Home Sosok Ferry Irwandi, Nama yang Membawa Harapan di Tengah Ketidakpastian
Sosok

Ferry Irwandi, Nama yang Membawa Harapan di Tengah Ketidakpastian

Share

Oleh: Lucy Kezia Simarmata

Suara USU, Medan. Nama Ferry Irwandi kini semakin sering muncul di ruang publik Indonesia. Perhatian terhadap dirinya tidak hanya disebabkan oleh kontroversi yang pernah muncul, tetapi juga oleh pengalamannya sebagai pembuat konten, aktivis, serta penggerak berbagai inisiatif sosial. Di balik perhatian tersebut, Ferry adalah sosok yang terbentuk melalui proses panjang yang tidak selalu mudah, namun justru membangun cara pandangnya yang kritis terhadap pendidikan, masyarakat, dan peran individu dalam perubahan sosial.

Lahir di Jambi pada 16 Desember 1991, Ferry menempuh pendidikan di jalur yang sangat ketat. Ia berhasil diterima di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), yang dikenal dengan seleksinya yang sangat ketat. Meskipun demikian, pengalaman akademiknya tidak sepenuhnya mudah. Ia pernah merasa kurang percaya diri dibandingkan teman-temannya dan mendapatkan nilai yang tidak memuaskan, bahkan hampir menghadapi kemungkinan untuk tidak dapat meneruskan pendidikan. Kondisi tersebut menciptakan titik balik yang signifikan dalam hidupnya. Ferry memilih untuk tidak menyerah dan berusaha untuk meningkatkan prestasi akademiknya dengan menyadari tanggung jawabnya sebagai mahasiswa. Usahanya membuahkan hasil ketika ia menyelesaikan kuliah dengan IPK 3,61.

Selama berkuliah di STAN, Ferry tetap memelihara ketertarikan di bidang kreatif. Ia aktif dalam klub film kampus bernama SCENE, yang menjadi wadah baginya untuk mengembangkan keterampilan produksi visual dan bercerita. Pengalaman tersebut kemudian menjadi landasan penting dalam kariernya di dunia konten. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan ke Central Queensland University di Australia dan sempat mengungkapkan bahwa proposal disertasinya diterima di Monash University. Sebelum dikenal luas sebagai kreator konten, Ferry bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian Keuangan selama hampir sepuluh tahun. Ia berperan sebagai videografer di bagian humas, posisi yang memungkinkannya menggabungkan keterampilan teknis dan kreativitas dalam komunikasi publik.

Pada bulan November 2022, Ferry mengambil keputusan untuk mundur dari jabatannya sebagai Pegawai Negeri Sipil. Ia membuat langkah ini untuk lebih fokus pada dunia konten digital dan kegiatan sosial. Tindakan ini mencerminkan keyakinannya bahwa media digital bisa menjadi platform yang lebih luas untuk menyampaikan ide dan memengaruhi masyarakat. Perjalanan sebagai pembuat konten sebenarnya telah dimulai sejak tahun 2010. Kanal YouTube miliknya pada awalnya menghadirkan konten ringan seperti musik, perjalanan, dan fotografi. Namun seiring waktu, terutama saat pandemi, jenis kontennya berubah menjadi lebih mendidik dengan penekanan pada isu politik, keuangan, filosofi stoik, serta beragam masalah sosial. Cara penyampaian yang tajam dan kritis membuatnya dikenal sebagai salah satu tokoh vokal di ranah digital.

Peran tersebut semakin kuat setelah ia mendirikan Malaka Project, sebuah inisiatif yang berfokus pada peningkatan akses dan kualitas pendidikan di Indonesia. Melalui platform ini, Ferry tidak hanya menyampaikan gagasan, tetapi juga mendorong kolaborasi untuk menghadirkan dampak nyata, sejalan dengan visinya terhadap pengembangan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Di media sosial, Ferry juga aktif mengangkat berbagai isu aktual. Ia kerap menyoroti gaya hidup pejabat publik, merespons dinamika demonstrasi, serta membahas peristiwa yang berdampak luas bagi masyarakat. Sikapnya yang terbuka dan kritis membuatnya sering terlibat dalam diskursus publik yang sensitif.

Di luar dinamika tersebut, kontribusi Ferry terhadap masyarakat tetap terlihat nyata. Salah satunya melalui penggalangan dana untuk korban banjir dan longsor di Sumatera pada 2025 yang berhasil menghimpun lebih dari Rp10,3 miliar dalam waktu singkat. Dana tersebut ditujukan untuk membantu masyarakat terdampak, termasuk di wilayah terpencil. Selain itu, ia juga menginisiasi program beasiswa bagi mahasiswa yang mengalami kendala finansial. Bantuan berupa pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) ini didanai dari hasil penjualan karyanya sendiri, yaitu bukunya yang berjudul Prinsipil Ekonomi sebagai bentuk komitmennya dalam mendukung akses pendidikan.

Tidak berhenti pada bantuan finansial, gagasan Ferry tentang pendidikan juga berkembang ke arah yang lebih struktural. Melalui Malaka Project, ia menggagas hadirnya Kampus Malaka, sebuah inisiatif yang tidak sekadar membangun institusi pendidikan dalam pengertian konvensional, tetapi mencoba merumuskan ulang cara berpikir dalam proses belajar. Kampus ini hadir sebagai respons terhadap sistem pendidikan yang kerap dipandang terlalu administratif dan berorientasi pada formalitas semata. Alih-alih menekankan pada simbol fisik seperti gedung atau fasilitas, Kampus Malaka berupaya membangun fondasi intelektual.

Dalam pengembangannya, Kampus Malaka juga menghadirkan pendekatan yang berbeda dalam memilih tenaga pengajar. Inisiatif ini tidak hanya mencari individu dengan gelar akademik tinggi, tetapi lebih menekankan kemampuan membentuk pola pikir mahasiswa. Sosok pengajar yang dicari adalah mereka yang mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, membangun nalar kritis, serta mendorong mahasiswa untuk memahami dunia secara lebih luas.

Langkah ini mencerminkan upaya untuk menghadirkan ekosistem pendidikan yang lebih terbuka dan manusiawi. Kampus Malaka diposisikan bukan sekadar sebagai institusi alternatif, tetapi sebagai bentuk kritik sekaligus solusi terhadap keterbatasan sistem pendidikan yang ada. Ferry Irwandi mencerminkan figur yang bergerak di antara dunia intelektual, kreativitas, dan aktivisme yang berupaya menghubungkan gagasan, kritik, dan tindakan nyata dalam satu kesatuan.

Redaktur: Rifatul Suaidah

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.