat menimbulkan dampak penurunan angka kelahiran (Total Fertility Rate) yang menyebabkan perubahan struktur demografi. Jika terus berlanjut, ini dapat mempercepat proses aging population (populasi menua), menurunkan jumlah usia produktif, dan membebani sistem pensiun serta kesehatan negara di masa depan.

Dalam pengambilan keputusan, alangkah baiknya individu mendiskusikan isu ini secara terbuka dengan pasangan, keluarga, atau tenaga profesional seperti konselor pernikahan. Pemerintah dan lembaga pendidikan juga dapat berperan aktif dalam memberikan edukasi tentang perencanaan keluarga, termasuk menekankan pentingnya kesiapan mental, emosional, dan finansial sebelum memutuskan memiliki atau tidak memiliki anak. Dengan begitu, setiap keputusan bisa diambil secara sadar, bukan karena tekanan sosial.

Artikel ini adalah publikasi tugas Mata Kuliah Sosiologi Keluarga untuk Kesejahteraan Sosial dengan Dosen Pengampu Dr. Hairani Siregar, S.Sos., M.SP. dan Dra. Berlianti, M.SP.

Redaktur: Indira Rivany

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.