Oleh: Yasmine Putri Rianda/Danty Aura Salsabiil/Hafiza Azwa Ramadhan
Suara USU, Medan. Topik tumpahan minyak di laut sudah lama menjadi salah satu permasalahan yang dibicarakan di kancah internasional, salah satunya karena efek dari tumpahan minyak kerap mengakibatkan kerusakan yang signifikan terhadap ekosistem kelautan. Seperti pada kasus tumpahan minyak terparah di dunia yang terjadi di Teluk Persia, konon disebut sebagai Arabian Gulf War Oil Spill.
Pada tahun 1991, berkisar 11 juta barel atau setara dengan 1,3 juta meter kubik minyak tersebar di seluruh teluk persia. Penyebabnya masih simpang siur. Beberapa pihak menyatakan bahwa peristiwa itu disebabkan oleh Irak yang sengaja membuka katup terminal minyak untuk membuangnya ke laut, namun beberapa juga menyatakan bahwa hal tersebut terjadi karena adanya serangan udara oleh Amerika akibat pengeboman dengan tiga pesawat US F-117. Akibatnya, diperkirakan sebanyak 1 juta kubik sedimen minyak hingga 12 tahun setelah tumpahan tersebut menembus kedalaman 30 hingga 40 sentimeter. Terbilang kecil jika dilihat dari angka, namun pemulihan akibat peristiwa tersebut memungkinkan waktu hingga beberapa dekade (Michel, 2010).
Di Indonesia sendiri, salah satu kasus tumpahan minyak yang paling ramai dibicarakan adalah yang terjadi di Teluk Balikpapan. Pasalnya, kapal MV Ever Judger menjatuhkan jangkar yang menyeret dan memecahkan pipa milik Pertamina pada 31 Maret 2018 lalu tersebut menumpahkan sebanyak 5.000 liter minyak, mencemari perairan teluk Balikpapan, bahkan hingga menyebabkan kematian sebanyak 5 orang nelayan. Menyedihkannya lagi, gugatan yang diajukan oleh Koalisi Masyarakat Peduli Tumpahan Minyak (KOMPAK) ke Pengadilan Negeri Balik Papan dengan gugatan terhadap Gubernur Kalimantan Timur dan beberapa petinggi lainnya tersebut, ditolak pada September 2020 walaupun sempat dikabulkan sebagai petitum penggugat pada 18 Agustus 2020 (Arwadi, 2022).
Lebih dekat lagi, kasus tumpahan minyak juga terjadi di PPS Belawan. Sebanyak 8 ton produk minyak kelapa sawit (CPO) tumpah pada tanggal 15 April 2023. Walaupun penanganan terkait kasus tumpahan minyak di Belawan ini terbilang cepat, dampak ekologis di perairan tidak bisa dipungkiri. Tidak hanya biota yang terancam kelangsungan hidupnya, namun hutan mangrove yang kerap menjadi barrier antara pesisir dan pantai juga terancam rusak akibat efek jangka panjang dari tumpahan minyak (Mutmainah, 2020).
“Sudah sering terjadi tumpahan minyak di sini (Belawan), biasanya dari nelayan dengan kapal sederhana karena tidak diperhatikan juga (kondisi kapalnya). Memang menimbulkan efek terhadap perairan, sudah pernah ada sosialisasi juga, tapi memang susah.” (Hasil wawancara tim dengan nelayan setempat, Sumanto, Rabu, 02/09/2024).
Sumanto juga mengatakan, efek tumpahan minyak baik dalam skala besar ataupun kecil sangat mengganggu kegiatan budidaya perikanan di sekitar perairan Belawan. Pasalnya, hal ini tidak hanya mempengaruhi ikan yang berada di keramba jaring apung, namun juga dapat merusak peralatan nelayan karena sudah tercemar sehingga tidak dapat lagi digunakan.
Berdasarkan jurnal riset penelitian Hertika dan Putra tahun 2019. Uji laboratorium juga menunjukkan adanya perubahan pola reproduksi dan tingkah laku organisme akibat konsentrasi zat asing seperti minyak di dalam air, sehingga organisme seperti krustasea mengalami gangguan dalam kemampuannya mencari makan dan melakukan reproduksi. Selain itu, tumpahan minyak sebagai toksikan yang mencemari perairan secara langsung berkontribusi dalam gangguan yang terjadi di ekosistem, di mana lapisan yang terbentuk akibat tumpahan minyak menghalangi pertukaran gas dari atmosfer dan mengurangi kadar oksigen di dalam air karena berkurangnya kemampuan organisme fitoplankton melakukan fotosintesis (Darza, 2020).
Lebih parahnya lagi, minyak yang terbawa arus apabila tidak segera ditangani secara langsung akan mengendap di perairan pesisir dan menyebabkan berkurangnya kesuburan ekosistem dasar perairan dan kawasan mangrove, sehingga mangrove yang tadinya memiliki banyak peran mulai dari nursery ground, feeding ground, hingga perannya dalam menahan ombak akan terhalangi. Akarnya yang menyerap serta menyalurkan nutrisi dan oksigen juga akan tertutup, sehingga menghalangi fungsi yang sebenarnya.
