Oleh: Rosani Margaretha Samosir
Suara USU, Medan. Dunia memiliki banyak cara untuk mengajarkan seorang perempuan cara bertahan hidup. Namun sayangnya, sebagian besar dari cara itu tidak pernah benar-benar ia pilih. Naya tidak pernah duduk dan memutuskan bahwa ia akan menjadi seseorang yang selalu berhati-hati, selalu mengukur langkah, dan selalu membaca situasi sebelum ia bergerak. Kehidupan ini, dengan caranya yang halus sekaligus berulang, membentuknya menjadi pribadi yang demikian melalui tatapan yang terlalu lama, melalui kalimat yang terdengar ringan tetapi terasa mengganggu, hingga melalui tawa yang meledak tepat di saat ia justru ingin menarik diri.
Semua ketidaknyamanan itu datang perlahan, nyaris tanpa bentuk yang jelas. Satu hal yang membuatnya semakin sulit untuk dilawan adalah narasi yang terus diulang-ulang bahwa semua itu hanyalah candaan. Di ruang-ruang yang ramai, di antara percakapan yang tampak biasa saja, Naya sering kali menjadi satu-satunya orang yang menangkap ketidakwajaran yang tidak terucap. Ada nada bicara yang terlalu dekat, ada gestur yang melampaui batas, dan ada cara memperlakukan seseorang yang seolah dianggap sah hanya karena tidak pernah secara terang-terangan disebut salah. Namun, setiap kali ia mencoba menjaga jarak, suasana di sekelilingnya selalu lebih dulu menertawakan upaya tersebut.
Tawa itu menjelma pagar tak terlihat yang melindungi mereka yang melampaui batas, sekaligus mengurung mereka yang ingin berkata tidak. Di sanalah, tanpa disadari, Naya mulai mempelajari sesuatu yang paling sunyi, meragukan dirinya sendiri. Ia kerap bertanya-tanya, apakah ini benar-benar salah, ataukah ia yang terlalu jauh memaknai keadaan? Pertanyaan-pertanyaan itu tidak pernah menemukan tempat untuk dijawab dengan jujur karena setiap kali muncul, ia segera menekannya demi kebutuhan untuk tetap terlihat “biasa saja”.
Naya belajar untuk tersenyum pada hal-hal yang tidak ia anggap lucu, belajar untuk diam ketika tubuhnya sendiri menolak, dan belajar untuk mengabaikan sinyal-sinyal kecil yang seharusnya ia dengarkan. Ia melakukan itu bukan karena tidak mengerti, melainkan karena dunia di sekitarnya terus mendikte bahwa itu bukanlah masalah besar. Hingga pada suatu siang, kejadian itu kembali terulang. Intensitasnya tidak lebih besar dari sebelumnya, tidak juga lebih kasar, tetapi cukup untuk membuat tubuhnya menegang dan pikirannya kembali penuh oleh rasa muak yang sama.
Ia bergeser, mencoba memberi jarak, tetapi sayangnya jarak itu kembali tidak dihargai. “Bercanda doang, santai aja,” cetus seseorang. Kalimat itu terlontar dengan ringan, seolah tidak memikul beban apa pun. Namun bagi Naya, kalimat itu layaknya pintu yang dibanting tepat di saat ia hampir berani untuk bersuara. Ia tetap tidak menjawab dan memilih diam, sebagaimana yang selalu ia lakukan. Hanya saja, kali ini diam itu tidak lagi terasa aman.
Malamnya, ia duduk sendiri tanpa mencoba mengabaikan apa yang ia rasakan. Ia membiarkan pikirannya menelusuri kembali semua kejadian yang selama ini ia kumpulkan tanpa pernah benar-benar ia hadapi. Naya melihatnya bukan sebagai peristiwa-peristiwa terpisah, melainkan sebagai satu pola utuh, sebuah pola yang secara perlahan mengajarkannya untuk menerima hal-hal yang seharusnya ia tolak mentah-mentah.
