Home Opini Budaya Membaca Singkat menjadi Ancaman Serius bagi Literasi Digital Indonesia
Opini

Budaya Membaca Singkat menjadi Ancaman Serius bagi Literasi Digital Indonesia

Share
Sumber: Netralnews.com

Oleh: Lucy Kezia Simarmata

Suara USU, Medan. Perubahan cara masyarakat Indonesia mengonsumsi informasi di era digital memang tak bisa dipungkiri. Jika dulu membaca koran atau majalah membutuhkan waktu yang tidak singkat, kini mayoritas orang lebih senang sekadar melihat judul, ringkasan, atau menonton video satu menit di media sosial. Sepintas hal ini tampak efisien, namun fenomena ini justru menyimpan ancaman serius terhadap kualitas literasi, daya pikir kritis, bahkan masa depan demokrasi bangsa. Budaya membaca singkat sering dianggap solusi praktis bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi. Data terbaru menunjukkan rata-rata waktu orang Indonesia membaca berita online melalui ponsel hanya sekitar 1 menit 20 detik, sedangkan di desktop sekitar 3 menit 25 detik. Angka ini jelas menandakan bahwa mayoritas pembaca tidak bertahan lama, bahkan cenderung hanya membaca sepintas sebelum beralih ke konten berikutnya. Pertanyaan pentingnya: bagaimana mungkin pemahaman mendalam bisa tercapai dengan durasi sesingkat itu? Membaca sejatinya bukan sekadar aktivitas mengenali huruf, melainkan proses membangun pemahaman, menganalisis informasi, serta menimbang kebenaran. Ketika bacaan diperlakukan hanya sebagai hiburan instan, pemahaman komprehensif terabaikan. Akibatnya, informasi yang seharusnya dipahami secara utuh direduksi menjadi potongan dangkal yang rawan menyesatkan.

Situasi semakin kompleks karena media sosial kini menjadi pintu utama masyarakat dalam mengakses berita. Laporan Reuters Institute Digital News Report 2025 mencatat 57 persen masyarakat Indonesia mendapatkan berita dari media sosial, dengan 40 persen di antaranya menjadikannya sumber utama. TikTok, yang awalnya hanya dikenal sebagai aplikasi hiburan, kini menjadi saluran berita dengan pertumbuhan tercepat: dari 11 persen pengguna pada 2021 melonjak hingga 34 persen pada 2025. Namun perlu diingat, algoritma media sosial tidak dirancang untuk mendidik, melainkan untuk menarik perhatian. Konten yang viral lebih diprioritaskan dibanding konten yang akurat. Tidak heran jika hoaks dan misinformasi kerap lebih cepat menyebar dibanding fakta. Masyarakat yang terbiasa membaca singkat, tanpa verifikasi lebih lanjut, akhirnya rentan terjebak dalam arus informasi keliru.

Fenomena membaca singkat juga berdampak langsung pada konsentrasi. Berbagai penelitian psikologi kognitif menyebutkan bahwa semakin sering seseorang mengonsumsi konten instan, semakin pendek pula rentang perhatiannya. Riset Ipsos pada 2023 menunjukkan masyarakat Indonesia rata-rata menonton video pendek selama 2,1 jam per hari. Pada awal 2025, jumlah pengguna TikTok di Indonesia mencapai lebih dari 100 juta orang, dengan durasi rata-rata 45 jam per bulan. Angka ini menggambarkan betapa besar waktu yang dikorbankan untuk konten ringan, yang meski menghibur, jarang memberi pemahaman mendalam. Dulu, membaca koran atau buku melatih kesabaran dan konsentrasi. Kini, kebiasaan melompat-lompat dari satu konten ke konten lain dalam hitungan detik justru melatih otak untuk terbiasa pada distraksi. Akibatnya, banyak orang kesulitan menyelesaikan bacaan panjang, padahal kedalaman analisis hanya bisa diperoleh melalui kesabaran intelektual.

Literasi kritis adalah kemampuan menganalisis, mengevaluasi, dan memahami informasi secara menyeluruh. Sayangnya, budaya membaca singkat membuat literasi kritis tergantikan oleh konsumsi instan. Hal ini berbahaya bagi kehidupan demokrasi. Demokrasi yang sehat membutuhkan warga negara yang mampu membaca data secara utuh, memahami konteks, dan menyaring informasi dengan nalar. Fakta di lapangan menunjukkan banyak perdebatan publik di media sosial hanya berputar pada pengulangan judul atau potongan video viral. Argumen dangkal semacam ini sangat mudah dimanipulasi oleh pihak-pihak yang lihai memainkan narasi. Akibatnya, opini publik kerap terbentuk bukan dari pemahaman, melainkan dari potongan sensasi yang belum tentu benar.

Tekanan budaya baca singkat juga dirasakan industri media. Banyak media online kini lebih fokus mengejar klik dan viralitas dibandingkan menyajikan laporan mendalam. Judul bombastis, paragraf super pendek, dan artikel ringan menjadi strategi utama. Kritik publik pun kerap muncul, bahkan ada yang menyindir bahwa paragraf berita kini sering kali hanya satu kalimat, sementara sepertiga isi artikel tidak memberikan nilai tambah berarti. Jika tren ini dibiarkan, kualitas jurnalistik akan semakin tergerus. Padahal, fungsi utama media bukan sekadar memberi hiburan instan, melainkan mendidik publik dengan informasi yang akurat dan utuh.

Fenomena membaca singkat-singkat tidak boleh dianggap normal, apalagi dirayakan. Konten ringkas memang bisa menjadi pintu masuk, tetapi bukan tujuan akhir. Media massa harus berani mendorong pembacanya untuk menggali lebih dalam. Demikian juga dunia pendidikan harus menanamkan kesadaran literasi digital sejak dini, agar generasi muda terbiasa membedakan antara sekadar informasi sekilas dengan pengetahuan yang utuh. Bangsa yang besar tidak bisa berdiri di atas budaya “cukup tahu sekilas.” Demokrasi tidak mungkin dipelihara dengan headline satu kalimat atau video enam puluh detik. Kita membutuhkan warga negara yang mau membaca tuntas, memeriksa data, dan berpikir kritis. Karena hanya dengan kedalaman pemahaman, kita bisa menjaga arah masa depan bangsa.

Sobat SU, mari kita mulai perubahan kecil dari diri sendiri. Biasakan membaca lebih dari sekadar judul, telusuri isi berita hingga tuntas, dan beranilah mempertanyakan data sebelum menyebarkannya. Dengan membangun budaya baca yang mendalam, kita tidak hanya melatih pikiran kritis, tetapi juga menjaga kualitas demokrasi di negeri ini.

Redaktur: Yulia Tarigan

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.