SUARA USU
Buku

The Holy Trinity, Tiga Manhwa yang Harus Kamu Baca!

Sumber foto: Pinterest

Oleh: Cahya Muty Salsabila/Jesika Yusnita Laoly

Suara USU, Medan. Dalam dunia webnovel dan manhwa, muncul sebuah istilah di kalangan penggemar “The Holy Trinity”. Gelar unik ini diberikan kepada tiga karakter menarik dari karya-karya populer asal Korea Selatan: Kim Dokja (Omniscient Reader’s Viewpoint), Cale Henituse (Trash of the Count’s Family), dan Han Yoojin (The S-Classes That I Raised). Meskipun tidak resmi, istilah ini telah mencuri perhatian penggemar, mungkin bermula dari panggung webnovel yang dinamis di Korea Selatan dan kemudian merambah secara global melalui aplikasi Webtoon dan Kakaopage.

Kim Dokja

Sebagai pembuka ada Kim Dokja, protagonis dari Omniscient Reader’s Viewpoint (ORV). ORV mengisahkan dunia yang seketika berubah menjadi sebuah permainan bertahan hidup dan fiksi yang menjadi kenyataan. Kim Dokja adalah satu-satunya individu yang telah membaca novel tersebut sampai akhir, mendapatkan keunggulan unik dengan meramalkan masa depan. Namun, bertahan hidup tidaklah sesederhana yang dipikirkan.

Cale Henituse

Kemudian ada Cale Henituse, tokoh utama dalam Trash of the Count’s Family (TCF). Dalam novel fantasi ini, Kim Rookso terbangun dalam tubuh seorang penjahat muda bernama Cale. Jika cerita mengikuti alur aslinya, Cale ditakdirkan untuk mati oleh karakter utama. Oleh karena itu, Kim Rookso, yang kini menjadi Cale, memanfaatkan alur cerita yang sudah dibacanya untuk mengubah takdirnya dan menghindari kematian yang menanti.

Han Yoojin

Melengkapi trio ini ada Han Yoojin, protagonis dalam The S-Classes That I Raised (TSCTIR). Di dunia ini, individu dengan kekuatan super dikenal sebagai “Hunters” dan diberi sistem klasifikasi. Han Yoojin berada di kelas terendah, F-Class. Namun, ketika adiknya yang berkelas S-Class mati demi melindungi Han Yoojin, perjalanan melintasi waktu terbuka, menawarkan kesempatan untuk penebusan atas penyesalan yang dia lakukan di waktu sebelumnya.

Ketiga karakter ini mencerminkan esensi “The Holy Trinity,” memadukan keunikan masing-masing dengan cerita yang berbeda. Cerita mereka tidak hanya terkenal di Korea Selatan tetapi telah memukau pembaca  di seluruh dunia, melampaui batas budaya. Seiring dengan meningkatnya popularitas webnovel dan manhwa ini, pembaca  global diperkenalkan pada konsep menarik “The Holy Trinity.” Resonansi dari karakter-karakter ini terletak tidak hanya pada kisah individual mereka, tetapi pada plot cerita menarik mengenai cara bertahan hidup di dunia yang hancur, menulis kembali takdir, dan mencari penebusan dengan kembali ke masa lalu. Walaupun tema yang diambil klise, namun intrik yang dihadirkan dalam cerita yang penuh kejutan, pengembangan karakter yang baik, dunia fantasi yang terasa hidup dan luas, dan kisah persahabatan yang dihadirkan membuat ketiga manhwa tersebut terasa berbeda dan jauh lebih menarik daripada kisah lain dengan tema yang serupa.

Pengaruh karakter-karakter ini meluas di luar ranah digital, memicu diskusi di antara penggemar dan membentuk subkultur unik. Para penggemar, tertarik pada tema dan karakter-karakter yang saling terhubung, kisah-kisah serupa namun tak sama yang membentuk “The Holy Trinity.”

Secara bersama-sama, tiga manhwa ini membentuk “The Holy Trinity,” dengan pesan moral yang berbeda-beda namun saling melengkapi. Bersama-sama, mereka mengajarkan nilai-nilai seperti tanggung jawab terhadap pengetahuan, pencarian identitas dan kemanusiaan, serta pencerminan tentang keberanian, persahabatan, dan esensi kemanusiaan. Melalui ketiga tokoh utama di atas, pembaca diajak untuk merenung tentang arti sejati dari keberanian, kekuatan persahabatan, dan bagaimana kemanusiaan dapat bersinar dalam kegelapan melalui belas kasih dan pengorbanan. Pesan moral ini bukan hanya memberi inspirasi pada karakter-karakternya, tetapi juga meresap ke dalam pikiran pembaca, memicu refleksi tentang nilai-nilai hidup yang mendalam.

Dengan demikian, “The Holy Trinity” bukan hanya tentang petualangan yang mendebarkan, tetapi juga tentang perjalanan moral yang merangsang pemikiran, membawa pembacanya pada refleksi mendalam tentang makna kehidupan dan nilai-nilai yang membentuk karakter kita. Alasan-alasan tersebut membuat kamu harus membaca tiga manhwa tersebut.

Redaktur: Yohana Novriyanti Lumbanbatu


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Mengkaji Psikologi Feminis Melalui Buku Ada Serigala Betina Dalam Diri Setiap Perempuan

redaksi

How To Think Like Sherlock Holmes Karya Petter Hollins

redaksi

Sang Alkemis, Kisah Berkelana dan Berburu Mimpi

redaksi