Oleh: Adinda Hari Dwi Shella Purba, Sri Arianti Nababan, Regina Oktavia, dan Lidya Romauli Hutajulu
Fenomena banjir yang terjadi di berbagai wilayah Sumatera, khususnya Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, dengan meninjau tidak hanya dampak fisik dan lingkungan, tetapi juga dampak psikologis yang dialami oleh masyarakat. Kami mahasiswa Universitas Sumatera Utara dari mata kuliah Pekerja Sosial Internasional, Fakultas Keperawatan, Program Studi Ilmu Keperawatan. Kelompok ini terdiri Adinda Hari Dwi Shella Purba (221101054), Sri Arianti Nababan (221101058), Regina Oktavia (221101100), dan Lidya Romauli Hutajulu (221101168) sedang melaksanakan tugas PBL (Problem Based Learning) dengan dosen Pengampu mata kuliah Bapak Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos. Diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan kesadaran akan pentingnya upaya pencegahan kerusakan lingkungan serta pemulihan kesehatan mental pascabencana.
Banjir yang melanda berbagai wilayah di Sumatera, seperti Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, tidak hanya menyebabkan kerusakan fisik berupa rumah terendam dan harta benda yang hilang. Di balik genangan air yang perlahan surut, tersisa dampak lain yang sering luput dari perhatian, yakni gangguan kesehatan mental masyarakat terdampak. Ketidakpastian, kehilangan, dan pengalaman traumatis menjadikan banjir sebagai peristiwa yang membekas secara emosional bagi banyak korban. Bagi sebagian besar warga, banjir memaksa mereka meninggalkan rumah dan menjalani hidup di pengungsian dengan kondisi yang serba terbatas. Rumah yang sebelumnya menjadi tempat aman berubah menjadi sumber ketakutan. Situasi ini memicu stres, kecemasan, dan gangguan tidur, terutama ketika hujan kembali turun dan menimbulkan kekhawatiran akan bencana yang terulang. Hujan tidak lagi dipandang sebagai fenomena alam biasa, melainkan sebagai ancaman yang menimbulkan rasa waswas berkepanjangan.
Artikel kesehatan yang dirilis RS Pondok Indah menyebutkan bahwa banjir dapat memicu gangguan psikologis serius, mulai dari stres akut, gangguan kecemasan, hingga Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD). Trauma dapat muncul akibat pengalaman menegangkan seperti terjebak banjir, menyaksikan kehancuran rumah, kehilangan harta benda, bahkan orang terdekat. Kondisi pengungsian yang padat dan minim privasi turut memperburuk kesehatan mental korban (RS Pondok Indah, 2025). Temuan tersebut diperkuat oleh jurnal Healthcare yang menyebutkan bahwa penyintas bencana alam memiliki risiko lebih tinggi mengalami kecemasan, depresi, dan PTSD, terutama ketika bencana menyebabkan kehilangan besar dan ketidakpastian hidup dalam jangka panjang. Jurnal tersebut menegaskan bahwa dampak kesehatan mental sering kali muncul setelah fase darurat berlalu dan dapat bertahan dalam waktu yang lama apabila tidak ditangani secara serius (Healthcare, 2024).
Hal ini sejalan dengan hasil wawancara kami bersama Anugrah, seorang mahasiswa profesi ners Ia menjelaskan bahwa dampak psikologis banjir tidak berhenti pada fase darurat saja, tetapi dapat berlangsung dalam jangka pendek hingga jangka panjang. “Pada orang dewasa, yang paling sering muncul adalah kecemasan, stres berkepanjangan, gangguan tidur, bahkan depresi. Sementara pada anak-anak, dampaknya sering tersembunyi, seperti ketakutan berlebihan, sulit berkonsentrasi, perubahan emosi, dan menarik diri,” ungkapnya. Menurut Anugrah, faktor terbesar pemicu trauma adalah hilangnya rasa aman dan kendali atas hidup. Kehilangan rumah bukan hanya soal kehilangan tempat tinggal, tetapi juga kehilangan privasi, identitas, dan rasa aman. Kehilangan mata pencaharian memicu stres kronis karena berkaitan langsung dengan keberlangsungan hidup keluarga. Namun, kehilangan anggota keluarga menjadi luka psikologis terdalam yang sulit disembuhkan. Ia menegaskan bahwa korban jiwa yang jumlahnya telah melampaui seribu orang di wilayah terdampak bukan sekadar angka, melainkan duka dan trauma yang akan dibawa keluarga seumur hidup.
Trauma pascabanjir juga sering kali tidak langsung dirasakan. Baik menurut pengalaman tenaga kesehatan di lapangan maupun rujukan dari RS Pondok Indah dan jurnal ilmiah, gangguan mental justru kerap muncul setelah kondisi mulai tenang. Saat bantuan mulai berkurang dan korban harus menghadapi kenyataan kehilangan, stres dan kecemasan dapat meningkat dan berkembang menjadi gangguan mental jangka panjang apabila tidak ditangani dengan baik. Dalam situasi ini, peran perawat menjadi sangat penting. Anugrah menjelaskan bahwa perawat berada di garda terdepan dalam deteksi dini masalah kesehatan mental, pemberian psychological first aid, serta menjadi penghubung antara korban dan layanan kesehatan lanjutan.
Namun, ia juga menyoroti tantangan besar di lapangan, seperti keterbatasan sumber daya, minimnya pelatihan kesehatan mental dalam konteks kebencanaan, serta rendahnya kesadaran masyarakat bahwa luka psikologis perlu dipulihkan, bukan diabaikan.
Banjir yang terus berulang di Sumatera menjadi pengingat bahwa dampak bencana tidak berhenti saat air surut. Trauma dan luka batin membutuhkan perhatian jangka panjang dan penanganan yang serius. Penanganan bencana yang ideal tidak hanya berfokus pada pemulihan fisik dan infrastruktur, tetapi juga harus menempatkan kesehatan mental sebagai bagian utama, agar para korban tidak hanya selamat, tetapi benar-benar mampu pulih dan bangkit kembali.
Artikel ini merupakan publikasi tugas mata kuliah Pekerja Sosial Internasional yang dibimbing oleh Bapak Fajar Utama Ritonga, S. Sos., M. Kesos.
Leave a comment