SUARA USU
Uncategorized

Tingkat Moral dan Kepedulian Sosial Mahasiswa: Analisis Pengaruh Pendidikan Kewarganegaraan dalam Era Pendidikan Tinggi

Penulis: Muhammad Zaky/Hijratul Fithria Isma/Wan Sarah Amalia/Chairunnisa Selviani/Maura Purba/Joice M.T. Aritonang/Ika Ratna Sari

Suara USU, Medan. Globalisasi akibat pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk informasi, komunikasi, dan transportasi, menjadikan dunia semakin transparan, seolah-olah menjadi satu kesatuan struktur, satu struktur baru, satu struktur utuh. Tentu saja hal ini berdampak besar terhadap struktur kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara Indonesia.

Di era globalisasi saat ini, mahasiswa cenderung berperilaku negatif terhadap teman dan orang lain di sekitarnya seperti kurang menghargai satu sama lain, kurang bertoleransi, berperilaku melanggar hukum, dan tindakan yang dapat merugikan orang lain. Oleh karena itu, keberadaan pendidikan kewarganegaraan sangat penting agar anak dapat membangun moralitas sehingga dapat terdidik, berkarakter, dan berdisiplin dalam bermasyarakat, bernegara, bernegara, dan berkemanusiaan dengan baik.

Dunia tanpa batas di era globalisasi juga menimbulkan tantangan yang harus dihadapi semua negara. Kemajuan teknologi informasi pada akhirnya akan terus mempengaruhi kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Globalisasi memberikan dampak yang signifikan terhadap semua kalangan, khususnya mahasiswa. Ideologi, adat istiadat, dan kepercayaan yang berkembang di suatu negara mulai mempengaruhi budaya negara lain. Nilai-nilai inti ideal suatu negara, landasan kehidupan masyarakat lambat laun terkikis.

Organisasi sebagai media untuk melatih kepekaan sosial, tanpa disadari malah memicu munculnya sifat asosial. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya acara yang diselenggarakan mahasiswa namun hanya sedikit yang berpartisipasi. Mahasiswa mau berpartisipasi dalam sebuah acara ketika merasa mendapat keuntungan baik berupa moral maupun material.

Selain itu sistem peraturan di kampus menyebabkan para aktivis semakin sibuk dengan urusan perkuliahannya, seperti tugas makalah yang sangat menumpuk. Hal ini menyebabkan pengayoman aktivis terhadap masyarakat semakin terbatasi, serta lunturnya komitmen memicu kurangnya kepedulian kepada masyarakat.

Pendidikan kewarganegaraan mencapai misi multidimensi sebagai berikut:

  1. Mengembangkan potensi peserta didik (misi psiko-pedagogis).

  2. Menyiapkan peserta didik untuk hidup dan berkembang dalam masyarakat nasional (misi psikososial).

  3. Membangun budaya kewarganegaraan merupakan salah satu faktor penentu dalam kehidupan demokrasi (misi sosial dan budaya).

Pendidikan kewarganegaraan penting untuk diberikan agar mahasiswa menjadi individu kritis, menunjukkan toleransi yang tinggi, dan cinta damai, memahami dan berpartisipasi dalam kehidupan politik lokal, nasional, dan internasional. Hal ini sesuai dengan hakikat tujuan pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, yaitu membantu mahasiswa menjadi warga negara yang baik, bangga terhadap negara Indonesia, cinta tanah air, setia jujur, disiplin, bertanggung jawab, santun, peduli dan percaya diri.

Ruang lingkup pembelajaran pendidikan kewarganegaraan yang dapat mendukung terbentuknya generasi muda yang tangguh pola pikir kewarganegaraan generasi muda meliputi aspek-aspek sebagai berikut:

  1. Persatuan dan keutuhan bangsa, yang meliputi hidup rukun dengan perbedaan, bangga menjadi warga negara Indonesia, cinta lingkungan, turut serta menjaga negara, bersikap positif terhadap negara Indonesia.

  2. Norma, peraturan perundang-undangan yang meliputi norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, peraturan daerah, norma kehidupan berbangsa dan bernegara, serta hukum internasional dan peradilan nasional.

  3. Hak Asasi Manusia, yang meliputi hak dan kewajiban anak, hak dan kewajiban anggota masyarakat, dokumen hak asasi manusia nasional dan internasional.

  4. Kebutuhan warga negara, yang meliputi gotong royong, kebebasan berorganisasi, kebebasan berpendapat, penghormatan terhadap keputusan kolektif, dan kesetaraan status warga negara.

