Oleh: Deswina Listiani Matondang
Ada Jenis keberanian yang tidak ditemukan dengan perlawanan fisik atau senjata. Keberanian itu tersembunyi dalam senyum dan lelucon sederhana yang diceritakan kepada anak-anak, bahkan ketika dunia di sekeliling mereka sedang runtuh. La Vita è Bella (1997) karya Roberto Benigni adalah film yang menolak untuk membiarkan tragedi menjadi satu-satunya narasi dan plot dalam film. La Vita è Bella adalah bukti bahwa sinema, pada titik terbaiknya mampu menyentuh kebenaran yang paling dalam, tidak hanya melalui gambar yang mengerikan, melainkan melalui tawa yang diperjuangkan meski sulit.
Film ini dibagi menjadi dua dunia yang bertolak belakang. Paruh pertama mengalir seperti komedi Italia klasik yang menceritakan kisah Guido Orefice, seorang pemuda Yahudi berjiwa jenaka dan penuh semangat. Ia tiba di kota Arezzo dengan impian sederhana, yakni mendapatkan pekerjaan dan cinta. Guido kemudian jatuh hati pada seorang perempuan bernama Dora dengan cara yang mustahil sekaligus ajaib, muncul dari langit seolah takdir memang sudah mengatur segalanya. Benigni menggambarkan sosok Guido bukan sekadar sebagai karakter komedi, melainkan sebagai jiwa yang sungguh-sungguh percaya bahwa hidup, pada dasarnya adalah sesuatu yang indah dan layak untuk dirayakan.
Kemudian, pada paruh kedua, yakni kamp konsentrasi. Dunia seolah berubah warna menjadi abu-abu. Guido, bersama putranya Giosuè yang masih belia, diseret ke dalam sistem yang dirancang untuk menghapus kemanusiaan. Di sinilah Benigni membuat pilihan naratif yang paling berani. Sebagai seorang ayah, Guido berusaha meyakinkan Giosuè bahwa seluruh pengalaman mengerikan yang ada di sekelilingnya tidak lebih dari sebuah permainan besar, kompetisi yang berhadiah tank sungguhan jika dapat mengumpulkan poin terbanyak.
Strategi ini bukan kebohongan demi kenyamanan sang ayah sendiri. Tindakan ini adalah bentuk cinta yang paling radikal, sebuah perlindungan yang dibangun bukan dengan tembok beton atau kekuatan senjata, melainkan dari imajinasi dan lelucon. Guido menjadikan humor sebagai tameng agar mata kecil Giosuè tidak harus menatap takut berbagai tindakan buruk dan brutal yang tidak seharusnya ditanggung seorang anak kecil.
Salah satu momen paling membekas dalam film ini adalah, ketika Guido berpura-pura menerjemahkan perintah penjaga yang diucapkan dalam bahasa Jerman kepada para tahanan baru, dengan santai ia menerjemahkan perkataan tersebut kepada Giosuè dengan “Dia bilang, besok pagi kita sarapan dengan kue dan susu cokelat. Habis itu, siapa yang mau, bisa main di luar.” Padahal, penjaga tersebut sedang menjelaskan dengan ketus peraturan kamp yang bisa berujung eksekusi. Adegan itu lucu sekaligus menghancurkan hati. Tawa dan tangis datang bersamaan, dan kamu tidak tahu harus memilih yang mana.
Ada juga dialog sederhana yang rasanya seperti puisi pendek. Ketika Dora bertanya dengan mata berkaca-kaca, “Guido, apakah kamu baik-baik saja?” Kemudian, lewat pesan yang disampaikan melalui pengeras suara di kamp, Guido yang tidak tahu apakah ia akan bertahan hidup sampai esok hari menjawab dengan nada ringan seolah sedang berbicara dari teras rumah, “Kamu tidak perlu khawatir, sayangku. Ini adalah pengalaman yang luar biasa. Nanti kita cerita sambil minum teh,” ujarnya. Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada air mata yang dipaksakan. Namun, justru itulah yang membuat dada terasa sesak.
Roberto Benigni berhasil menampilkan kemampuan akting yang luar biasa dengan memainkan dua sisi emosi sekaligus. Di hadapan Giosuè, ia tampil sebagai sosok lucu dan penuh canda seperti seorang badut, tetapi di balik itu, jauh dari pandangan anaknya, ia sebenarnya adalah seorang ayah yang dipenuhi rasa takut.
Peralihan antara kedua ekspresi tersebut terasa begitu cepat, alami, dan meyakinkan hingga tampak bukan sekadar akting, melainkan seperti kejadian nyata. Penampilan mengesankan tersebut membuat Benigni meraih penghargaan Oscar Aktor Terbaik pada tahun 1999, sekaligus melengkapi tiga penghargaan Academy Award yang diraih film tersebut, yaitu Film Berbahasa Asing Terbaik dan Skor Musik Terbaik.
Nicoletta Braschi sebagai Dora memerankan tokoh dengan tantangan emosional yang tidak kalah besar. Meskipun bukan seorang Yahudi dan tidak diwajibkan ikut naik ke kereta, ia memilih untuk tetap bersama keluarganya. Keputusan itu disampaikan tanpa banyak dialog atau adegan dramatis, tetapi justru terasa sangat kuat dan bermakna.
Selama berada di kamp, Dora tidak bertemu dengan suami maupun anaknya, tetapi keberadaannya yang tenang dan penuh keteguhan menghadirkan gambaran cinta yang mendalam, menjadikannya salah satu bentuk pengorbanan dan kasih sayang paling menyentuh di layar lebar.
Bagi mahasiswa, film ini menawarkan lebih dari sekadar tontonan. La Vita è Bella membuka diskusi tentang etika narasi, bolehkah kita berbohong demi kebaikan? Sejauh mana humor bisa menjadi mekanisme bertahan hidup yang sah dan bermartabat? Film ini juga merupakan pengingat bahwa sejarah bukan hanya angka dan fakta kering, melainkan wajah-wajah manusia yang memiliki nama, tawa, dan mimpi yang tidak sempat diwujudkan.
Di era ketika trauma sering dikomunikasikan melalui kekerasan visual yang eksplisit, Benigni menunjukkan bahwa empati bisa dibangun dengan cara yang sama kuatnya melalui apa yang tidak ditampilkan dan melalui tawa yang harus diperjuangkan di tengah gelap.
La vita è bella bukanlah film yang dibuat untuk merayakan Holocaust, dan memang tidak pernah memiliki tujuan seperti itu. Film ini justru menampilkan besarnya cinta seorang ayah yang sanggup menciptakan dunia penuh harapan di tengah situasi paling mengerikan, agar anaknya tetap dapat tersenyum dan merasakan kebahagiaan. Dari sanalah muncul bentuk perlawanan yang sangat manusiawi yang bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kasih sayang dan harapan. Oleh karena itu, film ini menjadi salah satu karya sinema yang begitu menyentuh dan layak ditonton setidaknya sekali seumur hidup, bahkan kembali ditonton saat kita mulai lupa bahwa hidup, seberat apa pun, masih menyimpan keindahan.
Redaktur: Muhassanah Nasution
Leave a comment