Reporter: Muthia El Istiqomah
Program studi Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sumatera Utara (USU) menggelar kegiatan Global Academic Fellow yang menghadirkan Assoc. Prof. Dr. Pham Hong Long dari Vietnam National University selaku pembicara. Kegiatan ini berlangsung pada Selasa (26/05) di Gedung Teater Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Acara yang berlangsung pada pukul 14.00 WIB hingga 16.00 WIB tersebut membahas pentingnya hutan bagi kehidupan manusia baik dari segi lingkungan, kesehatan, maupun kesejahteraan.
Acara diawali dengan pembukaan oleh MC, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta pembacaan doa. Kemudian, dilanjutkan dengan kata sambutan oleh Dekan FISIP USU, Dr. Hatta Ridho S.Sos., MSP, penyerahan plakat kepada pembicara, dan pemaparan materi oleh Assoc. Prof. Dr. Pham Hong Long sebagai inti acara.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Pham Hong Long membuka dengan mengatakan bahwa manusia merupakan ancaman terbesar bagi alam di Vietnam. Hal ini dikarenakan Vietnam merupakan salah satu negara dengan tingkat deforestasi tertinggi di dunia. Ia kemudian menjelaskan berbagai manfaat hutan bagi kehidupan manusia, yakni tidak hanya sebagai sumber daya alam dan ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari budaya dan kesejahteraan masyarakat. Konsep tersebut dikenal sebagai nilai ekosistem hutan, yaitu manfaat hutan yang mencakup aspek ekologis, sosial, budaya, hingga kesehatan manusia.
Prof. Dr. Pham Hong Long kemudian menampilkan video mengenai kondisi di Vietnam. Dalam video tersebut terlihat bahwa masih banyak masyarakat yang memburu satwa liar untuk dijadikan makanan, obat-obatan, maupun kebutuhan lainnya. Melalui tayangan tersebut, ia menyoroti bahwa eksploitasi alam dan perburuan satwa masih menjadi persoalan serius yang dapat mengancam kelestarian lingkungan.
Dalam menggambarkan pentingnya hutan, Prof. Dr. Pham Hong Long memberikan analogi sederhana. Ia menjelaskan bahwa jika air dituangkan ke kepala botak, air akan langsung jatuh ke bawah. Namun, jika seseorang memiliki rambut yang lebat, air akan tertahan lebih lama. Menurutnya, hutan memiliki fungsi yang serupa dengan rambut bagi bumi, yaitu menahan air, menjaga keseimbangan alam, serta melindungi manusia dari berbagai dampak lingkungan.
Prof. Dr. Pham Hong Long juga membahas forest welfare service atau layanan kesejahteraan hutan yang diterapkan di Korea Selatan melalui Forest Welfare Promotion Act. Layanan ini bertujuan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat melalui berbagai aktivitas berbasis hutan, seperti terapi hutan (forest healing), rekreasi hutan, pendidikan hutan, budidaya hutan, dan aktivitas olahraga di kawasan hutan.
Salah satu pembahasan utama adalah mengenai forest healing atau penyembuhan melalui alam. Ia menjelaskan konsep Shinrin-yoku dari Jepang atau yang dikenal sebagai mandi hutan (forest bathing). Aktivitas ini dilakukan dengan menikmati suasana alam, seperti duduk di bawah pohon, berjalan perlahan di hutan, dan menghirup udara segar untuk membantu meningkatkan kesehatan fisik maupun mental.
Lebih lanjut, ia juga menjelaskan bahwa hutan dapat menjadi sarana rekreasi dan pendidikan. Berbagai kegiatan dapat dilakukan di kawasan hutan, seperti berkemah, berjalan santai, hingga edukasi mengenai alam dan satwa liar. Di beberapa negara, seperti Amerika Serikat dan Vietnam, terdapat program berbasis alam yang bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian lingkungan.
Memasuki sesi akhir pemaparan materinya, Prof. Dr. Pham Hong Long membagikan kisah inspiratif tentang mantan pemburu liar dan penebang hutan di Vietnam yang kemudian berubah menjadi penjaga hutan dan pemandu wisata. Kisah tersebut menunjukkan bahwa manusia dapat belajar dari alam dan berperan aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Secara keseluruhan, kegiatan Global Academic Fellow ini menekankan bahwa hutan bukan hanya sekadar sumber daya alam, tetapi juga memiliki peran penting dalam kesehatan, pendidikan, rekreasi, serta keberlangsungan hidup manusia.
Redaktur: Muhassanah Nasution
Leave a comment