Reporter: Ghefira Mannawa Salwa dan Ruth Jelita Laia
Suara USU, Medan. Youth Ranger Indonesia (YRI) Sumatera Utara menggelar kegiatan InclusiWave 2026 pada Sabtu, (18/4) di Yayasan Dwituna Harapan Baru. Kegiatan ini merupakan bagian dari field experience yang menghadirkan interaksi langsung antara peserta dan teman Tuli melalui berbagai aktivitas interaktif guna membangun pemahaman serta empati terhadap pentingnya komunikasi inklusif.
Mengusung tema “Empowering Youth to Foster Inclusive Communication”, kegiatan ini diharapkan mampu mengurangi kesenjangan komunikasi antara masyarakat umum dan teman Tuli.
Rangkaian acara meliputi pendaftaran peserta, penyambutan anak-anak dari Rumah Ceria Medan (RCM) di yayasan tersebut, pembukaan oleh pembawa acara, doa, serta sambutan dari ketua panitia, perwakilan YRI Sumatera Utara, pihak RCM, dan pihak yayasan yang sekaligus memperkenalkan lokasi kegiatan.
Memasuki inti acara, peserta berlatih perkenalan dengan teman Tuli menggunakan bahasa isyarat sederhana untuk mempraktikkan komunikasi inklusif. Kegiatan dilanjutkan dengan permainan tebak profesi secara interaktif untuk melatih komunikasi non-verbal dan kerja sama tim. Kemudian, permainan dilanjutkan kembali dengan tebak gerak isyarat di mana teman Tuli mendemonstrasikan kata-kata yang ditentukan MC untuk ditebak oleh volunteer dan panitia.
Aktivitas ini berlangsung dinamis dan mendorong peserta lebih peka terhadap gestur, ekspresi, dan makna tanpa kata-kata, sehingga meningkatkan pemahaman serta keterampilan interaksi langsung dalam suasana kolaboratif.
Selanjutnya, peserta mengikuti mindful session dengan menuliskan harapan untuk setahun ke depan. Harapan tersebut kemudian dikumpulkan dan ditempelkan pada pohon harapan yang telah dipersiapkan panitia. Acara inti ditutup dengan permainan pemasangan gambar dan sesi nonton bersama.
Melalui interaksi langsung yang terjalin sepanjang kegiatan, para peserta tidak hanya memperoleh pengalaman baru, tetapi juga refleksi mendalam mengenai makna komunikasi inklusif. Salah satu peserta sekaligus best participant, Jovanni Setiawan, mengungkapkan ketertarikannya untuk mempelajari bahasa isyarat lewat kegiatan ini. “Saya sendiri sangat tertarik mempelajari bahasa isyarat, karena menurut saya itu istimewa, indah, dan saya memang ingin bisa berkomunikasi langsung dengan teman-teman Tuli,” ujarnya.
Pengalaman berinteraksi dengan teman Tuli juga memberikan kesan emosional tersendiri baginya. Ia mengaku sempat terharu saat pertama kali berinteraksi, baik melalui sesi dalam jaringan (daring) yang dilaksanakan sebelumnya maupun saat bertemu langsung di lokasi kegiatan.
“Sempat terharu, karena mereka benar-benar semangat untuk berinteraksi dengan kita. Hari ini juga terasa seru sekali, mereka ramah dan antusias. Walaupun masih anak-anak dan ada tingkah lucunya, tapi justru itu yang bikin suasananya hidup,” tambahnya.
Pengalaman tersebut turut mengubah cara pandang Jovanni terhadap isu disabilitas. Ia menilai bahwa teman Tuli bukanlah individu yang perlu dipandang berbeda, melainkan bagian dari masyarakat yang setara.
Sementara itu, Ketua Panitia InclusiWave 2026, Arya, menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya inklusivitas, khususnya dalam membangun komunikasi yang setara dengan penyandang disabilitas. “Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya inklusivitas, serta menciptakan ruang yang setara, ramah, dan aksesibel bagi semua kalangan,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, Arya mengakui terdapat sejumlah tantangan, terutama dalam memastikan seluruh rangkaian kegiatan dapat diakses dan nyaman bagi semua peserta. Meski demikian, ia menilai respon yang diberikan peserta dan komunitas difabel sangat positif, hal ini menjadi dorongan untuk melanjutkan program serupa.
“Banyak peserta merasa mendapatkan wawasan baru dan lebih memahami pentingnya komunikasi inklusif. Harapannya, kegiatan ini tidak berhenti di sini, tetapi menjadi awal dari gerakan yang lebih luas untuk menciptakan lingkungan yang setara bagi semua,” pungkasnya.
Kegiatan ini menjadi langkah konkret mengatasi kurangnya pemahaman masyarakat dan keterbatasan komunikasi terhadap penyandang disabilitas, terutama teman Tuli. Melalui pendekatan pembelajaran pengalaman (experiential learning), InclusiWave 2026 menciptakan ruang interaksi langsung yang aplikatif bagi generasi muda untuk memahami realitas sosial secara lebih dekat.
Acara ini juga diharapkan menjembatani kesenjangan komunikasi, menumbuhkan empati, serta berkontribusi pada Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pendidikan inklusif dan pengurangan ketimpangan sosial.
Redaktur: Muhassanah Nasution
Leave a comment