Oleh: Anastasyia Dwi T Sitinjak
Suara USU, Medan. Lagu 33x yang dirilis pada 11 Maret 2022, oleh Band asal Indonesia, Perunggu merupakan salah satu trek populer yang terdapat dalam album debut perdana mereka yang bertajuk “Memorandum”. Lagu ini diaransemen oleh Adam Adenan, Ildo Hasman, Maul Ibrahim.
Secara musikal, lagu 33x ini tidak mengejar dinamika yang terlalu naik turun, melainkan memilih untuk menjaga kestabilan suasana dari awal hingga akhir. Instrumen yang digunakan pun tidak berlapis-lapis secara berlebihan. Justru kesederhanaan itulah yang menjadi kekuatan utama, karena setiap elemen terdengar jelas dan memiliki peran masing-masing. Permainan gitar yang lembut menciptakan kesan teduh, sementara lapisan suara lainnya hadir sebagai pelengkap.
Selain itu, cara penyampaian vokal dalam lagu ini juga sederhana, tidak ada teknik vokal yang berlebihan, melainkan penekanan pada rasa dan penghayatan. Pendekatan ini membuat lagu 33x tidak hanya terdengar nyaman, tetapi juga mampu membangun relasi emosional yang kuat, seolah mengajak pendengar untuk ikut merenung dan memahami makna di balik setiap liriknya.
Secara filosofis, lagu ini bermakna tentang penyerahan diri, berserah, dan zikir yang merujuk pada hitungan zikir 33x.
Risalah terikatnya
Batin dan raga yang mengunci
Diatas Sang Maha Daya
Semua kendali terambil alih
Pada lirik pertama lagu tersebut , pendengar seolah diajak untuk memahami bahwa seluruh kehidupan manusia telah terikat dan berada di bawah kendali Tuhan Yang Maha Esa. Melalui diksi yang puitis, lirik ini menggambarkan bahwa manusia pada akhirnya tidak sepenuhnya memiliki kuasa atas hidupnya sendiri dan berserah pada takdir yang diberikan Sang Kuasa.
Jikalau kau keluhkan
Dengung sumbang yang mengganggu
Buka lagi visimu
Kau tahu mana urutan satu
Diantara pusaran nirfungsi
Petakan semua lagi
Titik tuju yang tlah terpatri
Pada bagian lirik berikutnya, Perunggu menyiratkan pesan pentingnya menentukan kembali tujuan serta prioritas hidup di tengah berbagai gangguan dan tekanan yang datang serta tidak terjebak dalam hal-hal yang membawa kehancuran.
Dari segi penulisan lirik, Perunggu menggunakan bahasa yang puitis, dan relevan sehingga pendengar dapat merasakan nuasa reflektif serta membuka ruang interpretasi yang luas bagi yang mendengarkan lagu ini.
Melamban bukanlah hal yang tabu
Kadang itu yang kau butuh
Bersandar hibahkan bebanmu
Rotasikan pandanganmu
Ambil sudut yang terbaru
Belum pernah kau coba
Lihat semua bukan dari matamu
Melalui lirik tersebut,Perunggu mempertegas pesan bahwa melamban bukanlah hal yang buruk ataupun memalukan. Setiap manusia memiliki prosesnya masing-masing dan tidak harus mengikuti tuntunan hidup yang serba cepat. Terkadang memang perlu untuk berhenti sejenak, menenangkan diri serta menyadari bahwa hidup bukanlah sebuah perlombaan, melainkan proses untuk menerima dan memahami diri sendiri.
Kelak kau kan mengingat
Yang membawamu kesini
Kami pernah disitu
Di posisimu
Helakan kesahmu
Lirik ini menjadi salah satu bagian yang paling emosional dan reflektf. Melalui penggalan lirik diatas, Perunggu menyampaikan pesan bahwa setiap proses dan pengalaman hidup pada akhirnya akan membawa pelajaran yang berharga bagi setiap orang di masa depan. Kalimat “kami pernah disitu diposisimu” bermakna bahwa perasaan gelisah, bingung serta lelah adalah hal yang pernah dialami setiap orang.
Sebutkanlah namaNya, resapilah jalanNya
Kelak kau mengingat, kau akan teringat
Terus berenang, lanjutlah mendaki
Pada bagian akhir lagu, Perunggu berhasil mengemas pesan religius dan refleksi kehidupan melalui lirik yang puitis tanpa terkesan menggurui. Frasa “terus berenang dan lanjutkan mendaki” seolah menggambarkan bahwa seberat apapun kehidupan yang kita jalani teruslah berjuang dan tetaplah untuk mengingat Sang Pencipta.
33x menjadi lagu yang tidak hanya nyaman didengar secara musikal, tetapi juga memiliki makna mendalam tentang kehidupan, kepasrahan, dan proses manusia dalam memahami dirinya sendiri. Melalui lirik yang puitis serta aransemen yang tenang, Perunggu berhasil menghadirkan karya yang mampu membangun kedekatan emosional serta menyentuh hati para pendengar. Lagu ini membuktikan bahwa musik bukan hanya perihal hiburan, tetapi juga mampu menjadi medium yang mengajak pendengarnya untuk berdamai dengan diri sendiri dan kembali mengingat Sang Pencipta.
Redaktur: Frianka Raya Sitanggang
Leave a comment