SUARA USU
Uncategorized

Apakah Pungli Sudah Menjadi Budaya? Menelusuri Gejala Praktik Pungutan Liar Di Kampung India Medan

Oleh: OK Sultan Fathin Ahmad, Stevanus Ucok North Naibaho, Canta Mahesa Surbakti, Holan Manullang, Zaki Ramadhan, Muhammad Said Hidayat

Suara USU, Medan. Kampung India, kawasan bersejarah di Medan yang dihuni oleh masyarakat keturunan Tamil, India, tidak hanya menawarkan pesona budaya yang kaya dan arsitektur kuil Hindu yang memukau, tetapi juga meninggalkan kesan tersendiri bagi para pengunjung. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, bayang-bayang praktik pungutan liar (pungli) mulai mencoreng keindahan kawasan ini. Fenomena peningkatan praktik pungli ini tidak hanya meresahkan wisatawan, tetapi juga merugikan citra Kampung India sebagai tempat yang aman dan nyaman untuk dikunjungi.

Praktik Pungutan Liar di Tempat Wisata

Pungutan liar, atau yang sering dikenal sebagai ‘pungli’, merujuk pada praktik meminta uang secara ilegal oleh oknum yang tidak berwenang. Di tempat wisata, pungli bisa berbentuk berbagai macam aktivitas seperti biaya parkir yang tidak resmi, tiket masuk palsu, atau pungutan tambahan untuk akses ke fasilitas umum. Di Kampung India, gejala peningkatan pungli terlihat dari berbagai laporan dan keluhan wisatawan. Banyak dari mereka yang merasa diperas oleh pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan situasi untuk memperoleh keuntungan pribadi.

Beberapa bentuk pungli yang sering dilaporkan antara lain:

  1. Biaya Parkir Tidak Resmi: Pengunjung dikenakan biaya parkir yang lebih tinggi dari yang seharusnya tanpa tanda bukti yang jelas.
  2. Tiket Masuk Palsu: Wisatawan diminta membayar tiket masuk di pos-pos tidak resmi yang dibuat oleh oknum tertentu.
  3. Biaya Tambahan untuk Fasilitas Umum: Beberapa wisatawan mengaku diminta membayar biaya tambahan untuk penggunaan toilet umum atau fasilitas lainnya yang seharusnya gratis.

Penyebab dan Dampak

Beberapa faktor yang menjadi penyebab meningkatnya praktik pungli di Kampung India antara lain:

  • Kurangnya Pengawasan: Minimnya pengawasan dari pihak berwenang membuat para pelaku pungli merasa leluasa untuk beroperasi.
  • Kurangnya Edukasi dan Kesadaran Hukum: Banyak warga lokal yang belum sepenuhnya memahami bahwa pungli adalah tindakan ilegal dan merugikan.
  • Kondisi Ekonomi: Tingkat ekonomi yang rendah mendorong sebagian orang untuk mencari keuntungan dengan cara yang tidak sah.

Dampak dari praktik pungli ini sangat merugikan, baik bagi wisatawan maupun masyarakat lokal. Wisatawan merasa tidak nyaman dan kapok untuk berkunjung lagi, yang akhirnya berdampak pada penurunan jumlah wisatawan. Bagi masyarakat lokal, pendapatan dari sektor pariwisata menurun dan citra Kampung India sebagai destinasi wisata yang ramah dan aman menjadi buruk.

Praktik Pungli yang Semakin Meresahkan

Pungli di Kampung India umumnya terjadi pada wisatawan yang datang untuk mengunjungi kuil-kuil Hindu seperti Maha Vihara Maitreya dan Kuil Sri Mariamman, serta bangunan bersejarah lainnya seperti Gereja Katedral. Para pelaku pungli biasanya menargetkan wisatawan yang tidak familiar dengan daerah tersebut. Modusnya pun beragam, mulai dari meminta bayaran untuk jasa yang tidak terduga, seperti memandu wisata, menjaga kendaraan, atau bahkan hanya untuk mengambil foto.

Dampak Negatif Pungli Terhadap Pariwisata

Studi yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia pada tahun 2023 menunjukkan bahwa praktik pungli di Kampung India telah meningkat secara signifikan. Studi tersebut menemukan bahwa 70% wisatawan yang berkunjung ke Kampung India pernah mengalami pungli. Dampak negatif dari pungli terhadap pariwisata di Kampung India, Medan, meliputi:

  1. Mengurangi Minat Wisatawan: Jika wisatawan mengalami pungli, mereka akan merasa tidak nyaman dan mungkin tidak akan kembali ke Kampung India. Hal ini dapat menyebabkan jumlah wisatawan yang pergi ke sana turun.
  2. Merusak Citra Destinasi: Berita tentang pungli di Kampung India dengan cepat menyebar melalui media sosial dan ulasan online, merusak reputasi tempat wisatanya sebagai tempat yang aman dan ramah bagi wisatawan. Akibatnya, wisatawan mungkin ragu untuk datang.
  3. Meningkatkan Biaya Perjalanan: Pungli membuat perjalanan menjadi lebih mahal, menjadi beban tambahan bagi wisatawan, terutama bagi mereka yang memiliki anggaran terbatas. Karena itu, mereka mungkin lebih memilih tempat lain yang tidak ada pungli.

