Oleh: Ezra Damanik, Khoirunnisa Attamimi, Priska Lia Gustina Siregar
Suara USU, Medan. Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Sumatera Utara (USU) sedang melaksanakan tugas PBL (Problem Based Learning) pada mata kuliah Pekerja Sosial Internasional yang dibimbing oleh Bapak Fajar Utama Ritonga, S. Sos., M. Kesos. Problem Based Learning (PBL) merupakan model pembelajaran yang menekankan pemecahan masalah melalui pengkajian kasus nyata. Dalam artikel ini, kami mengulas permasalahan Stigma Dan Kesadaran Kesehatan Mental Di Kalangan Masyarakat Medan.
Stigma dan Kesadaran Kesehatan Mental di Kalangan Masyarakat Medan Isu kesehatan mental merupakan salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang semakin mendapat perhatian di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2018 menunjukkan bahwa sekitar 9,8% penduduk dewasa mengalami gangguan mental emosional seperti kecemasan dan depresi. Temuan ini kemudian diperkuat oleh Indonesian National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 yang melaporkan bahwa 5,5% remaja usia 10–17 tahun mengalami gangguan mental. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 juga mencatat prevalensi depresi nasional sebesar 1,4%, dengan kelompok usia 15–24 tahun sebagai kelompok paling rentan. Meskipun perbedaan angka dipengaruhi oleh metode pengukuran yang berbeda, keseluruhan data menunjukkan bahwa kesehatan mental masih menjadi beban besar bagi masyarakat. Rendahnya literasi kesehatan mental, kuatnya stigma sosial, serta akses layanan psikologis yang terbatas membuat banyak kasus tidak terdeteksi dan tidak tertangani dengan baik. Dalam konteks lokal, Kota Medan menjadi salah satu wilayah yang relevan untuk mengkaji kesehatan mental, khususnya terkait stigma dan kesadaran masyarakat. Dalam beberapa tahun terakhir, kota ini mengalami peningkatan kasus-kasus tragis yang berkaitan dengan tekanan psikologis. Pada 2023, kasus mahasiswi USU, Mahira Dinabila (19), yang meninggal akibat menenggak sianida menyoroti besarnya tekanan akademik dan psikososial di kalangan mahasiswa. Pada Maret 2025, seorang ibu rumah tangga berinisial NPK hampir mengakhiri hidupnya dengan melompat dari flyover Amplas setelah menghadiri sidang cerai—sebuah gambaran nyata mengenai beratnya tekanan emosional dalam konflik rumah tangga. Pada Mei 2025, seorang wanita muda di Medan Sunggal ditemukan tewas setelah dua kali mencoba bunuh diri, menunjukkan adanya beban mental berat yang tidak tertangani. Kasus serupa muncul pada Oktober 2024 ketika seorang siswi sekolah penerbangan, Ade Nurul Fadilah (19), ditemukan meninggal dengan dugaan tekanan mental di lingkungan pendidikan. Pada Juli 2025, publik kembali dikejutkan oleh kasus Dedi Tarigan yang melompat dari flyover Jamin Ginting, sementara istrinya ditemukan di rumah dengan luka tusuk—sebuah peristiwa ekstrem yang menunjukkan akumulasi tekanan psikologis dan konflik rumah tangga. Bahkan pada 2024, sejumlah kasus kekerasan yang berujung upaya bunuh diri seperti di Medan Johor dan Deliserdang turut memperlihatkan dampak stres, beban ekonomi, dan dinamika keluarga yang kompleks di kota ini. Rangkaian peristiwa tersebut mempertegas bahwa kesehatan mental di Medan membutuhkan perhatian serius, baik dari sisi layanan maupun kesadaran masyarakat. Di tengah tingginya kasus, stigma kesehatan mental di Medan masih menjadi hambatan besar. Secara sosial, individu dengan gejala depresi atau kecemasan sering dianggap “lemah”, “kurang iman”, atau bahkan “gila”, sehingga mereka memilih menyembunyikan kondisinya. Pada tingkat keluarga, banyak yang menutupi anggota keluarga dengan gangguan mental karena takut dicap “gagal mendidik anak”. Stigma institusional juga terlihat dari minimnya layanan kesehatan mental yang ramah, terbatasnya perawat jiwa, serta jarangnya program konseling di fasilitas kesehatan dasar. Situasi nyata yang terjadi di masyarakat menunjukkan bahwa banyak pelajar yang mengalami perundungan tetapi tidak pernah mendapatkan intervensi profesional, atau ibu rumah tangga yang menahan beban emosional bertahun-tahun karena takut dianggap tidak mampu menghadapi masalah. Temuan ini sesuai dengan penelitian di Indonesia yang menunjukkan bahwa stigma sosial dan rendahnya literasi menjadi hambatan utama masyarakat untuk mencari bantuan. Faktor penyebab kuatnya stigma di Medan dipengaruhi oleh keberagaman