Oleh: Tania Renata Panjaitan
Suara USU, Medan. Pernyataan minat baca orang Indonesia yang rendah kontras dengan situasi perpustakaan yang selalu menjadi pilihan utama untuk mengakses buku, pengunjung yang selalu memadati toko buku, event buku yang selalu disambut antusias, kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak kecil, hingga ramainya komunitas buku yang sering digelar. Hal-hal tersebut menggambarkan adanya ketertarikan orang Indonesia terhadap aktivitas membaca. Namun, mengapa pernyataan yang menyatakan minat baca orang Indonesia itu rendah masih begitu sering digaungkan?
United Nations Educational, Scienfic and Cultural Organization (UNESCO) menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Angka tersebut berarti hanya 1 dari 1.000 orang yang rajin membaca. Data dari UNESCO ini menunjukkan hal yang berbeda dengan yang terjadi di lapangan. Badan Pusat Statistik merilis Indeks Tingkat Kegemaran Membaca Nasional pada tahun 2024 yang mencapai angka 72,44. Angka ini dinyatakan sebagai pencapaian tertinggi dalam lima tahun terakhir. Perbedaan ini menunjukkan bahwa tingkat literasi tidak dapat dilihat dari satu indikator saja, melainkan bergantung pada metode pengukuran dan aspek yang dinilai.
UNESCO menggunakan rasio jumlah buku dibandingkan jumlah penduduk, tingkat literasi dasar, perilaku membaca aktif, dan ketersediaan sarana sebagai indikator utama. Sementara itu, BPS menggunakan frekuensi membaca, durasi membaca, jumlah buku yang dibaca, frekuensi mengakses internet, dan durasi mengakses internet sebagai indikator utamanya. Indikator yang berbeda inilah yang menyebabkan adanya perbedaan angka dalam data yang dirilis oleh UNESCO dan BPS.
Perbedaan indikator utama dalam perhitungan data tersebut menunjukkan bahwa tingkat literasi tidak hanya dipengaruhi oleh minat individu, tetapi juga oleh ketersediaan serta pemerataan sarana literasi. Meskipun aktivitas perbukuan terlihat ramai, akses terhadap bacaan belum merata di seluruh lapisan masyarakat, terutama untuk masyarakat yang tinggal di luar wilayah perkotaan. Pada tahun 2023, data menunjukkan hanya ada 33.000 perpustakaan desa dari 84.000 desa/kelurahan. Akses yang terbatas dan tidak merata ini menyebabkan sulitnya seluruh lapisan masyarakat dalam memperoleh bahan bacaan.
Keterbatasan akses tersebut tidak serta-merta mencerminkan rendahnya ketertarikan masyarakat terhadap buku. Jika menyoroti realita, kita mengetahui bahwa toko buku selalu ramai, munculnya komunitas digital pecinta buku, dan bahkan event buku seperti book fair (bazar buku), book launch (peluncuran buku), dan book signing (penandatanganan buku) yang selalu disambut dengan antusias. Namun, tingginya minat terhadap aktivitas perbukuan tak mampu menggambarkan kebiasaan membaca yang mendalam. Hal ini memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana buku yang dibeli atau dipinjam tersebut benar-benar dibaca atau dipahami.
Perkembangan media digital pun turut memengaruhi aktivitas perbukuan. Mulai dari munculnya komunitas digital pecinta buku seperti booktwt hingga perubahan cara masyarakat berinteraksi dengan bacaan. Kehadiran utas, ulasan buku, hingga konten singkat mengenai buku di media sosial menjadi alternatif baru dalam mengakses informasi. Waktu yang singkat, kemudahan dalam proses akses, tersedianya ringkasan secara langsung, serta gaya bahasa yang lebih ringan dan santai menjadi kelebihan tersendiri dari utas atau konten singkat mengenai buku di media sosial. Meski demikian, perlu diketahui bahwa hal ini tidak akan menggantikan pengalaman membaca secara utuh.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya pergeseran dalam cara masyarakat mengonsumsi suatu bacaan. Membaca tak lagi identik dengan aktivitas mendalami sebuah buku secara utuh, memperoleh informasi pun tak lagi identik dengan aktivitas yang membutuhkan proses lama dan mendalam, melainkan cenderung beralih ke bentuk yang lebih praktis dan ringkas. Hal ini berpotensi dalam memengaruhi kedalaman bacaan, di mana pembaca mendapatkan informasi secara cepat tetapi tidak memahami proses informasi tersebut secara keseluruhan. Proses mendapatkan informasi secara praktis dan kebiasaan membaca yang tak utuh ternyata membawa beberapa dampak, seperti penurunan fungsi kognitif (brain rot), menurunnya kemampuan fokus dan daya ingat, memicu terjadinya miskonsepsi, hingga merosotnya ketajaman dalam berpikir.
Tanpa disadari, kondisi ini juga mencerminkan bahwa budaya membaca di Indonesia belum sepenuhnya terbentuk sebagai kebiasaan yang konsisten dan berkelanjutan. Meskipun antusiasme terhadap buku tampak tinggi di lapangan, praktik membaca yang mendalam masih menjadi tantangan tersendiri.
Hal ini mengindikasikan bahwa tingginya minat serta antusiasme terhadap buku tidak serta-merta memengaruhi peningkatan literasi. Pemerintah dan masyarakat Indonesia masih sama-sama perlu berbenah dalam aktivitas perbukuan. Mulai dari pembangunan perpustakaan atau toko buku lokal, akses yang dipermudah, harga buku, hingga edukasi mengenai aktivitas membaca secara mendalam dan utuh.
Membaca tidak sekadar tentang angka dan capaian semata, melainkan juga tentang mengolah bacaan dan memahami makna yang ada melalui proses berpikir yang komprehensif.
Redaktur: Lucy Kezia Simarmata
Leave a comment