Oleh: Nejla Assyifa Munthe
Suara USU, Medan. Film Bumi Manusia mengangkat kisah cinta yang penuh konflik di tengah struktur sosial kolonial yang timpang. Adaptasi dari novel legendaris karya Pramoedya Ananta Toer ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo dan diproduksi oleh Falcon Pictures. Dirilis secara nasional pada 15 Agustus 2019, film berdurasi 181 menit ini berhasil meraih sekitar 1,3 juta penonton selama masa tayang bioskopnya, menjadikannya salah satu film Indonesia terlaris pada tahun 2019.
Di awal abad ke-20, film ini menceritakan tentang Minke, seorang pribumi yang merupakan anak seorang bupati dan mendapatkan pendidikan di Hoogere Burgerschool (HBS), lembaga pendidikan yang didominasi oleh siswa Eropa dan elit lokal. Keberadaannya di lingkungan ini memperlihatkan ketimpangan sosial yang tajam antara bangsa kolonial dan pribumi. Dalam perjalanan itulah, Minke bertemu dengan Annelies Mellema, gadis berketurunan Indo-Belanda yang merupakan putri dari seorang Nyai bernama Nyai Ontosoroh.
Seiring intensitas pertemuan mereka meningkat, benih cinta tumbuh di antara Minke dan Annelies. Namun, hubungan itu tidak tanpa tantangan. Ayah Minke menentang hubungan mereka karena Annelies lahir dari seorang Nyai, wanita pribumi yang dipandang sebagai gundik oleh masyarakat kolonial dan tidak diakui secara sah. Sementara itu, ayah biologis Annelies yang berdarah Belanda menganggap Minke tidak pantas berada di sisi putrinya karena status sosial dan rasnya sebagai pribumi.
Konflik inilah yang mencerminkan realitas sosial budaya masa kolonial yang sangat kaku. Film ini menampilkan secara gamblang bagaimana keturunan Belanda yang sering dipandang sebagai “tuan putih” serta kaum Nyai terjebak dalam sistem patriarki yang menempatkan perempuan pada posisi rentan dan rendah sepanjang hidup mereka. Posisi Nyai yang dianggap inferior bukan hanya jadi simbol ketidakadilan gender, tetapi juga merupakan bagian dari ketimpangan sosial dan diskriminasi rasial yang dialami masyarakat pribumi.
“Bumi Manusia” tidak hanya memfokuskan pada romansa semata, tetapi juga menggambarkan perjuangan emansipasi perempuan dan pembebasan dari belenggu sistem feodal. Tokoh Annelies menjadi representasi perempuan yang ingin menentukan nasibnya sendiri, termasuk dalam persoalan cinta yang melintasi batas-batas budaya dan identitas. Film ini secara halus namun tegas menggambarkan ketidakadilan gender yang dialami perempuan, terutama mereka yang dipandang rendah oleh struktur sosial kolonial.
Salah satu adegan penting yang menggambarkan benturan budaya dan perbedaan identitas terjadi saat pertemuan pertama Minke dan Annelies. Dialog singkat ini menjadi dasar emosional bagi perjalanan cinta mereka:
Annelies: Annelies Mellema.
Minke: Minke.
Annelies: Minke saja?
Minke: Aku pribumi.
Annelies: Kenapa dengan pribumi? Ibuku pribumi, Jowo! Duduklah, ayo duduk.
Dialog ini secara singkat namun kuat menempatkan perbedaan budaya sebagai fondasi konflik yang kemudian berkembang di sepanjang cerita film.
Selain itu, Bumi Manusia tetap relevan sampai sekarang karena novel aslinya sempat dilarang beredar pada masa Orde Baru, namun kemudian menjadi salah satu karya literatur Indonesia yang diakui secara global dan diterjemahkan ke berbagai bahasa. Cerita ini tidak hanya tentang cinta, tetapi juga tentang perlawanan ideologis terhadap struktur sosial yang mengekang.
Film ini kemudian menjadi media pembelajaran sejarah budaya dan sosial, yang mengajak penonton memahami bahwa budaya seharusnya tidak menjadi penghalang kebebasan dan kemajuan, melainkan menjadi jembatan menuju kehidupan yang lebih adil, aman, dan bermartabat. Melalui narasinya, Bumi Manusia menyerukan pentingnya menghormati hak setiap manusia tanpa dibatasi oleh ras, warna kulit, suku bangsa, maupun status sosial.
Sejalan dengan perjalanan karya ini, penggarapan Bumi Manusia tidak berhenti setelah perilisan film. Untuk memperingati 100 tahun kelahiran Pramoedya Ananta Toer, versi extended film ini direncanakan akan ditayangkan di platform streaming dengan durasi mencapai 5–6 jam, sehingga memungkinkan penonton menikmati cerita secara lebih utuh seperti yang tertuang dalam novel asli. Buat Sobat Suara USU yang penasaran bagaimana cinta Minke dan Annelies diuji oleh sekat ras, kelas, dan budaya, kamu bisa menyaksikan kisah mereka lewat film Bumi Manusia di platform streaming favoritmu.
Redaktur: Jesika Yusnita Laoly
Leave a comment