Oleh: Anik Hailaqhari
Lentingan kaki, merayu di sudut ruang.
Nyaring bunyi, membasuh kasa di balik kata.
Rentetan mata, berpaling sayup dalam makna.
Meluruh tubuh, tak berkaca gugur anak bangsa.
Penderitaan merajut kata
Dalam bapak pendiri bangsa.
Seraya berlinang mata,
Ia berkata:
“Hei kayu putih bangsa, usah engkau lupakan jas merahku.”
Sejenak, raga berdiam dalam hening.
Lalu, gemuruh lantak pelatuk seribu,
Mengguncang serpihan pengorbanan
Yang tatkala luput dari renungan dada.
Lihatlah itu!
Berceceran, bertumpahan, dan berlinang darah.
Lagi, lagi, dan lagi,
Ia berkata:
“Sekarang aku berjasad, berbau, dan bertabur.”
Lalu, ia berdebu dan menatap sang merah putih.
Satu, dua, dan tiga,
Terhitung lara dalam napas terakhir.
Jiwa bertutur kata dalam dekap pendiri bangsa:
“Padamu tunas bangsa, berdirilah di atas kaki sendiri.”
Putaran ruang pendiri bangsa,
Kini hanya tinggal nama
Dan wajah kelabu terbingkai rapi.
Yang perlu dikenang tinggal lembaran usang:
Yang bertaut kata persatuan dan keadilan.
Ada kalanya aku berisak tangis,
Meraba, melihat, dan mengenang:
Penutur lampau tubuh serapuh museum,
Ingatannya runtuh terbuai dalam bangsa.
Lagipula, pendiri bangsa tak luput dalam tanah.
Kala umur membawa mereka pergi,
Aku berusaha, berjuang, dan berucap
Pada engkau bapak pendiri bangsa:
“Terima kasih.”
Lantas,
Jika akar tua terkubur oleh serapuh museum,
Siapa yang akan menopang pohon?
Profil Penulis
Saya Anik Hailaqhari, berasal dari Jambi, berusia 18 tahun, lahir tahun 2007. Sebagai lulusan dari SMAN 1 Sungai Penuh, saat ini saya sedang mendedikasikan waktu untuk menekuni dunia sastra sebagai seorang penyair pemula. Melalui bait-bait puisi, saya berusaha merawat ingatan dan menyuarakan rasa. Bagi yang ingin berbagi apresiasi, berdiskusi tentang sastra, atau menjalin kolaborasi karya, saya sangat terbuka untuk dihubungi melalui WhatsApp di nomor +62 822-6804-4258 maupun melalui akun Instagram pribadi saya di @hailaqhari.
Redaktur: Rifatul Suaidah
Leave a comment