budaya, rendahnya literasi, pengaruh media, serta kondisi ekonomi dan pendidikan. Banyak masyarakat masih memaknai gangguan mental sebagai akibat hal mistis, aib keluarga, atau kekurangan moral. Rendahnya pemahaman ilmiah membuat gejala seperti kecemasan dan depresi sering dianggap sebagai “kurang bersyukur” atau “tidak kuat menghadapi hidup”. Media massa yang kerap memberitakan ODGJ secara sensasional juga memperkuat stereotip negatif. Selain itu, keterbatasan akses pendidikan dan ekonomi di sejumlah wilayah menyebabkan masyarakat lebih mengandalkan interpretasi tradisional daripada layanan profesional. Semua faktor ini saling memperkuat dan membuat stigma sulit dihapuskan. Tingkat kesadaran kesehatan mental di Medan sebenarnya menunjukkan peningkatan, terutama di kalangan remaja dan mahasiswa. Studi pada mahasiswa UIN Sumatera Utara misalnya menunjukkan bahwa mereka lebih memahami gejala stres dan kecemasan serta lebih terbuka untuk berdiskusi tentang kesehatan mental. Namun peningkatan kesadaran ini belum sepenuhnya diikuti keberanian untuk mencari bantuan profesional. Konsultasi dengan psikolog masih dianggap tabu atau hanya perlu dilakukan untuk gangguan berat. Sementara itu, kelompok usia dewasa dan lansia cenderung memiliki sikap lebih tertutup karena pengaruh budaya dan nilai tradisional yang kuat. Stigma yang terus berlangsung memberikan dampak besar pada masyarakat. Banyak individu menolak atau menunda mencari pertolongan medis karena takut dicap negatif. Hal ini membuat kondisi psikologis memburuk dan berpotensi berkembang menjadi krisis yang lebih serius. Stigma juga menyebabkan isolasi sosial, diskriminasi, serta hilangnya kesempatan pendidikan dan pekerjaan. Dalam jangka panjang, beban ekonomi meningkat karena berkurangnya produktivitas dan bertambahnya biaya penanganan gangguan mental yang terlambat ditangani. Di sisi lain, meskipun telah ada sejumlah upaya pemerintah melalui puskesmas dan program komunitas, kapasitas layanan kesehatan mental di Medan masih jauh dari memadai. Banyak puskesmas tidak memiliki perawat jiwa, ruang konseling, atau program deteksi dini. Kegiatan edukasi kesehatan mental di kampus dan komunitas masih sporadis, tidak berkelanjutan, dan belum menjangkau wilayah pinggiran. Peran lembaga keagamaan belum optimal karena konseling pastoral belum terhubung dengan layanan profesional. Kampanye kesehatan mental di media sosial pun sering tidak akurat karena dibuat oleh pihak non-profesional. Melihat kondisi tersebut, diperlukan strategi komprehensif untuk meningkatkan layanan dan kesadaran kesehatan mental di Medan. Pertama, penguatan layanan primer di puskesmas menjadi sangat penting. Pelatihan perawat menggunakan instrumen skrining seperti PHQ-9, GAD-7, dan SRQ-20 dapat mempercepat deteksi dini. Klinik konseling keperawatan perlu disiapkan agar masyarakat bisa mendapatkan bantuan awal sebelum dirujuk ke psikolog atau psikiater. Home visit oleh perawat dan mahasiswa keperawatan dapat membantu memantau klien berisiko serta memberdayakan keluarga. Kedua, kader kesehatan dapat dilatih mengenali tanda awal gangguan mental dan melakukan edukasi. Ketiga, program literasi berbasis komunitas harus diperluas agar masyarakat mendapatkan pemahaman yang benar mengenai kesehatan mental. Keempat, kolaborasi antara kampus, puskesmas, dan tokoh masyarakat harus dilakukan melalui intervensi terencana selama 3–6 bulan dengan kegiatan skrining, edukasi, dan pendampingan. Kelima, peran lembaga keagamaan perlu diperkuat dengan pelatihan dasar tentang alur rujukan profesional agar konseling pastoral dapat mendukung proses penyembuhan. Selain itu, kampanye edukasi digital berbasis ilmu keperawatan perlu diperkuat agar informasi yang beredar akurat dan tidak menyesatkan. Dengan pendekatan kolaboratif, layanan yang lebih kuat, dan partisipasi aktif perawat maupun mahasiswa keperawatan, peningkatan kesehatan mental masyarakat Medan bukan hanya mungkin, tetapi juga dapat dicapai secara berkelanjutan. Upaya sistematis yang berjalan secara konsisten akan membantu memutus rantai stigma, meningkatkan literasi, serta memastikan bahwa masyarakat Medan mendapatkan dukungan psikologis yang mereka butuhkan.
Artikel ini merupakan publikasi tugas mata kuliah Pekerja Sosial Internasional dengan dosen pengampu Fajar Utama Ritonga, S.Sos., M.Kesos
Redaktur: Indira Rivany
Leave a comment