Pembaruan Langsung Kasus COVID-19
SUARA USU
USU Sastra

Yang Harus Dilindungi (Bagian 1)

Kamu tahu apa itu prioritas?
Itu seperti berbicara soal apa dan siapa yang harus diutamakan
Ya. Itu berbicara soal pilihan.
Terlihat sederhana.
Tetapi, jika kamu tak memiliki satupun alasan yang bisa kamu pertanggungjawabkan,
keputusanmu akan menjadi sebuah bencana
yang punya daya untuk menyakiti hati siapa saja.

CERBUNG DITULIS OLEH M. NAUFAL ADLY

Ilustrasi oleh Supri Alvin

Dentingan antara gelas dan sendok yang menari di dalamnya terus bersahut-sahutan hingga bubuk kopi yang dicampuradukkan dengan air hangat di dalam gelas tersebut siap untuk dinikmati. Kubaca lafadz Basmalah dan kuminum seteguk demi seteguk dengan wajah penuh rasa syukur. Mungkin bila mereka -yang sekarang tidur dengan nyaman di rumah mereka- melihat eskpresiku meminum kopi ini, mereka mungkin akan beranggapan bahwa saat ini aku sedang meminum kopi hasil racikan sang barista paling top dari kafe paling top di Kota Roma. Namun realitanya bukanlah rasa yang menjadi alasan atas kenikmatan ini, tapi keadaan. Ya, bagaimana aku tidak bersyukur? Suasana malam saat ini sangat wajar ketika kuumpamakan ia bagai jarum kasur yang menusuk sumsum tulangku tanpa henti dan dalam kondisi seperti itu aku hanya berperisaikan seragam seorang serdadu. Dan di posisi itu juga aku masih mampu menghela nafas atas jasa segelas kopi hangat yang mampu menentramkan urat urat kepalaku setelah kuminum seteguk demi seteguk.


Aku sendiri adalah tentara dari Koramil 8 Siding, Kabupaten Bengkawang, Provinsi Kalimantan Barat. Prajurit di Koramil kami selalu dipecah, sebagian di Koramil dan sebagian di pos perbatasan. Dan malam ini adalah malam giliranku menjaga pos perbatasan. Rasaku, suasana malam ini masih sangat tenang sebelum temanku mencari-cari keberadaanku dengan mata kantuk dan wajah kebingungan.


“Adly, mana Adly?”
“Kau udah ngeliat aku, tapi kau masih tanya aku dimana. Kau kayaknya udah ngantuk nih. Minum kopi dulu, Fath. Baru pulang ngawas kan sedap itu kalo minum kopi,” tawarku sambil mengangkat gelas kopiku ke hadapannya.
“Iya enak memang, tapi aku bawa kabar gak bagus ini,” ucap temanku yang tadi, Fathur namanya.
“Kau bilangkan aja kabarnya, kopimu biar kuambilkan..”. Aku menuangkan kopi dari teko ke gelas yang baru.
“Gini gini. Patok patok perbatasan yang posisinya kira kira dua kilometer dari sini, pindah tiga puluh senti ke arah wilayah kita lagi loh?”


Aku terkejut mendengar berita dari Fathur. Belakangan ini, patok patok pembatas memang sering dipindah menuju arah wilayah Indonesia dan yang barusan ini entah yang keberapa kalinya. Aku putuskan untuk menghentikan tuangan kopiku ke dalam gelas. Kutaruh gelas itu di atas meja dan aku langsung mengirimkan pesan lewat alat komunikasi ke Koramil, tepat setelah Fathur memberitahuku. Setelah selesai mengirimkan pesan, aku mengumpulkan semua anggota. Jumlah kami yang bertugas disini hanya tiga orang. Kami mulai berdiskusi.



“Aku gakbisa simpulkan kalo hal yang terjadi ini sama dengan yang dulu dulu, tapi kita punya bukti kecil. Ini aku bawa buktinya”, teman kami yang satunya lagi, Alamsyah menyerahkan sebuah barang yang sebenarnya tidak asing bagi kami, seragam tentara Malaysia.



“Kalau ini pakaiannya si pelaku, ada beberapa kemungkinan yang bisa diambil. Kalau memang orang Malaysia, dia telah melepas seragamnya di tempat kalian temukan tadi dan masuk ke dalam negeri. Kalau bukan orang Malaysia, dia mau mengadu domba kita dengan Malaysia,” jelas Fathur.


“Tiap kemungkinan apapun harus kita cari solusinya. Aku minta kalian berdua langsung lapor ke Koramil kalau memang ada sesuatu yang kalian dapat.”
“Apa? ‘Kami berdua’ kau bilang? Kau mau kemana?” tanya Alamsyah.
Diam sejenak.
“Alamsyah, Fathur, besok aku mesti pulang untuk ngeliat kondisi Syahnaz. Hamil-nya sudah sembilan bulan-an gitu. Bentar lagi anak pertamaku lahir. Aku rasa kalian ngerti kondisiku.”
     Alamsyah dan Fathur saling bertatap mata satu sama lain.
“Wah, iya juga ya. Gak terasa ya dia udah hamil sembilan bulan. Kau sih, jarang kasi kabar tentang dia.”
Aku hanya tertawa kecil mendengar hal itu.

