SUARA USU
Kabar Kampus

Inflasi Mempengaruhi Pergerakan Nilai Tukar Mata Uang

Oleh : Marwah (180907013)

Suara USU, Medan. Mahasiswa Universitas Sumatera Utara. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis dengan Dosen Pengampu Mata Kuliah Manajemen Investasi, Yaitu Ibu Dr. Kartini Harahap S.Sos.,M.Si

Seperti yang kita ketahui, Nilai tukar atau yang sering disebut kurs (ex-change rate) merupakan jumlah mata uang tertentu yang dapat ditukar terhadap satu unit mata uang lain. Nilai tukar rupiah terhadap mata uang lainnya berpengaruh terhadap laba suatu perusahaan, karena perusahaan yang menggunakan bahan produksi dari luar negeri akan mengalami peningkatan nilai hutang apabila nilai mata uang rupiah terhadap mata uang asing menurun atau terdepresiasi, nilai tukar juga sangat berpengaruh bagi perusahaan yang ingin melakukan investasi, karena apabila pasar valas lebih menarik dari pada pasar modal maka umumnya investor akan beralih ke pasar valas.

Inflasi merupakan suatu kejadian yang menggambarkan situasi dan kondisi dimana harga barang mengalami kenaikan dan nilai mata uang mengalami pelemahan, dan jika ini terjadi secara terus-menerus maka akan mengakibatkan pada memburuknya kondisi ekonomi secara menyeluruh serta mampu mengguncang tatanan stabilitas politik suatu negara. Tingkat inflasi yang tinggi di suatu negara akan mengakibatkan minat investor (terutama investor asing) yang akan menanamkan modalnya menjadi menurun. Hal tersebut akan berdampak pada penurunan harga saham. Hal ini sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran. Semakin banyak barang yang ditawarkan, maka harga akan semakin menurun dan begitu pun sebaliknya.

Sederhananya, inflasi adalah suatu kenaikan harga pada barang atau jasa. Inflasi juga adalah penurunan nilai mata uang lokal.  Seperti yang sudah kita ketahui, dasar utama yang terdapat di dalam pasar valuta asing adalah perdagangan internasional antara suatu barang atau pun jasa. Hal ini membuat adanya perubahan pada harga mata uang lokal dan harga mata uang asing. Kondisi ini mampu menyebabkan pergerakan pada kurs valuta asing.

Jadi intinya tingkat inflasi dari  kenaikan harga suatu negara biasanya pasti ada daya beli mata uang, jadi kalau misalkan daya beli mata uang tersebut meningkat maka akan terjadi apresiasi, pasti dampak akhirnya mata uang tersebut akan menguat.

Contohnya seperti kerjasama perdagangan yang dijalin dengan pemerintah Amerika Serikat dan pemerintah Indonesia. Saat Amerika mengalami inflasi tinggi, maka harga barang asal Amerika juga akan lebih tinggi, sehingga akan menyebabkan penurunan pada barang-barang tersebut. Hal tersebut sesuai dengan dasar hukum ekonomi yang mengatakan bahwa harga yang naik akan membuat permintaan yang menurun. Jadi apabila tingkat inflasi pada suatu negara tinggi, maka nilai mata uang lokal akan rendah. Hal tersebut akan mengakibatkan kecenderungan untuk menjatuhkan nilai tukar mata uang lokal.

Peneliti : MARWAH (180907013)

Redaktur: Yessica Irene


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

HMM Adakan Rapat Kerja, Ini Terobosan Barunya!

redaksi

Di Ujung Tanduk Masa Jabatan, PEMA USU Kejar Kongres Mahasiswa

redaksi

Polemik Berlanjut, Muncul Dualisme MPMF di Fakultas Hukum

redaksi