
Reporter: Ardina Mendrofa, Frianka Raya Sitanggang
Suara USU, Medan. Penilaian terhadap dosen di Universitas Sumatera Utara (USU) dilakukan melalui sistem Evaluasi Dosen oleh Mahasiswa (EDOM), sebuah survei yang wajib diisi oleh mahasiswa sebagai syarat untuk melihat nilai akhir mata kuliah. Sistem ini bertujuan untuk mengukur kualitas pengajaran dosen di USU.
Meski EDOM wajib diisi, para mahasiswa masih khawatir data mereka tidak benar-benar aman. Ada dugaan bahwa dosen dapat mengetahui siapa mahasiswa yang memberikan penilaian buruk, bahkan sampai menimbulkan ancaman penurunan nilai.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Pengembangan Pendidikan Universitas Sumatera Utara, Bapak Ikhsan Siregar, S.T., M.Eng., menyatakan bahwa sistem EDOM sepenuhnya bersifat anonim. Ia menegaskan bahwa baik dosen pengampu maupun pihak fakultas tidak memiliki akses untuk mengetahui identitas mahasiswa yang memberikan penilaian. “Saya sendiri juga mengajar sebagai dosen, dan saya tidak pernah tahu siapa yang mengisi penilaian. Bahkan ketika saya membuka data penilaian dosen, yang saya lihat hanya angka-angka dan komentar tanpa nama,” ujarnya sembari menunjukkan sistem dasbor yang hanya menampilkan hasil rekapitulasi tanpa identitas mahasiswa.
Data EDOM dikelola oleh unit Pusat Sistem Informasi (PSI), dan mereka pun tidak dapat membuka identitas pengisi EDOM kecuali ada surat resmi dari pihak berwenang. Hasil EDOM dapat diakses oleh dosen setelah nilai akhir mahasiswa diumumkan. Hal ini diterapkan untuk menghindari adanya kemungkinan penurunan nilai sebagai akibat dari penilaian mahasiswa.
Menurut beliau, kekhawatiran mahasiswa biasanya muncul karena asumsi atau pengalaman selama kuliah. Misalnya, jika seorang mahasiswa pernah ditegur atau dianggap bermasalah, dan kemudian mendapat nilai rendah, mereka sering mengaitkannya dengan penilaian di EDOM. Padahal, proses pemberian nilai sudah dilakukan sebelum dosen melihat hasil EDOM. Sistem dirancang agar dosen hanya dapat mengakses hasil EDOM setelah nilai akhir sudah diumumkan. “Jadi tidak mungkin dosen membalas lewat nilai karena mereka bahkan belum bisa lihat EDOM saat memberi nilai,” jelasnya.
“Memang dari awal sistem sudah didesain anonim. Tidak ada satu pun dosen yang bisa melihat identitas pemberi penilaian,” tegasnya. Bahkan untuk perubahan nilai pun, menurutnya, harus melalui prosedur resmi yang melibatkan banyak tahapan verifikasi.
Terkait penggunaan data EDOM, pihak kampus sangat mempertimbangkan hasil penilaian mahasiswa sebagai dasar evaluasi dan perbaikan mutu pengajaran. “Kami benar-benar melihat komentar-komentar mahasiswa. Kalau ada yang bilang pengajaran terlalu cepat, tidak ada buku referensi, atau kurang komunikasi, itu jadi catatan kami,” ujar beliau.
Sementara pihak kampus menegaskan sistem EDOM bersifat anonim dan aman, tanggapan dari mahasiswa menunjukkan adanya pandangan yang beragam terhadap keefektifan dan kepercayaan mereka pada sistem tersebut.
Seorang mahasiswa mengungkapkan bahwa selama ini ia tidak pernah mengalami ataupun mendengar secara langsung kasus di mana mahasiswa mendapat masalah setelah memberikan penilaian buruk terhadap dosen. Namun, ia menilai bahwa dampak dari EDOM sangat bergantung pada masing-masing dosen.
“Kalau dosennya memang terbuka terhadap kritik, penilaian dari mahasiswa bisa jadi bahan introspeksi. Tapi kalau tidak, ya penilaian itu cuma formalitas saja,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa selama ini ia merasa aman mengisi EDOM karena percaya itu adalah hak mahasiswa. Meski begitu, ia mengakui bahwa selama ini cenderung memberikan penilaian yang baik sebagai bentuk kehati-hatian.
Mahasiswa lainnya juga menyampaikan hal yang serupa. Ia merasa sistem EDOM cukup aman dan belum pernah mendengar adanya tindakan balasan dari dosen terhadap mahasiswa yang memberikan kritik. Namun, ia mengkritisi efektivitas EDOM dalam mendorong perbaikan kualitas pengajaran.
“Kadang kesannya seperti hanya sekadar formalitas saja. Kita isi, selesai, tapi perubahan nyata dari dosennya belum tentu kelihatan,” ucapnya.
Dari hasil wawancara singkat ini, tampak bahwa sebagian besar mahasiswa memang merasa EDOM cukup aman untuk diisi dan tidak pernah mengalami ancaman atau tekanan terkait penilaian yang mereka berikan. Meskipun beberapa mahasiswa menilai bahwa evaluasi dosen kadang hanya formalitas, mereka tetap mengakui pentingnya EDOM sebagai media menyampaikan suara mahasiswa yang diharapkan bisa menjadi dasar bagi perbaikan mutu pengajaran di lingkungan kampus.
Dengan adanya sistem yang anonim dan transparan, diharapkan mahasiswa tidak khawatir saat memberikan penilaian melalui EDOM. Partisipasi aktif mahasiswa sangat penting untuk terus meningkatkan kualitas pengajaran di USU demi menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih baik bagi semua.
Redaktur: Merry Agnus Dei Gultom
Leave a comment