                                                             —–


Esok paginya, aku langsung pulang menuju rumahku yang tidak jauh dari wilayah perbatasan, di Desa Lhi Buie, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkawang. Disana sudah ada istriku, Syahnaz yang sudah beberapa hari kutinggalkan sendiri di rumah. Ia menyambutku dengan senyum manisnya yang biasa ia tunjukkan.
“Abang udah pulang?”
“Kok Adek nanya sih? Kan Abang udah di depan Adek.. Apa Adek gak percaya kalo ini Abang? Emangnya muka Abang beda ya?” kataku sambil keheranan dengan nada nada bercanda. Aku menghampirinya sambil mengelus rambutnya.



“Hihi. Gak kok, gak beda. Makanya perasaan Adek masih sama,” kata Syahnaz sambil mencubit hidung mancungku. Ia melanjutkan, “Cuma Adek yang disapa? Yang ini enggak?” sambil menunjuk ke perutnya yang sudah sangat membesar.
“Oh, jadi cinta yang Abang denger selama ini cuma karna muka, ya? Iya iya Abang sapa dia,” kataku. Kemudian, aku berlutut hingga wajahku berada di depan perut besarnya.
“Assalamu’alaikum..?? Halo? Apa ada orang?”


Syahnaz hanya tersenyum sambil menaikkan alisnya karna melihatku yang seperti itu.
“Kamu lapar gak? Kamu udah makan? Udah mandi? Jawab ‘udah’ dong, entar saya jawab ‘Owh’, terus kamu jawab lagi ‘Ya’ ”, kataku sambil mengetuk ngetuk pelan perut Syahnaz dengan jariku.



“Udah deh, Bang. Anak kita bisa shock-loh ngedenger Abang ngomong begitu. Anak kita bakal mikir kalo ayahnya itu gila, tau..!” Syahnaz mengetuk dahiku.
Aku memang sering seperti ini dengan Syahnaz. Kami berbicara, kami tersenyum, kami tertawa dan kami bahagia. Entah kenapa ketika aku melakukan semua itu dengan Syahnaz, hatiku tiba-tiba menggebu tanpa kuketahui alasannya. Namun yang kutau, hal yang tidak beralasan itulah yang kunamakan dengan cinta, sesuatu seperti rasa yang berhasil membuatku dan (mungkin) dia bahagia. Ya, satu hari itu aku benar benar merasa tenang lewat kebahagiaan yang kami rajut bersama. Kenikmatan hidup yang seperti ini benar-benar terasa lebih nikmat daripada kopi yang kuminum kemarin malam. 


Aku langsung mandi dan sarapan, memakan makanan yang telah ia siapkan. Sambil makan, kami mengobrol tentang beberapa hal.
“Bang, Abang udah baca koran yang di ruang tamu?”
“Belum, Dek. Bentar Abang ambil,” kataku sambil setengah berdiri.
     “Eh udah, Bang. Gak usah biar Adek ceritain aja,” kata Syahnaz sambil menarik tanganku untuk duduk kembali.
“Ciee yang gakmau pisah dari Abang. Ada apa sih, Dek?”
“Iss kan bercanda terus lah. Gini gini, masyarakat yang tinggal di perbatasan NTT dibunuh massal.”
Aku sedikit terkejut, “Wah, tragedi jenis baru nih! Apa mereka membunuh ras tertentu? Atau ada lingkup target jenis lain?”


“Gak, Bang. Mereka gak ngelakuin kejahatan genosida. Soalnya ada masyarakat Toraja dan Jawa yang tinggal disana dan mereka dihabisi juga loh? Lingkupnya ya itu tadi, masyarakat yang tinggalnya di daerah perbatasan. Mereka semua terbunuh, se-mu-a-nya,” jelas Syahnaz.
Aku memberhentikan makanku  dan menaruh sendok, “Berarti ini bukan perang antar suku. Gimana sama pelakunya?”
“Pelakunya belum ketemu. Oh iya ada satu lagi yang lebih penting. Tragedi ini sebenarnya udah terjadi kira kira dua minggu lalu dan yang tau pertama kali adalah tukang sayur yang datang dari daerah sebelah untuk jualan disitu. Bayangkan kalo tukang sayur tadi gak datang datang, yah tragedi ini gak akan sampai ke kita, Bang.”
Aku terheran. Terjadi pembunuhan massal dan ketahuan setelah dua minggu?
– Akan disambung di bagian berikutnya –






















0 0 vote
Article Rating

Related posts

Yang Harus Dilindungi (Bagian 3)

suarausu

Saiko Ah Aih

REDAKSI

Puisi: Abhitah Badimin

REDAKSI
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments

COVID 19

[covid-data]