Langkah penanggulangan tumpahan minyak di laut dimulai dari penanganan dengan melokalisasi tumpahan minyak menggunakan pelampung pembatas (oil booms), yang kemudian ditransfer menggunakan perangkat pemompa (oil skimmers) menuju sebuah fasilitas penerima (reservoir), baik dalam bentuk tangki maupun balon. Dalam metode in-situ burning, pembakaran dilakukan agar mengatasi kesulitan pemompaan minyak dari permukaan laut dengan menggunakan alat booms sebagai pembatas yang tahan api. Namun, di sisi lain, residu pembakaran yang tenggelam di dasar laut juga akan memberikan efek buruk bagi ekologi apabila pembakaran tidak terkontrol (Pamungkas et al., 2018).
Meskipun begitu, sejatinya, diperlukan kesadaran masyarakat dalam menangani kasus tumpahan minyak, adanya penyuluhan mengenai bahaya tumpahan minyak dan bagaimana solusi mengatasinya, serta perubahan regulasi hukum yang seharusnya memastikan bahwa pelaku tumpahan minyak harus diberikan konsekuensi yang setimpal atas perbuatannya terhadap lingkungan.
Mikrofiltrasi adalah salah satu teknologi penyaringan yang digunakan untuk mengatasi limbah perairan dengan memisahkan partikel-partikel kecil, termasuk mikroorganisme, dari cairan. Alat mikrofiltrasi menggunakan membran dengan ukuran pori berkisar antara 0,1 hingga 10 mikron, sehingga mampu menyaring partikel seperti lumpur, bakteri, dan sedimen tanpa menghilangkan mineral yang larut. Proses ini biasanya dilakukan dengan tekanan rendah, sehingga menjadi pilihan yang efisien dan hemat energi dalam pengolahan air limbah. Mikrofiltrasi sering digunakan sebagai tahap awal sebelum proses pengolahan lanjutan seperti ultrafiltrasi, osmosis balik, atau desinfeksi (Rukmana, 2015).
Keunggulan utama alat mikrofiltrasi adalah kemampuannya menghasilkan air yang jernih dan aman secara konsisten. Teknologi ini banyak diterapkan dalam industri seperti pengolahan air minum, pabrik makanan dan minuman, serta pengolahan limbah domestik dan industri. Dalam pengelolaan limbah, mikrofiltrasi membantu mengurangi beban polutan organik dan mikrobiologis, sehingga menurunkan risiko pencemaran lingkungan. Dengan efisiensinya yang tinggi dan minimnya kebutuhan bahan kimia, mikrofiltrasi menjadi solusi ramah lingkungan untuk mendukung pengelolaan air limbah berkelanjutan (Sefentry, 2020).
Mikrofiltrasi adalah metode penyaringan menggunakan membran dengan ukuran pori kecil (biasanya 0,1-10 mikron) untuk memisahkan partikel, mikroorganisme, dan kotoran dari cairan. Berikut adalah panduan untuk membuat alat mikrofiltrasi sederhana.
Alat dan bahan:
1. Tabung atau wadah utama, dapat berupa pipa PVC atau botol plastik besar sebagai tabung penampung.
2. Membran filter seperti kain mikrofiber, kertas filter, atau membran mikrofiltrasi komersial.
3. Lapisan pendukung yakni spons, kapas, atau pasir halus untuk menjaga kestabilan filter.
4. Pompa manual atau gravitasi seperti pompa tangan kecil atau hanya memanfaatkan gravitasi.
5. Selang untuk menghubungkan input dan output air.
6. Penutup kedap udara untuk menjaga tekanan dan aliran.
7. Perekat atau sealant berupa lem tahan air seperti sealant silikon atau perekat PVC.
Langkah Pembuatan
1. Siapkan tabung filter pipa PVC, potong dengan panjang 30-50 cm.
2. Pasang membran filter dengan meletakkan membran di bagian dasar tabung atau wadah. Kemudian tambahkan lapisan pendukung seperti kapas atau spons di bawah membran untuk menahan tekanan air.
3. Pasang sistem input dan output dengan membuat lubang di bagian atas untuk input air dan di bagian bawah untuk output. Pasang selang pada kedua lubang tersebut, pastikan menggunakan sealant agar tidak bocor.
4. Uji alat dengan memasukkan air ke dalam alat. Periksa apakah membran menyaring air dengan baik dan tidak ada kebocoran.
Mikrofiltrasi untuk air limbah yang mengandung PAH merupakan cara baru yang menjanjikan. Dengan meningkatnya polusi badan air serta meningkatnya kompleksitas terkait penghilangan PAH dari air, alat filtrasi dapat menjadi solusi yang hemat biaya, ringkas, dan efisien waktu. Sehingga solusi ini dapat lebih efektif dan memberikan efek samping lebih kecil dibandingkan pembakaran limbah di laut.
Maka, disarankan kepada masyarakat nelayan untuk mulai menggunakan alat ini dalam pengelolaan air limbah dan pencegahan pencemaran air yang berakibat fatal terhadap lingkungan perairan.
Artikel ini adalah publikasi tugas Pekerja Sosial dengan Dosen Pengampu Fajar Utama Ritonga S.Sos., M.Kesos.
Redaktur: Khalda Mahirah Panggabean
Leave a comment