Oleh: Muthia El Istiqomah
Suara USU, Medan. Pemberitahuan di ponsel muncul dari dewan eksekutif, memperingatkan rapat dua jam lagi akan dimulai. Cuaca mendung yang tak terkirakan kapan akan turun hujan. Pikiranku dari tadi mengatakan akan turun hujan sebentar lagi, namun sudah dua jam hanya suara gemuruh yang terdengar. Hari ini merupakan hari penting. Akan ada penyelenggaraan rapat mengenai penjelasan proyek kerja selama menjabat di organisasi kepada dewan eksekutif. Aku, Nasywah, dan Khansa menjadi perwakilan organisasi kami untuk menjelaskan semua proyek kerja organisasi. Pikiranku mengatakan ini tidak akan berjalan lancar karena cuaca yang tidak mendukung. Kami harus mendatangi lokasi tujuan dari kampus selama setengah jam. Aku dan Nasywah sedang menunggu Khansa selesai kelas sebelum menuju lokasi tujuan.
Kami tegang. Presentasi ini akan menentukan banyak hal. Mereka bukan sekadar petinggi jabatan yang semena-mena, ada ketelitian mendalam yang biasanya akan ditanyakan. Mengingat ini organisasi yang sudah dikenal di berbagai negara, maka proyek yang dilaksanakan mempertanggungjawabkan banyak nama, termasuk nama negara sendiri.
Suara gemuruh petir semakin dekat. Rintik hujan mulai turun, lalu dalam hitungan menit berubah menjadi deras. Khansa baru saja keluar dari kelas dan menanggapi kami yang menunggunya di kafe fakultas, “Gimana ya kita ke sana, hujan deras nih,” katanya sambil melihat ke arah jendela. Nasywah merespons dengan tenang, “Masih dua jam lagi rapatnya, kita nunggu hujan reda aja dulu.”
Deras hujan yang tidak berhenti membuat kami lapar dan memutuskan memesan mie ayam. Terlihat ada tulisan angka satu besar di kertas pesanan kami, padahal kami memesan tiga porsi. Pemberitahuan masuk lewat layar ponsel; ada peringatan akan terjadi hujan deras badai dan diimbau ke seluruh masyarakat untuk tetap di rumah. Terdengar suara alarm mobil menandakan petir yang menyambar sangat besar. Orang-orang sekeliling kami juga tidak bisa ke mana-mana lantaran hujan yang begitu deras.
Hujan tak kunjung reda. Air selokan mulai meluap ke jalan, membuat beberapa orang memindahkan kendaraannya. Mie ayam yang kami nikmati pun sudah habis tak bersisa. “Ini kita harusnya udah gerak, nggak sih?” kataku, mengingat rapat yang akan diselenggarakan satu jam lagi. “Kita gimana perginya?” tanya Khansa dengan cemas. “Kita nggak punya banyak waktu,” sela Nasywah tegas. “Pesan taksi aja, nanti pulang kita jemput lagi motornya,” usul Nasywah.
Taksi yang Nasywah pesan pun sampai dengan cepat. Tanpa ragu, kami segera naik. Bapak pengemudi menanggapi dengan khawatir, “Aduh, Nak, hujan deras sekali begini, kalian tidak takut?” Kami bertiga saling bertatapan bingung. Bukannya hujan deras begini sudah biasa, ya? Apa yang perlu dikhawatirkan? Aku menatap bapak itu dan mengangguk. “Kami hanya akan ada pertemuan sebentar kok, Pak, lalu pulang,” jawabku. Tanpa mengetahui ada hal yang sangat besar menunggu di depan.
Pemberitahuan dari dewan eksekutif muncul lagi: rapat dalam tiga puluh menit. Raut muka kami tidak bisa berbohong, ditambah macet yang sangat parah membuat jalanan tak bergerak. Cuaca masih sama seperti sebelumnya, hujan deras dan suara gemuruh petir yang siap menyambar kuat kapan saja. Pohon di sekitar perkotaan juga terlihat meliuk-liuk lantaran angin kuat yang menerpa tak karuan.