Dampak Negatif Pungli pada Tempat Ibadah dan Bersejarah

Selain mengganggu pariwisata, praktik pungli juga berdampak negatif pada tempat ibadah dan bersejarah di Kampung India.

  1. Gangguan pada Aktivitas Keagamaan: Pungli dapat mengganggu suasana ketenangan dan kedamaian di tempat ibadah, serta mengalihkan fokus ibadah para jemaat.
  2. Pengabaian Nilai Sejarah: Wisatawan yang mengalami pungli mungkin mengabaikan warisan sejarah dan budaya yang ada di tempat tersebut. Dampaknya, kualitas pengalaman edukatif mereka pun menurun.

Menelusuri Akar Permasalahan

Ada beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab meningkatnya praktik pungli di Kampung India. Salah satunya adalah kurangnya kesadaran masyarakat setempat akan aturan dan hukum yang melarang pungli. Selain itu, lemahnya pengawasan dari pihak berwenang juga memungkinkan para pelaku pungli untuk beroperasi dengan bebas. Faktor lain yang mungkin turut berkontribusi adalah kurangnya lapangan pekerjaan di sekitar kawasan, sehingga sebagian masyarakat terpaksa mengambil jalan pintas dengan meminta imbalan dari wisatawan.

Upaya Solusi untuk Mewujudkan Pariwisata yang Bersih

Penting untuk dilakukan upaya-upaya terintegrasi untuk mengatasi praktik pungli di Kampung India. Upaya-upaya tersebut dapat dilakukan dari berbagai pihak:

  1. Sosialisasi dan Edukasi: Pemerintah Kota Medan bersama pihak kepolisian dan tokoh masyarakat setempat perlu gencar melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat Kampung India tentang larangan pungli.
  2. Peningkatan Patroli: Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan aparat keamanan lainnya perlu meningkatkan patroli di kawasan Kampung India, terutama pada jam-jam keramaian dan di lokasi-lokasi yang rawan terjadi pungli.
  3. Pelatihan Pelayanan Wisata: Dinas Pariwisata Kota Medan bersama dengan pelaku usaha pariwisata di Kampung India dapat bekerjasama untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat tentang keramahtamahan dan pelayanan wisata.
  4. Pembenahan Infrastruktur: Penyediaan papan informasi yang jelas tentang objek wisata, lokasi parkir yang aman dan nyaman, serta petugas resmi yang dapat memberikan informasi dan arahan kepada wisatawan perlu dilakukan.

Teori Pendekatan

Terdapat beberapa teori dari para ahli yang relevan untuk mengatasi pungli di Kampung India:

  1. Teori Manajemen Sumber Daya Manusia: Teori Motivasi Maslow dan Teori Dua Faktor Herzberg dapat digunakan untuk memahami dan memotivasi pelaku pariwisata.
  2. Teori Manajemen Operasional: Teori Six Sigma dan Teori Lean Management dapat diterapkan untuk memperbaiki proses operasional dan mengurangi kesalahan dalam pelayanan.
  3. Teori Manajemen Risiko: Teori Manajemen Risiko ISO 31000 dapat digunakan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengelola risiko secara sistematis.
  4. Teori Manajemen Kinerja: Balanced Scorecard dapat digunakan untuk memantau dan meningkatkan kinerja.
  5. Teori Manajemen Strategis: Teori Porter’s Five Forces dan Teori Blue Ocean Strategy dapat digunakan untuk menganalisis lingkungan eksternal dan mencari peluang baru yang belum dimanfaatkan.

Wawancara

Dalam Penelitian ini kami mewawancarai tiga pihak, yaitu:

·      Pedagang usaha

·      Pengunjung

·      Orang yang Sudah Lama Tinggal

Respons Pedagang

Seorang Pedagang Rujak Yang sudah Berdagang Di daerah tersebut Sejak 1991 Mengatakan bahwa Pedagang biasanya tidak Dikenai Biaya Liar, Tetapi Pengunjung atau Driver Ojek Online Biasa nya Dikenakan Biaya Parkir namun jarang Mendapatkan Pungutan Liar

Respons Pengunjung

Seorang Driver Ojek Online yang Sering mengunjungi Kawasan Kampung India Mengatakan bahwa Maraknya Pungutan liar di daerah tersebut Bervariasi tergantung Daerah Sekitaran Kampung India itu sendiri, Walaupun Driver Ojek Online Tersebut Kurang Tau akan Daerah-Daerah yang ramai pungutan liar namun dia Mengatakan bahwa di Sekitaran café jarang terjadinya Pungutan Liar

Respons Orang yang Sudah Lama Tinggal

Bapak yang Bernama Ucok yang sudah menetap di daerah kampung india sejak tahun 1970 Mengatakan bahwa di Sepengalamannya dia Jarang Melihat adanya Kejadian Pungutan Liar di daerah tersebut apalagi dengan sudah di implementasikannya E-Parking di daerah tersebut.

