Home Entertaiment “Tarian Penghancur Raya” Kritik Atas Nama Alam dan Budaya
EntertaimentMusik

“Tarian Penghancur Raya” Kritik Atas Nama Alam dan Budaya

Share
Sumber: Youtube: Sun Eater

Oleh: Ines Eliyana Br Ginting

Suara USU, Medan. Musik bukan hanya sekadar hiburan, melainkan juga medium kritik sosial yang bisa menyuarakan keresahan. Hal inilah yang dibuktikan oleh band asal Indonesia .Feast melalui single mereka “Tarian Penghancur Raya” yang dirilis tahun 2019 dalam album Membangun dan Menghancurkan. Lagu ini menjadi refleksi dan peringatan tentang krisis lingkungan sekaligus rapuhnya kebudayaan lokal.

Dalam video lirik resmi yang dipublikasikan Sun Eater, terdapat visual seorang penari yang menari di ruang penuh asap. Menjelang akhir, ia melepas mahkota dan mengenakan masker, sebelum akhirnya kembali melanjutkan tarian. Simbol ini begitu kuat di tengah kabut polusi dan ancaman kehancuran, budaya masih mencoba bertahan, meski dengan napas yang terengah-engah. Visual itu tidak bisa dilepaskan dari kritik terhadap kondisi nyata, alam yang rusak dan tradisi yang terpinggirkan.

Secara musikal, “Tarian Penghancur Raya” unik karena menyatukan elemen gamelan tradisional dengan dentuman gitar elektrik, bass, dan drum khas rock alternatif. Dari intro, kita disambut bunyi gamelan dengan nada slendro yang menciptakan nuansa mistis sekaligus getir. Instrumen ini tidak hanya ditempatkan sebagai hiasan, tetapi benar-benar menjadi pondasi atmosfer lagu. Begitu masuk ke bagian utama, aransemen musik berubah menjadi padat dan menghentak. Gitar dan bass berpadu dengan beat drum yang intens, menghasilkan kesan megah. Kombinasi musik tradisi dan rock modern ini bisa dilihat sebagai simbol benturan: di satu sisi ada budaya lokal yang mencoba bertahan, di sisi lain ada derasnya modernisasi yang tak jarang destruktif.

Lirik yang ditulis oleh Baskara Putra penuh metafora tajam. Salah satu baris yang menohok adalah:

“O₂ dijual oleh negara.”

Lirik ini mengandung sindiran keras terhadap eksploitasi alam yang berlebihan. Oksigen, yang seharusnya menjadi hak dasar setiap makhluk hidup, dibayangkan sebagai komoditas yang diperjualbelikan. Metafora ini mencerminkan absurditas dunia modern, di mana segala hal bahkan udara bersih bisa dikapitalisasi. Jika ditarik ke konteks Indonesia, lirik ini juga relevan dengan fenomena hutan yang semakin menyempit, kebakaran lahan, hingga polusi perkotaan yang membuat udara bersih semakin langka.

“Flora kerasukan freon di ruko toko bunga”

Baris ini menggambarkan paradoks modernisasi. Bunga simbol keindahan alam justru dipajang di toko yang terkontaminasi pendingin ruangan berbasis freon atau zat yang merusak lapisan ozon. Di sini, .Feast mengajak pendengar menyadari bahwa modernitas sering kali datang dengan harga mahal, hancurnya keseimbangan ekologis. Menariknya, kritik dalam lagu ini tidak hanya berhenti pada isu lingkungan. Dalam teks yang ditampilkan pada video lirik, .Feast menyinggung kasus Tari Gandrung Banyuwangi yang sempat dipersoalkan oleh sebagian kelompok masyarakat pada 2018. Kritik ini memperluas makna lagu, bahwa yang terancam bukan hanya alam, melainkan juga kebudayaan lokal.

Di tengah arus globalisasi, tarian dan tradisi lokal kerap terpinggirkan atau bahkan ditolak oleh sebagian pihak karena dianggap tidak sesuai dengan nilai tertentu. .Feast mengingatkan bahwa budaya adalah bagian penting dari identitas bangsa. Hilangnya tradisi berarti hilangnya jati diri. Dengan mengangkat isu ini, “Tarian Penghancur Raya” tidak hanya menjadi lagu tentang krisis lingkungan, tetapi juga tentang kegelisahan atas hilangnya ruang bagi budaya asli Nusantara.

.Feast melalui “Tarian Penghancur Raya” menunjukkan bagaimana musik bisa berfungsi sebagai media perlawanan kultural dan ekologis. Lagu ini bukan sekadar hiburan, tetapi sebuah pernyataan politik dan sosial yang dibungkus dengan aransemen musik kuat serta lirik yang penuh simbol. Metafora tentang oksigen yang dijual, flora yang kerasukan freon, hingga tarian budaya yang terancam, semuanya merangkai narasi tentang dunia yang sedang menuju kehancuran namun masih ada ruang bagi perlawanan.

Dengan gaya kritis dan puitis, .Feast berhasil menghadirkan lagu yang relevan dengan isu kontemporer sekaligus mengajak kita merenung, apakah kita akan terus “menari” menuju kehancuran, atau mulai bergerak untuk menyelamatkan alam dan budaya?

Redaktur: Zahra Zaina Rusty

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.