  5. Konstitusi negara yang meliputi proklamasi kemerdekaan, hubungan dasar negara, dan konstitusi.

  6. Kekuasaan dan politik, yang meliputi pemerintahan desa dan kelurahan, pemerintahan daerah dan otonom, pemerintah pusat, demokrasi, dan sistem politik.

  7. Pancasila, yang meliputi kedudukan pancasila sebagai dasar ideologi negara dan pengamalan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

  8. Globalisasi, yang meliputi globalisasi dalam lingkungannya, politik luar negeri Indonesia di era globalisasi, dampak globalisasi, hubungan internasional, organisasi internasional.

Dalam pembentukan kepedulian sosial dalam penerapannya tentu saja melibatkan banyak pihak dalam upaya mewujudkan tujuannya. Di antaranya adalah peran pendidikan formal, peran pendidikan nonformal, dan peran pendidikan informal.

Dalam penelitian ini, analisis deskriptif akan digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian. Dengan melakukan analisis deskriptif, penulis berharap dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang pentingnya pendidikan kewarganegaraan dan bagaimana penerapan nilai-nilai pendidikan kewarganegaraan pada kehidupan sehari-hari untuk meningkatkan moral mahasiswa. Hasil analisis data ini diharapkan dapat memberikan informasi yang cukup mengenai pentingnya pendidikan kewarganegaraan di kalangan mahasiswa.

Tingkat kepedulian di atas ialah bersifat moralitas. Karena dengan adanya moral maka mahasiswa pasti akan terdorong untuk lebih peduli terhadap di situasi di lingkungan sekitar.

Solusi yang dapat dikabarkan jika ada korban dari kejahatan bullying & hate speech ialah jangan menyalahkan diri sendiri, jangan biarkan orang lain menghancurkan harga diri dan kepercayaan diri sendiri dengan kritik yang tidak masuk akal. Dengan adanya social experiment ini mahasiswa mengharapkan timbulnya rasa kepedulian dan persamaan derajat tanpa melihat perbedaan.

Mahasiswa sebagai generasi muda mempunyai peranan penting dalam perjalanan mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia, peran generasi muda 3 sebagai agen perubahan sangat penting bagi kemajuan bangsa Indonesia. Pembinaan akhlak mahasiswa tidak hanya diajarkan dengan cara membekalinya dengan ilmu, tetapi juga dengan menjadikan mahasiswa menghargai dan menggunakan ilmu yang diperolehnya melalui tindakan, berperilaku di masyarakat untuk mencapai hasil belajar yang baik dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa pendidikan kewarganegaraan sangat penting karena merupakan komponen dasar untuk mendidik setiap individu tentang nilai-nilai, fungsi sistem, hukum, dan aspek lain yang berhubungan dengan masyarakat dan negara. Pendidikan kewarganegaraan juga mempunyai tempat, fungsi, dan peran yang sangat penting dalam proses pengembangan karakter bangsa. Misi dan tujuan dari pendidikan kewarganegaraan adalah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada individu untuk mengungkapkan komitmennya, berpartisipasi aktif dalam masyarakat, dan mematangkan pemahamannya tentang hubungan etis, moral, dan fungsional yang ada di antara warga negara.

Untuk mengatasi sifat mahasiswa yang cenderung tertutup dan tidak mudah bergaul, perlu adanya bimbingan dan pendekatan antar mahasiswa. Sedikit penekanan bagi mahasiswa yang pasif akan membuat mereka terdorong untuk sedikit berubah menjadi lebih aktif atau bisa bersosialisasi.

Membina generasi milenial yang bertanggung jawab terhadap keamanan dan kejayaan bangsa. Rasa tanggung jawab tersebut akan ditunjukkan melalui partisipasi aktif generasi milenial dalam proses pembangunan. Generasi milenial bertugas menyaring pengaruh luar, melihat sisi positifnya, dan menolak hal-hal yang bertentangan dengan nilai luhur dan etika bangsa.

Artikel ini adalah publikasi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dengan Dosen Pengampu: Onan Marakali Siregar, S.Sos, M.Si.

Redaktur: Yohana Situmorang


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Introduction of Developer Student Club

redaksi

Pelaksanaan Peran Satpol PP dalam Menertibkan Gelandangan Pengemis di Kota Medan

redaksi

Penyuluhan Kesiapsiagaan Gempa Bumi di SD Dharma Wanita Pertiwi : “Ada Gempa, Lindungi Kepala”

redaksi