Kesimpulan Umum dari Wawancara:

  • Variasi Berdasarkan Lokasi: Pungli tidak terjadi secara merata di seluruh kawasan Kampung India. Beberapa area, terutama sekitar kafe, dilaporkan Jarang Terjadinya pungli.
  • Pengalaman Berbeda: Ada perbedaan pengalaman antara pengunjung, pedagang, dan penduduk lama. Penduduk lama seperti Pak Ucok jarang melihat pungli, sementara pengunjung seperti driver ojek online mengalami pungli lebih sering, terutama terkait biaya parkir.
  • Tidak Merata: Praktik pungli tidak selalu dialami oleh semua kelompok. Pedagang cenderung tidak dikenai biaya liar, sedangkan pengunjung tertentu lebih sering menghadapi pungli.

Kesimpulan ini menunjukkan bahwa meskipun pungli merupakan masalah yang diakui, dampaknya mungkin lebih terkonsentrasi pada kelompok tertentu dan di area tertentu. Hal ini dapat memberikan wawasan bagi pihak berwenang dalam menargetkan upaya penegakan hukum dan edukasi untuk mengurangi praktik pungli di Kampung India.

Menuju Solusi yang Berkelanjutan

Pungli adalah praktik ilegal yang merugikan wisatawan dan merusak citra pariwisata. Oleh karena itu, penting untuk dilakukan upaya-upaya yang terintegrasi untuk mengatasi praktik pungli di Kampung India. Dengan kerjasama yang baik antara pemerintah, aparat keamanan, pelaku usaha pariwisata, dan masyarakat setempat, diharapkan Kampung India dapat kembali menjadi tempat wisata yang aman, nyaman, dan bebas dari pungli. Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain:

  1. Peningkatan Pengawasan dan Penegakan Hukum: Menjaga proses operasional, seperti pengawasan dan penanganan laporan, berjalan dengan baik dan efisien.
  2. Edukasi dan Pelatihan untuk Pelaku Pariwisata: Menciptakan program pelatihan dan pengembangan untuk meningkatkan kompetensi dan kesadaran etis pelaku pariwisata.
  3. Implementasi Teknologi Informasi: Mengelola pengembangan dan pelaksanaan teknologi yang membantu pemberantasan pungli.
  4. Meningkatkan Transparansi dan Akuntabilitas: Memastikan bahwa dana pariwisata dikelola dengan cara yang jelas dan adil.
  5. Kolaborasi dengan Komunitas dan Pemangku Kepentingan: Menemukan dan melibatkan semua pemangku kepentingan dalam upaya pemberantasan pungli.

Dengan upaya bersama dari seluruh pihak, diharapkan Kampung India dapat mengembalikan citranya sebagai destinasi wisata yang aman, nyaman, dan bebas dari pungutan liar.

Praktik pungutan liar di Kampung India, Medan, mengancam citra pariwisata dan kenyamanan pengunjung. Kendati variasi pengalaman terkait pungli, solusi terintegrasi diperlukan, termasuk peningkatan pengawasan, edukasi masyarakat, dan kerjasama lintas sektor. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan Kampung India dapat menjadi destinasi wisata yang bersih dan ramah.

Ini Merupakan Sedikit Informasi yang bisa kami Sampaikan, Semoga kita Sebagai pembaca Dengan kerja sama dan komitmen bersama, kita dapat merawat gemerlapnya Kampung India sebagai destinasi wisata yang mengagumkan.

Artikel ini adalah publikasi tugas mata kuliah Pekerjaan Sosial Internasional dengan Dosen Pengampu Fajar Utama Ritonga, S.Sos, M.Kesos.

Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean 


Discover more from SUARA USU

Subscribe to get the latest posts to your email.

Related posts

Menilik Budaya dalam UKM U.L.O.S

redaksi

Jurnalis Untuk Pria: Antara Mimpi Dan Ketidakadilan

redaksi

Peran Mahasiswa Sebagai Agen Perubahan dalam Mepertahankan Persatuan dan Kesatuan Bangsa di Era Globalisasi

redaksi