Aku melihat Khansa tampak sangat cemas dan panik, sementara Nasywah tetap tenang, berusaha menjaga fokus. Pemberitahuan dari dewan eksekutif masuk lagi: rapat dalam dua puluh menit. Namun, tiba-tiba banyak motor dan mobil memutar arah balik. Aku bingung, tapi juga bersyukur, dengan begini kemacetan akan berkurang.
Ternyata ada pohon besar yang tumbang di depan jalan sana. Orang-orang berteriak menyuruh putar balik. Kekhawatiran yang dirasakan bapak taksi mulai meningkat. “Nak, sepertinya kita kembali ke lokasi awal saja melihat kondisi seperti ini, batalkan saja,” katanya ragu. Pemberitahuan masuk lagi dari dewan eksekutif: rapat dalam lima belas menit.
Nasywah mengusulkan kami turun di sini dan berteduh sebentar untuk mencari taksi lagi. Aku dan Khansa mengangguk setuju. Bapak taksi terlihat sangat khawatir dan terpaksa menurunkan kami di dekat halte yang memiliki atap untuk berteduh.
Nasywah yang sedang memesan taksi mengerutkan kening karena tidak ada yang mau mengambil pesanan. Pohon-pohon di sekitar kami seperti mau tumbang. Angin yang menerpa kami pun semakin deras, bercampur hujan. Air yang mengalir di bawah kami tampak mulai naik ke permukaan dengan cepat. Sepuluh menit lagi rapat dimulai, dan jaringan ponsel Nasywah tiba-tiba menghilang.
Aku dan Khansa sigap menyalakan ponsel. Jaringan kami juga sudah menghilang. Keadaan sekitar lebih genting daripada yang diperkirakan. Warga sekitar sudah turun dari motor lantaran mesin tidak berfungsi lagi. Pohon-pohon tampak akan tumbang, dan warga di sekitar berusaha menjauhinya. Mereka sibuk menyelamatkan diri. Ada apa dengan cuaca hari ini?
“Apa coba jalan saja?” usul Nasywah. Aku dan Khansa mengangguk setuju karena ponsel kami tidak ada sinyal. Setidaknya kami sampai dulu, pikirku. Kami berjalan cepat dan berharap masih ada kendaraan yang bisa kami tumpangi untuk sampai di lokasi. Warga berbondong-bondong berputar balik. Tidak hanya satu-dua orang yang memperingatkan kami untuk kembali, tetapi di depan sana ada rapat yang harus kami datangi.
Air naik cepat hingga menutupi kaki kami, tapi kami tetap maju. Orang-orang di sekitar sudah tidak lagi terlihat; mereka semua sudah pergi. Kaki kami terasa semakin berat melangkah. Tidak ada lagi kendaraan yang bisa melewati jalan ini, dan kami sudah sangat lelah. Napas kami tersengal, berharap bisa segera sampai dan menyelesaikan semuanya.
Lokasi sudah dekat. Aku menghela napas lega. Ketika aku menoleh, Khansa tampak pucat pasi; terlihat dia sudah sangat lelah. Sedikit lagi kami sampai. Namun, perasaanku tidak bisa tenang. Cuaca semakin memburuk, langit lebih gelap dari biasanya, dan aku ragu kami bisa sampai ke lokasi tujuan.
Lalu kami melihatnya.
Di depan, air mengumpul, meninggi, seperti dinding yang bergerak. Dalam hitungan detik, arus itu pecah dan melaju ke arah kami.
“Lari!”
Kami berpegangan, kehilangan keseimbangan. Arus menekan tubuh kami. Aku kehilangan pijakan, dan pandanganku kabur hingga semuanya menjadi gelap total.
Mataku mengerjap.
Aku tersadar sedang memesan mie ayam di kala hujan deras. Terlihat ada tulisan angka lima besar di kertas pesanan kami, padahal kami memesan tiga porsi. Saat melihat hujan deras di luar, dadaku terasa sesak. “Kita tunggu hujan reda aja dulu,” kata Nasywah. Aku terdiam. Kalimat itu seperti pernah kudengar. “Kita pernah nunggu,” jawabku pelan.
