SUARA USU
Film

Vidkill: Membunuh via Vidcall

Foto: YouTube/MaxPictures

Penulis: Hafaz Sofyan

Nggak jauh beda dengan video call, vidkill merupakan istilah yang menunjukkan adanya adegan pembunuhan, secara berencana ataupun tidak didalam sebuah video. Istilah ini nyatanya memang sekejam definisi yang tersampaikan.

Tahun ini, bioskop Indonesia juga ditutup dengan salah satu film bergenre thriller berjudul Vidkill. Hebatnya, film ini sudah lebih dari cukup untuk membuat penonton terheran-heran pada ending-nya.

Kita akan dikenalkan dengan seorang Stella (Estelle Linden), seorang wanita remaja yang menjadi tokoh utama pada film penuh adegan psikopat ini. Wanita yang awalnya kita anggap anggun dan baik ini, secara mengejutkan membawa kita pada adegan penuh darah. Baik sebagai korban, maupun sebagai pelaku.

Jalan cerita Vidkill sendiri bisa dibilang cukup menarik.

Stella mengadakan agenda liburan ke sebuah villa setelah sekian lama. Bersama dua sahabatnya, Cheryl (Gesya Shandy) dan Kimmy (Shindy Huang). Film mulai menegangkan ketika villa tidak ditempati oleh pemilik, sedangkan kunci villa tersebut hanya terletak di meja kecil depan villa.

Tak cukup menyeramkan sampai disitu. Malam hari, adegan penuh darah dimulai. Ketika Stella sedang asyik videocall dengan sang kekasih, Theo (Pradikta Wicaksono). Sosok hitam bertopeng menghampiri handphone milik Stella ketika Stella sendiri sedang mengecek keadaan diluar kamarnya. Menjadi lebih menegangkan lagi ketika villa besar itu hanya ditinggali Stella sendiri. Sedangkan Cheryl dan Kimmy sedang membeli makan malam.

Setelahnya, adegan-adegan penuh sayat dan tusukan pisau disajikan dengan epic. Hebatnya, semua upaya yang dilakukan untuk monitoring sang pelaku nyatanya memang membuahkan hasil. Beberapa kali, sang hitam bertopeng berlalu lalang dengan sigap dan penuh kejam.

Untuk kita yang sudah terbiasa dengan kegiatan multi layar realtime, pastinya akan dibawa ke suasana lebih menegangkan. Dimana tampilan layar yang berbeda-beda disajikan bersamaan pada satu layar bioskop.

Mata kita diajak untuk ikut mencari sang hitam bertopeng di beberapa layar berbeda. Singkat waktu, satu per satu tokoh utama di film Vidkill ini mati mengenaskan, dengan sayatan, tusukan, serta tembakan.

Overall, film thriller yang satu ini tidak mengecewakan ketika penonton keluar dari ruang studio. Kebingungan dan plot twist yang disajikan di 40 menit pertama, perlahan terjawab di kurang lebih 40 menit setelahnya.

Tarik ulur cerita yang disajikan membuatnya semakin epic. Pertanyaan-pertayaan yang terlintas satu-satu terjawab. Siapa pelakunya? Mengapa villa tidak ditempati pemiliki? Serta motif apa yang menyebabkan terjadinya pembunuhan sadis ini?

Namun, tetap saja ada beberapa bagian yang bisa dibilang sedikit fail untuk disajikan. Theo yang berencana untuk menyusul Stella dan kawan-kawan dengan mobilnya, tidak menunjukkan adegan mengemudi. Dari rumah sampai ke Villa, Theo berfokus pada tampilan multi layar di handphone-nya. Tidak ada lampu jalan, tidak ada setir yang diarahkan, bahkan tidak berubahnya background jalan yang seharusnya dilalui Theo setiap jengkalnya.

Padahal, jika saja bagian itu lebih dipoles, pastinya akan membuat penghujung tahun kita lebih menegangkan dengan adegan-adegan epic yang ada pada Vidkill. Theo, Stella, bahkan Kimmy sudah menunjukkan ekspresinya secara maksimal. Namun, beberapa fail kerap kali membuat kita berpikir-pikir ketika sudah berada di luar studio.

Tapi tetap, Vidkill akan menjadi salah satu film thriller yang sangat memuaskan. Dengan plot twist-nya, dan juga keberanian dalam menampilkan adegan-adegan sadis yang ada.

Ingin mengupas lebih dalam siapa dalang dibalik jalan cerita Vidkill? Saksikan Vidkill di bioskop, ya!

Redaktur: Yulia Putri Hadi


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Little Forest, Comfort Movie untuk Rehat Sejenak

redaksi

Greta, Pertemanan yang Manis Diakhiri dengan Teror yang Tragis

redaksi

Meg 2: The Trench, Kembalinya Jason Statham Melawan Megalodon

redaksi