Pada titik itu, ia menyadari sesuatu yang selama ini tersembunyi di balik riuh tawa. Hal yang membuatnya lelah bukan hanya apa yang terjadi, melainkan bagaimana semuanya dianggap tidak pernah cukup penting untuk dihentikan. Luka nyatanya tidak selalu datang dalam bentuk yang besar, tetapi juga bisa hadir dalam repitisi yang terus-menerus dianggap sepele. Kesadaran itu memang tidak langsung membuatnya berani, tetapi untuk pertama kalinya, ia tidak lagi ingin berpura-pura tidak merasakan apa-apa.
Beberapa hari kemudian, situasi yang serupa kembali hadir, seolah-olah hendak menguji apakah ia akan tetap menjadi versi dirinya yang lama. Ruangan itu kembali dipenuhi riuh suara, amat berisik. Percakapan berjalan seperti biasa dan tawa kembali muncul di sela-sela hal yang tidak benar-benar lucu. Di tengah semua itu, batas yang sama kembali dilanggar. Pelan, nyaris tidak terlihat, tetapi cukup untuk membuatnya sadar bahwa ini bukan sekadar kebetulan. Kali ini, tubuhnya tidak bereaksi dengan diam. Ia berhenti.
Waktu seolah melambat, bukan karena kejadian itu berubah, melainkan karena ia akhirnya memilih untuk tidak lagi menyingkirkan harga dirinya dari situasi tersebut. Ia bisa saja tersenyum, berpura-pura, atau kembali menjadi bagian dari tawa yang tidak ia mengerti. Namun, untuk pertama kalinya, ia menolak jalan itu. “Kalau itu dianggap bercanda, aku tidak ingin menjadi bagian dari candaan itu,” ucapnya tenang.
Suaranya tidak keras, tidak juga penuh emosi yang meledak-ledak, tetapi cukup utuh hingga tidak bisa diabaikan. Untuk sesaat, tawa itu berhenti. Tidak ada yang langsung membantah, meski tidak ada pula yang langsung memahami. Hanya ada jeda, sebuah ruang yang selama ini tidak pernah ada, di mana kata-katanya akhirnya berdiri tegak tanpa ditertawakan. Mungkin tidak semua orang mengerti, dan mungkin tidak semua hal akan berubah. Namun kali ini, Naya tidak menunggu.
Ia tidak lagi membutuhkan persetujuan orang lain untuk merasa tidak nyaman, tidak pula membutuhkan pembenaran siapa pun untuk menetapkan batas atas dirinya sendiri. Ia akhirnya memahami sesuatu yang sederhana tetapi selama ini tertutup oleh kebiasaan. Ia sadar bahwa sesuatu yang menyakitkan tidak akan berubah menjadi lucu hanya karena banyak orang menertawakannya. Kebebasan seorang perempuan tidak dimulai dari dunia yang tiba-tiba menjadi aman, melainkan dari keberanian untuk berkata “cukup”, bahkan ketika dunia belum siap mendengarnya.
Naya melangkah keluar dari ruangan itu tanpa tergesa, membawa sesuatu yang tidak terlihat tetapi terasa jauh lebih nyata dari sebelumnya. Ia tidak langsung menjadi seseorang yang tanpa rasa takut. Dunia di sekitarnya masih sama, dan kemungkinan besar akan tetap menghadirkan hal-hal serupa. Namun kini, ada sesuatu yang telah bergeser di dalam dirinya. Ia tidak lagi mengecilkan eksistensinya hanya untuk menyesuaikan diri dengan hal-hal yang tidak selayaknya ia terima. Ia tidak lagi menganggap diam sebagai satu-satunya cara untuk bertahan hidup, karena ia mengerti bahwa suaranya bukanlah ancaman bagi siapa pun, melainkan perlindungan baginya. Perubahan itu mungkin tidak langsung mengubah dunia, namun bagi Naya, itu sudah cukup untuk mengubah satu hal yang paling krusial, yakni ia tidak lagi merasa kehilangan dirinya sendiri.
Redaktur: Alya Nayla Sahirah S.
Leave a comment