Home Buku Broken Strings dan Representasi Child Grooming
Buku

Broken Strings dan Representasi Child Grooming

Share

Oleh: Dinda Sari

Suara USU, Medan. Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans menjadi perhatian pembaca muda di Indonesia. Selain gaya tutur yang emosional, karya ini mengangkat isu yang jarang dibahas secara eksplisit dalam kebanyakan karya yang ada, yakni child grooming. Istilah tersebut mengacu pada sebuah relasi timpang antara orang dewasa dan anak yang dibangun melalui kedekatan emosional serta ketergantungan psikologis.

Berbeda dari anggapan sebagian pembaca yang menyebutnya sebagai novel, Broken Strings merupakan buku bergenre memoar yang merangkum pengalaman personal dan refleksi emosional penulis saat masih berusia remaja. Buku ini dirilis secara digital pada 10 Oktober 2025 dan dibagikan secara gratis melalui media sosial. Setelah perilisan daring, Broken Strings menjadi viral pada awal 2026 dan memicu diskusi publik mengenai child grooming, manipulasi emosional, serta kesehatan mental remaja. Tingginya minat pembaca mendorong penerbit Ohara Books merencanakan perilisan versi cetak setelah edisi digitalnya mendapat atensi luas.

Dalam buku tersebut, pembaca diajak mengikuti proses tumbuh kembang seorang anak yang berusaha memahami pengalaman masa kecilnya. Representasi ini mendorong pembaca untuk meninjau ulang dinamika relasi yang kerap disalahartikan sebagai bentuk perhatian, padahal berakar pada manipulasi dan ketimpangan kuasa. Alih-alih menghadirkan kisah romansa remaja, Broken Strings justru memunculkan pertanyaan moral mengenai batas kasih sayang, kontrol, serta dampak psikologis yang berlanjut hingga masa dewasa.

Metafora yang dihadirkan dalam Broken Strings beresonansi dengan realitas sosial. Mengutip tayangan Kompas TV, psikolog dan grafolog Joice Manurung menjelaskan, bahwa child grooming merupakan proses bertahap yang mengandalkan manipulasi psikologis. Menurutnya, pelaku membangun relasi yang tampak aman dan penuh perhatian untuk memperoleh kepercayaan anak maupun lingkungannya. “Ketika kepercayaan sudah terbentuk, pelaku dapat mengatur dinamika relasi dan mengendalikan emosi anak. Di titik itu, anak dapat salah menafsirkan perhatian manipulatif sebagai bentuk kasih sayang,” ungkap Joice (Sumber: YouTube Kompas TV, 17/01/2026).

Fenomena child grooming tidak terjadi dalam ruang hampa. Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA) Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) mencatat, terdapat 28.831 kasus kekerasan terhadap anak sepanjang 2024, meliputi kekerasan fisik, psikis, seksual, eksploitasi, perdagangan orang, dan penelantaran. Sementara itu, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam Laporan Akhir Tahun 2025 mencatat 2.031 pelanggaran hak anak dengan total 2.063 korban. Di tingkat global, UNICEF Indonesia juga melaporkan meningkatnya eksploitasi anak di ruang digital, dengan banyak kasus yang tidak dilaporkan akibat stigma dan rasa takut.

Di lingkungan kampus, karya seperti Broken Strings memantik diskusi mengenai peran literasi dalam membaca ulang relasi kuasa dan persoalan sosial. Karya tulis semacam ini dinilai dapat menjadi ruang aman untuk memahami isu sensitif, termasuk kekerasan terhadap anak, tanpa mengekspos korban secara langsung maupun memicu pengulangan trauma.

Respons pembaca menunjukkan bahwa karya populer tidak selalu berhenti pada fungsi hiburan. Broken Strings membuka ruang refleksi moral tentang kekuasaan, relasi, serta keberanian penyintas untuk bersuara. Dalam konteks literasi kampus, karya ini memperlihatkan bahwa sebuah karya tulis mampu berperan sebagai medium edukasi, pemantik diskusi, sekaligus sarana membangun kepekaan sosial.

Pada akhirnya, fiksi tidak hanya hadir sebagai hiburan. Melalui Broken Strings, fiksi menjadi pintu untuk memahami realitas yang kerap luput dibicarakan secara terang-terangan, sekaligus mengajak pembaca menumbuhkan kesadaran dan empati terhadap isu perlindungan anak.

Redaktur: Merry Agnus Dei Gultom

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.