Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
Film

The Divine Fury, Antara Tuhan dan Iblis

Penulis: Sari Rosa Jeli Lumbantoruan

Suara USU, Medan. Dengan mengusung film bertema horror, thriller, dan action, film The Divine Fury cukup menyita perhatian dikalangan pecinta film horror khususnya pecinta film Korea. Film ini juga menceritakan tentang Exorcisme (Pengusiran setan/roh), dimana film ini menampilkan adegan ritual-ritual semacamnya.

Rilis pada 14 Agustus 2019 yang dipersembahkan Lotte Entertainment, film ini dibintangi oleh Park Soe Joon yang berperan sebagai Yong hoo. Diceritakan Yong hoo sebagai petarung internasional yang memiliki kemarahan terpendam kepada Tuhan, disebabkan karena ayahnya (Lee Seung Joon) yang mengalami kecelakaan saat melakukan tugasnya sebagai polisi. Sempat bertahan di rumah sakit, namun sang ayah terlihat malah mengalami kondisi yang sangat buruk, sehingga membuat Yong hoo sendiri merasa sedih dan tertekan. Alih-alih sebagai bentuk ketaatannya kepada Tuhan, seperti yang diajarkan oleh ayahnya, Yong hoo meminta kepada Tuhan di gereja agar ayahnya disembuhkan, dan atas saran seorang pastor yang meminta Yong hoo berdoa dengan kesungguhan agar doanya terkabul.

Alhasil, doa yang tak terkabul dan malah mendapati ayahnya tak terselamatkan, dia pun frustrasi, bahkan sangat membenci Tuhan, serta melupakan ajaran keimanan yang telah diajarkan oleh ayahnya.

Film yang dilatarbelakangi revenge ini, juga menampilkan adegan-adegan yang cukup menegangkan. Terlihat saat Yong hoo bermimpi dan melempar salib, namun malah melukai tangannya dan disitulah cerita horror dimulai. Film ini juga dibintangi oleh Sung Ki Ahn yang berperan sebagai Father Ahn, dan  Woo Do Hwan sebagai Jishin.

Digarap oleh sutradara yang sama dengan Midnight Runner yang juga dibintangi oleh Park Seo Joon, Kim Joo Hwan menghadirkan  The Divine Fury dengan genre yang berbeda dari sebelumnya, dan ini merupakan film bertema horror yang pertama kali digarapnya. Kim Joo Hwan mengungkapkan bahwa ide yang ia peroleh terbilang cukup unik, yaitu setelah melihat patung malaikat melawan iblis ketika dirinya berkunjung ke Perancis.

Tak menutup kemungkinan, film ini  juga tak bisa dibilang sempurna.  Karakter sebagai sosok kegelapan pada adegan film cukup membingungkan, dikarenakan sosok iblis yang ditampilakan lebih terkesan seperti monster, alien dan bayangan hitam seperti laba-laba.

Meskipun tidak terlalu berhasil menakuti penonton, namun efek sinematografi yang terbilang cukup menarik terutama dalam menggambarkan adegan-adegan pengusiran setan. Disertai dengan music scoring yang menegangkan, serta adanya pengutipan ayat-ayat kitab suci yang membuat jantung penonton berdegup kencang dari biasanya.

Berdurasi 192 menit, The Divine Fury berhasil menghadirkan nuansa baru dalam perfilman horror. Dari film ini, kita dapat mengambil pesan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umatnya meskipun bersalah. Tuhan terus menjaga dan menyayangi umatnya meskipun terkadang melupakan-Nya. Yong hoo Park sendiri yang telah lama meninggalkan-Nya pun masih dilindungi-Nya bahkan diberi kepercayaan.

Penyunting : Wiranto Asruri Siregar

Related posts

Lemantun : Sebuah Warisan Tak Biasa

redaksi

Move To Heaven, Menghargai Kehidupan Lewat Kematian

redaksi

June & Kopi, Film yang Menceritakan Persahabatan Anjing dan manusia

redaksi