Aku tidak ingat kapan kami memutuskan berangkat. Tiba-tiba saja, aku sudah berdiri di tengah jalan, melihat air mengumpul, meninggi, seperti dinding yang bergerak. Dalam hitungan detik, arus itu pecah dan melaju ke arah kami.
“Lari!”
Kami berpegangan, kehilangan keseimbangan. Aku kehilangan pijakan, dan semuanya kembali gelap.
Mataku mengerjap.
Aku tersadar kami sedang memesan mie ayam di kala hujan deras. Terlihat ada tulisan angka sepuluh besar di kertas pesanan kami, padahal kami memesan tiga porsi.
Aku sudah berdiri di tengah jalan, melihat air yang sama. Dalam hitungan detik, arus itu pecah dan melaju ke arah kami.
“KITA HARUS BALIK—”
Terlambat.
Mataku mengerjap.
Aku tersadar kami sedang memesan mie ayam di kala hujan deras. Terlihat ada tulisan angka dua puluh besar di kertas pesanan kami, padahal kami memesan tiga porsi. “Kita tunggu hujan reda aja dulu,” ucap Nasywah. Aku terdiam lama. Kalimat itu seperti sudah berulang kali kudengar. “Kita udah sering nunggu,” balasku cepat. Nasywah dan Khansa kaget serentak, kebingungan.
“Maksudnya apa?” tanya Khansa.
Nasywah langsung menyela tegas, “Heh, ini rapat penting.”
Untuk pertama kalinya aku memikirkan keselamatan lebih penting dari rapat itu. Yang aku tahu hanya satu: kami tidak akan pernah sampai, kapan pun itu, dilahap waktu.
Pemberitahuan dari dewan eksekutif terus masuk, seakan tidak memberi ruang untuk berpikir. Aku menatapnya lama, mencari cara memberi tahu Khansa dan Nasywah.
“Aku tahu ini bakal kedengaran aneh, tapi aku ngerasa kita udah pernah ada di sini. Berkali-kali,” kataku pelan.
Khansa tampak ragu. “Kamu lagi bercanda, kan?”
Aku menggeleng cepat. “Kita nunggu hujan reda, terus kita tetap berangkat. Di jalan macet. Kita turun. Terus…” napasku mulai tidak teratur, “airnya naik. Cepat banget. Kita nggak bisa jalan. Kita jatuh.”
Hening. Hanya suara hujan yang memukul jendela semakin keras.
“Itu cuma pikiran kamu aja,” sahut Nasywah, tetap tenang meski sedikit ragu.
Aku menunjuk kertas pesanan di meja. “Kita pesan tiga.”
Mereka melihat ke arah yang sama. Angka besar itu jelas tertulis dua puluh. Khansa mengerutkan kening. “Tadi bukan ini, ya?”
“Bukan,” jawabku cepat. “Dan itu bukan pertama kalinya berubah.”
Aku bisa melihat keraguan mulai muncul di wajah mereka.
“Aku nggak minta kalian percaya soal ini,” lanjutku lebih pelan, “tapi lihat di luar.” Hujan turun semakin deras. Peringatan juga sudah masuk dari tadi. Orang-orang juga banyak yang menahan diri.
Nasywah fokus mengamati sekitar, tampak mulai ragu. “Tapi rapatnya?”
Ponsel kami bergetar hampir bersamaan. Pemberitahuan baru masuk: satu jam lagi dimulai. Aku menatap layar itu lama, lalu menghela napas.
“Kita selalu milih berangkat… dan itu selalu berakhir sama.”
Aku menatap mereka satu per satu.
“Aku nggak mau itu kejadian lagi.”
Khansa menatapku, lalu ke arah jendela. Nasywah mendesah dan mengangguk. Untuk pertama kalinya, kami memutuskan tidak berangkat.
Aku menoleh ke arah kertas pesanan. Angka di sana kembali menjadi tiga.
Ada saatnya kita harus memilih: memenuhi tekanan atau menyelamatkan diri. Dan sering kali, keselamatan adalah pilihan yang paling benar.
Redaktur: Lucy Kezia Simarmata
Leave a comment